System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 114


__ADS_3

Ke esokan paginya.


Sultan bangun dan melihat ponselnya, ternyata ada berita baru, seorang pria nomor satu di kota J di bawa ke rumah sakit dengan kaki tanpa tulang, ia sekarang dalam keadaan kritis, di duga pelakunya adalah orang dedam dengannya dan membalasnya dengan curang, pasien di nyatakan koma.


"Heh! Dia nggak berani mengungkap identitasku," ujar Sultan mencibir.


Triring...


Triring...


Triring...


"Halo," jawab Sultan.


"Sudah lihat berita pagi ini," terdengar suara pria paruh baya.


"Sudah, Lalu?" Tanya Sultan datar.


"Itu pasti kau yang melakukannyakan?" Tanya Jefry.


"Ya, lalu?"


"Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi," ujarnya terkekeh.


"Lalu kenapa kau tidak melakukannya," ucap Sultan.


"Itu bukan urusanku, itu masalah kalian," jawabnya kembali datar.


"Ada urusan apa menelponku?" Tanya Sultan berdiri di depan cermin.


"Aku hanya ingin mengatakan jika Dirga, dia bekerja sama dengan sebuah organisasi misterius, aku rasa mereka tidak akan tinggal diam begitu saja setelah kau melukai salah satu orang mereka, aku sarankan lebih baik kamu hati-hati," pesan Jefry memutar kursi putarnya.


"Aku tahu, aku malah justru ingin masuk organisasi itu untuk mencari tahu," ucap Sultan serius.


"Apa yang kau lakukan dengan organisasi itu?" Tanya Jefry penasaran.


"Banyak, sesuatu yang belum aku ketahui dan lain-lain, siapa tau berguna untukku," jawab Sultan.


"Kau percaya diri sekali, apa kau ingin membuat organisasi itu jadi milikmu?" Tanya Jefry tertawa.


"Kau lihat saja, apa yang aku lakukan pada organisasi itu jika sudah dalam gengamanku," ucap Sultan menyunggingkan bibirnya.


"Itu terserah padamu, cuma saat ini, aku hanya mengingatkan jika kau dalam bahaya besar," ingat Jefry.


"Sepertinya kau khawatir denganku?" Tanya Sultan berbalik badan dan menatap langit-langit kamarnya.


"Aku cuma menyanyangkan jika Raja judi kota T malah mati, aku hanya tak mau fansmu berkabung atas kematianmu," ucap Jefri.


"Hey! Aku belum mati! Dasar tua bangka, sepertinya kau ingin sekali aku mati!" Teriak Sultan.


"Jika aku ingin kau mati untuk apa aku memberi tahumu? Dan artikel berita itu aku yang menyuruh mereka membuatnya agar para investigasi itu tidak mencurigaimu," ucap Jefry.


"Sungguh tak kreativ, artikelmu jelek sekali," ejek Sultan.


"Hey! Aku niat membantumu, dan Kau malah tak berterima kasih denganku, ya sudahlah anak muda sepertimu mana mungkin mengerti bantuan orang, aku sudah mengingatmu, itu terserah pada mu lagi," ucap Jefry.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengingatkanku, tapi aku tetap harus memeriksanya," ucap Sultan.


"Ternyata kau bisa berterima kasih juga, ya sudah begitu saja," ucap Jefry mematikan panggilannya.


Sultan langsung mengambil handuk dan segera mandi.


Ting ting


Misi level SSS


Penembakan di Wilayah barat kota T


Hadiah 1000 poin


Hadiah 1.000.000.000.000.


Sultan langsung berlari keluar kamarnya.


"Ibu, Qayla, aku sarankan kalian di rumah saja ya, hari ini jangan dulu ke perusahaan, dan juga kasih tau karyawan lain lewat telpon darurat, untuk tidak datang dan juga jika yang sudah datang suruh pulang," ucap Sultan.


"Ada apa Sultan?" Tanya Ibu panik.


"Ada penembakan di wilayah barat, aku takut berdampak di wilayah kota timur kita," jawab Sultan.


"Baiklah, akan aku lakukan dengan cepat," tanggap Qayla.


"Baguslah jika begitu," jawab Sultan dan kemudian masuk kamarnya.


