System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 97


__ADS_3

xxx


Ke esokan harinya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Sultan, Tedi udah dateng," ujar ibunya mengetuk pintu Sultan.


"Iya, bentar lagi, aku masih ngantuk," jawab Sultan.


Buuk!


Tedi mendarat di atas tubuh Sultan. "Anjiirrr... sakit longor!" Ucap Sultan mengumpat.


"Oh ya Ibu hari ini keperusahaan kan? Apa supirnya belum datang juga?" Tanya Sultan kepada ibunya.


"Belum nih," jawab Ibu yang sudah bersiap-siap.


"Ya udah aku telpon sekretarisku dulu," ucap Sultan mengambil ponselnya dan segera menelpon sekretaris.


Tuuut..


Tuuut...


Tuuut...


"Halo Tuan Ceo, ada yang bisa saya bantu?" Ucap sekretaris itu sopan.


"Sangat butuh bantuan, mana yang saya bilang kiriman sopirnya, nggak juga sampai-sampai di rumah sampai ibu saya berkarat dan kerumini lalat, jika tidak sampai sekarang juga saya pecat kalian semua!" Teriak Sultan marah.


"Hadeeeerr!" Terdengar suara pria sangat kencang di depan rumah.


"Siapa Bu?" Tanya Sultan kepada ibunya.


"Itu supirnya mungkin," jawab ibu.


"Oh sudah datang, cepat sekali sampainya," ujar Sultan meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ya udah Ibu pergi dulu ya Sultan," pamit ibu.


"Iya hati-hati, bilang sama supirnya jangan sering-sering melirik ibu nanti jatuh cinta," pesan Sultan.


"Kamu ini gimana sih, ya nggak lah," ucap ibu kemudian melangkahkan kakinya masuk mobil, sejak Sultan kaya ibu Sultan juga jadi wanita tua yang modis, memakai heels dengan selendang di sangkutkan kedua tangannya beserta tas mungil cantik di tangan kirinya.


"Sultan tempat tidurmu empuk banget, sini peluk aku, biar kita saling menghangatkan tubuh," ucap Tedi meletakkan kakinya ke tubuh Sultan.


"Sialan lu! Kaki mu bau sekali," ucap Sultan menutup hidungnya.


"Ehem... apa yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya sekretarisnya lagi, terdengar dari suaranya ia sangat jijik. "Apa dia memdengar pembicaraan Tedi tadi, apa dia berfikir jika aku gay?" Batin Sultan.


"Ya sangat butuh bantuanmu, mati kan telponnya sekaranggggggggg!" Teriak Sultan marah.


Tut

__ADS_1


Tut


Tut


Panggilan di matikan.


"Sialan lu? Tuh lihat sekretariaku jadi berpikir aneh-aneh gara-gara ucapan menjijikanmu tadi, padahal kakimu yang bau itu kau letakkan di hidungku," ujar Sultan kesal. Tedi hanya mencibir, setitik pun ia tak merasa tersinggung, malah ia menganggapnya lelucon. Tedi kembali baring dan memeluk bantal.


Dengan jailnya Sultan menarik kaki Tedi dan melemparnya di depan pintu.


"Brengsek! Teman nggak ada akhlak lu! Kalo ada kesempatan aku cabut anumu," ujar Tedi kesakitan.


"Tuh aku bales dendam, gara-gara kamu mau menyiramku dengan air karena aku pura-pura pingsan, ngapain kamu mau menyiramku?" Tanya Sultan sebel.


"Aku tuh berbaik hati biar Qayla nggak panik," jawab Tedi berdiri dan kembali baring di atas kasur.


"Justru itu, kalo dia panik berarti dia suka sama aku, bukan kayak kamu, nyari yang cantik malah ketemu terong," ejek Sultan cekikikan.


"Bangsat! Sana mandi kamu, sepertinya nyawamu belum ngumpul semua ngelantur aja dari tadi," ucap Tedi melempar bantal ke arah Sultan. Sultan menangkapnya kemudian melempar balik ke arah Tedi.


Sultan pun mengambil handuk dan masuk kamar mandi.


