
"Hm... begini, kami itu ingin mengajak kerja sama dengan Anda, kami akan memproduksi barang dan Anda menjualkannya, masalah untung, berhubungan bahannya dari kami dan pengerjaannya kami, jadi persentasenya 80%:20%, bagaimana menurut Anda," ucap pria itu meminta pendapat Sultan.
"Anda ini lucu ya, kalau mau ngajak kerja sama yang seriuslah, ini namanya main-main," ucap Sultan tak suka.
"Main-main bagaimana maksud Anda? Kami datang dengan niat serius," ucap pria itu.
"Emangnya yang jualan aku sendiri, aku nggak butuh karyawan untuk di gaji dengan keuntungan 20% itu, kau jika ingin mengajak kerja sama pikirkan dulu mateng-mateng, aku tidak suka ada orang yang ngajak kerja sama, tapi memilih mementingkan diri sendiri, lebih baik kalian pergi, aku tidak mau melihatmu lagi," ucap Sultan mengusir mereka pergi.
"Dasar sombong, memangnya perusahaanmu saja yang ada di dunia ini," ujar pria itu berdiri lalu pergi.
"Kalau kau mau untung sebanyak itu kenapa nggak jual sendiri saja, perusahaan besar bodoh mana nanti yang akan menerimamu, perusahaan kecil yang akan terima itu pun mereka karena terpaksa," ucap Sultan.
Mereka langsung masuk mobil dengan kesal.
"Sultan, apa yang kamu lakukan?" tanya Qayla.
"Kamu tau mereka sebenarnya bukan mengajak kerja sama," ucap Sultan.
__ADS_1
"Lalu apa yang mereka inginkan?" tanya Qayla penasaran.
"Mereka memang ingin memasukkan barang, tapi bukan itu sesungguhnya, setelah penanda tanganan kontrak kerja sama otomatis siapa yang terlebih dahulu memutuskan kontrak maka akan pinalti dan kena uang ganti rugi, dan mereka hanya memasukkan barang palsu atau barang yang sudah rusak, nah nanti kita yang kena, tentu saja kita duluan yang minta putus kontrak," jelas Sultan.
"Oh gitu ya, kamu kok hebat banget, bisa tahu," ucap Qayla kagum.
"Tentu saja, tadi aku melihat barangnya di dalam mobil, jika kita jadi kerja samanya, mereka akan memperlihat barangnya tapi tentu saja barang yang masih bagus dan ori, lihat saja nanti setelah beberapa minggu kemudian, mereka pasti bertingkah dan mengatakan kerusakan itu dari kita," jelas Sultan lagi.
"Hm... begitu ya, mereka licik banget," ucap Qayla.
"Lain kali kamu harus hati-hati ya, mereka kadang hanya mengajak bekerja sama itu hanya pura-pura saja, kalau ada yang seperti ini lagi, amati ya," saran Sultan.
"Bukan aku, tapi kita, kita yang bersama-sama membangun perusahaan ini, jadi ini milik kita," ucap Sultan.
"Makasih ya Sultan susah mempercayaiku lagi," ucap Qayla tersenyum.
"Kapan aku tidak percaya padamu, aku terus mempercayaimu kok," ucap Sultan membuat pipi Qayla merona.
__ADS_1
"Ihk... mulai gombalnya," ucap Qayla memcubit pinggang Sultan dan Sultan tertawa.
"Oh iya, ibu Michela masuk rumah sakit," ucap Sultan memberi tahu.
"Oh ya? Di mana?" tanya Qayla penasaran.
"Di tempat kemaren, tempat Michela di bawa," jawab Sultan.
"Dia pasti sangat sedih karena sudah kehilangan anaknya," ucap Qayla ikut sedih
"Bukan hanya kehilangan anaknya, tapi juga kehilangan suaminya di bunuh di depan matanya," jawab Sultan.
"Apa! Kamu yang bunuh ya?" tebak Qayla.
"Bukan aku, tapi musuhnya ayah Michela, balas dendam karena ayahnya di bunuh dan di khianati oleh ayah michela dan adiknya," ucap Sultan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih