System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 137


__ADS_3

Sultan kembali masuk ke ruangannya dan kembali duduk di kursi.


"Aku pikir kamu nggak ngasih harapan, ternyata ngasih juga," ujar Tedi mencibir.


"Aku memang benar-benar tidak memberinya harapan oke! Dan sudah aku katakan tadi dengannya," ucap Sultan menjelaskan.


"Ya ya ya," angguk Tedi.


Sarah pun masuk ke ruangan dengan mata sembab dan duduk di kursinya lalu meletakkan kepalanya di atas meja dengan berbantalkan kedua tangannya.


"Kamu bilang apa sampai ia menangis begitu?" bisik Tedi.


"Putus sama Roni," jawab Sultan.


"Apa? Pu," Sultan langsung menutup mulut Tedi.


"Males aku cerita denganmu, mulutmu ini banyak bacodnya," ujar Sultan melepaskan tangannya dari mulut Tedi.


Dosen memasuki ruangan. Yang tadinya Tedi ingin bertanya karena penasaran akhirnya ia mengurungkan niat penasaranya dan mengikuti pelajaran.


Di jam pelajaran Sarah terus memperhatikan Sultan dan Sultan tidak mempedulikannya.


"Andai saja aku tidak putus denganmu demi mengejar Reno dan sekarang aku harus menaggung karmaku sendiri, pacaran denganmu hanya sebentar, penyesalanku yang sangat lama," ucap Sarah dalam hati.


xxx


Pembagian materi pun selesai.


Sultan langsung menuju taman belakang kampusnya untuk menemui Michela.


Michela sudah terlihat duduk di bangku taman. Sultan pun mendekatinya dan duduk di kursi di samping Michela.


"Ada apa?" tanya Sultan tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Ayahku ingin bertemu denganmu," ucap Michela.


"Ha?" Sultan terkejut. "Untuk apa dia ingin menemuiku?" tanya Sultan penasaran.


"Ke rumahku saja, nanti kamu akan tahu nanti," ucap Michela.


"Bisakah kau mengatakan kepada Papamu jika aku tidak bisa datang hari ini, mungkin besok aku baru punya waktu," tolak Sultan.


"Hm... baiklah," jawab Michela kecewa.


"Aku pergi dulu," ucap Sultan melangkan kakinya pergi meninggalkan Michela.


"Bagaimana? Di nyatakan cinta?" tanya Tedi penasaran.


"Enggak, cuma di suruh datang ke rumah orang tuanya," jawab Sultan masuk mobilnya.


"Ooo," Tedi juga masuk mobilnya.


Sultan melajukan mobilnya di jalan, lalu membelokkannya mobilnya menuju kota J tempat markasnya.


"Kamu... kamu...," ujar pria itu menunjuk ke arah Sultan dengan wajah yang syok sekali.


"Ada apa? Kau mengenalnya?" tanya ketua kepada pria itu, dia lah Dirga, pria yang sempat mencabut tulang kakinya.


"D-dia yang sudah melukaiku sampai seperti ini," ucap Dirga gagap.


Sultan menatapnya dengan wajah datar meskipun ingin sekali ia menertawainya.


"Kamu kenal dia?" tanya ketua kepada Sultan. Sultan mengelengkan kepalanya seolah-olah dia memang tidak mengenalinya dari wajahnya sangat menyakinkan.


"Aku tidak kenal," ucap Sultan melihat ke arah Dirga lalu melihat ke arah ketua.


"Mungkin kamu salah mengenali orang," ujar ketua itu.

__ADS_1


"Tidak! Mana mungkin aku salah mengenalinya, dia adalah...," Dirga melihat ke arah Sultan dan Sultan menyeringai, seringainya sangat bermakna sehingga ia tak berani meneruskan ucapannya.


"Mungkin aku salah melihat orang," ucap Dirga melemah. Sultan tersenyum.


"Ya sudah, kita harus mencari orang yang sudah melukai Dirga, dan bawa dia hidup atau mati agar memuaskan hatinya," ucap ketuanya.


"Tidak perlu ketua, setelah aku pikir-pikir lagi aku sudah mengiklaskannya, biarkan saja masalah ini berlalu, aku tidak ingin mengungkitnya lagi," ucap Dirga pasrah.


"Kenapa bisa begitu? Tapi waktu itu kau yang ingin balas dendam, tapi sekarang tiba-tiba mengiklaskannya?" tanya ketua tidak mengerti dengan keputusannya.


"Tidak ada apa-apa ketua, aku sudah mengiklaskannya," ucap Dirga menudukkan kepalanya.


"Baiklah jika begitu, kami tidak akan memaksamu lagi, sesuai keinginanmu kita tidak akan balas dendam lagi, oh ya dia adalah ketua di sini dan juga tangan kananku jadi aku akan memberi tahu keuntungan yang ia dapat yaitu uang muka 100.000.000, setiap bulannya ia mendapatkan uang senilai 30.000.000 dan juga fasilitas mobil dan juga sebuah kalung berwarna abu-abu, ini kartu khusus untuk bisa menghubungi satu sama lain, apa bila dalam keadaan darurat kartu ini tidak akan berfungsi dengan sendirinya," jelas ketuanya dan menyerahkan sebuah kalung dan kartu ATM yang berisi uang.


"Terima kasih ketua," ucap Sultan menerima kalung dan uangnya.


Mereka yang tidak senang tentu saja memandang sinis ke arah Sultan.


"Perkenalkan dirimu," ucap ketuanya.


"Nama saya adalah Suqay dan saya tinggal di kota T," ucap Sultan.


"Baiklah, datamu akan di kirimkan kepada kepala organisasi nanti," ucap ketuanya dan mereka pun pergi meninggalkan Sultan beserta kawan-kawannya.


Mereka semua menundukkan kepalanya memberi hormat.


Sultan pergi duluan yang entah ke mana.


"Ke mana dia pergi?" tanya Dirga melihat ke kiri dan ke kanan.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2