Ia mengganti pakaian casual yang nyaman di badannya, dan kemudian ia pu berlari keluar.


"Hey! Sultan kamu mau ke mana?" Tanya Ibu panik.


"Ke sana, pokoknya kalian di rumah aja, jangan ke mana-mana!" Teriak Sultan masuk ke mobilnya dan melaju kencang.


"Dia mau ke mana Tante?" Tanya Qayla.


"Nggak tau, dia bilang ke sana, ke sana mana?" Ujar ibu tak mengerti.


"Apa dia ingin ke wilayah barat, tempat penembakan yang ia sebutkan tadi?" Tanya Qayla menebaknya.


"Jangan-jangan bener?" Ucap Ibu membelalakan matanya. "Astaga! Anak itu," Ibunya mengucap


"Tapi Tante tak perlu khawatir kok, dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri, aku rasa dia punya sesuatu yang harus ia kerjakan yang tidak kita ketahui," ucap Qayla menenagkan.


"Ya semoga saja," ucap ibu menarik nafas agar ia tidak tegang lagi.


Mobil Sultan melaju ke arah barat, sekitar 20 menit perjalanan, ia pun sampai di wiliyah itu.


Tampak dari depan seperti tempat habis melakukan serangan di sana, Sultan masuk ke dalam lebih jauh lagi di sana ada tentara yang bersembunyi di balik batu-batu dan tembakan terus bersahutan bunyinya.


Tempatpun menjadi kabut oleh polusi senjata api bercampur debu, pemandangan pun terhalang, bagaimana nanti jika salah menembaknya.


Di sebelah sana juga ada penembakan, ternyata mereka pembe rontak.


"Baiklah, jika begitu, aku beraksi sekarang," ucap Sultan.

__ADS_1


Ia pun segera berlari menuju tempat pembe rontak itu bersembunyi dan mendekati mereka.


"Hey, mau permen nggak?" Canda Sultan.


"Siapa kamu!" Teriaknya terkejut dan


Dor!


Sebuah tembakan mengenai tubuh Sultan.


"Kalian ya, entah apa yang kalian mau, sampai kota sendiri kalian serang," ucap Sultan mengambil senjata api di tangan pria itu dan menembak dengan jarak dekat dengan pembe rontak itu.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


"Mati kalian," ucap Sultan. Dan senjata apinya habis peluru.


Saatnya sekarang main tangan, mereka yang masih memantau tentara itu menembak tanpa di sadari Sultan dari belakang menariknya dan kemudian melemparnya keluar dan akhirnya mati fi tembak.


Senjata api tetap masih bersahutan, Sultan kebal dengan itu semua dan ia berjalan dalam hujan peluru yang membara.


Sultan mencari para pembe rontak itu dan menghabisinya. Ternyata tak hanya laki-laki, ada juga yang perempuan, entah apa yang mereka pikirkan sehingga menjadi pembe rontak.


Ketika Sultan mendekati gadis itu, ia kaget dan menembaknya.


Sultan memegang moncong senjata apinya dan duduk di depannya.


"Kau seorang perempuan, Apa yang kau lakukan?" Tanya Sultan.


"Bukan urusanmu, minggir sana!" Teriaknya.


"Tentu saja ini urusanku, ini kota kita, kenapa kamu tega melakukannya?" Tanya Sultan mengintrogasinya di saat perang berlangsung.


"Kota kita apanya, kota ini bukan tempat kami," ucap gadis itu sinis.


"Lalu kenapa kau di sini? Kembali tempatmu sana jika ini bukan kotamu," usir Sultan.


"Minggir kamu sana!" Teriaknya dan menembak Sultan beberapa kali. Tapi ia sangat kaget karena tidak terjadi apa pun pada Sultan dan hanya baju yang bolong-bolong bekas tembakan.


"Kamu..."


Sultan memukul kepala belakangnya hingga ia pingsan dan menyenderkannya ke tembok lalu mempoleskannya dengan darah mayat temannya yang mati. Agar gadis itu di anggap mati oleh temannya dan juga jika ia ia bawa ke markas tentara yang sedang hujan peluru itu, gadis itu benar-benar mati.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2