"Eh ini kalung Sultan kok aku pernah melihatnya di mana ya? Aku yakin juga melihatnya pada seseorang," ucap Tedi memegang kalung Sultan yang berwarna coklat.


"Hey ngapain kamu pegang-pegang kalungku?" Tanya Sultan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Sultan, kamu dapat kalung ini dari mana?" Tanya Tedi penasaran.


"Oh itu aku di kasih ibu-ibu karena aku waktu itu karena pernah menolongnya," jawab Sultan.


"Tapi Sultan, aku kalo nggak salah lihat ada juga orang memakai kalung ini, mungkin aku pikir kalungmu ini jual pasaran, tapi jika di lihat lagi yang memakainya dia bukan orang biasa," ujar Tedi.


"Tidak ingat," jawab Tedi. Membuat Sultan seperti di tiban durian.


"Eh, nggak usah ngomonglah kau," jawab Sultan sebel.


"Udah cepatlah, kita berangkat sekarang," gantian Tedi yang sebel karena melihat Sultan memakai pelembab wajah lamanya seperti perempuan.


"Bentarlah dulu," ujar Sultan. Tedi mendekat kemudian mencoba pelembab wajah Sultan.


"Wah, wajahku jadi lembut banget," udah cepat berangkat sekarang," ajak Sultan menarik tangan Tedi.


Mereka pun berangkat ke kampus.


Ting ting


Misi level D


Perampokan di mini market di jalan


Hadiah 40 poin


Hadiah 40.000.000


"Masih saja ada pencuri," ujar Sultan. Sultan pun melajukan mobilnya menyaingin mobil Tedi lalu membunyikan klakson mobilnya.


"Ada apa?" Teriak Tedi dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ke mini market," jawab Sultan.


"Di mana?" Tanya Tedi lagi.


"Ikut aku aja," ujar Sultan melajukan mobilnya ke depan mobil Tedi memandu jalan.


Sesampainya di sana seorang pria dengan bom di bajunya sambil memegang beberapa kotak susu bayi dan bahan sembako lainnya.


"Kalian jangan mendekat, jika berani mendekat aku akan meledekakkan bom ini, biar kita mati di sini, jika tak mau mati bersama biarkan aku lewat," ancam pria itu.


Sultan melihat barang yang di ambil bapak tersebut sepertinya ia tak punya uang untuk membeli susu anaknya dan kebutuhan pokok lainnya.


Karena Sultan malas berlama-lama di sana ia pun membayar belanjaan bapak tersebut.


"Berapa semua belanjaan bapak itu," ucap Sultan kepada karyawan mini market tersebut.


"Nggak tau, semuanya barang ada di tangannya," ucap karyawan itu menggeleng kepala.


"Sini belanjaannya, biar aku bayar," ujar Sultan melambaikan tangannya ke arah bapak tersebut.


Bapak itu awalnya takut-takut lalu namun ia terpaksa memberanikan diri mendekati Sultan.


"Udah, letakkan belanjaandi sini, biar di totalkan," ucap Sultan.


Bapak itu pun meletakkan belanjaannya di atas dan kemudian di totalkan oleh karyawan tersebut.


"Semuanya 700.000," ujar karyawan tersebut.


Sultan mengeluarkan uang tersebut dan membayarnya. "Nih uang untuk bapak," ujar Sultan meletakkan uang sekitar 3.000.000 di tangan bapak tersebut.


Mata bapak tersebut terbelalak tan menyangka. "Terima kasih anak muda, terima kasih banyak, kamu anak yang baik, saya doakan semoga kamu kaya raya dan bisa bantu orang susah seperti saya," ujarnya sambil menangis.


"Iya sama-sama, tapi lepaskan dulu bom di bajunya, kalo meledak uang itu juga tak berguna lagi," pesan Sultan dengan wajah datarnya.


"Hehehe... tidak apa-apa, ini hanya bom palsu," ucapnya tersenyum malu.


"Anjirrr!"


Buuk!


xxx


Sultan dan Tedi pun kembali menuju kampusnya.


Ting ting


misi selesai.


Anda mendapatkan 40 poin


Poin Anda menjadi 130 poin


Selamat Anda mendapatkan hadiah 40.000.000


Hadiah Anda menjadi 110.000.000


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH


__ADS_2