System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 63


__ADS_3

Pria yang di sebut bos tadi membuang puntung rokok yang di hisapnya tadi.


"Jika kamu sayang dengan nyawamu, lebih baik tinggalkan mobil dan pacarmu, dengan begitu kami tidak akan melukaimu, jika kamu menolak, terima saja akibatmu," ancamnya.


"Kalian tikus-tikus liar dari mana? Apa kalian pikir aku akan berbaik hati dengan kalian jika kalian melepaskanku, No No... haish... terpaksa deh aku jadi penjahat lagi untuk menghabisi tikus nakal ini," ejek Sultan mrnyender di belakang mobilnya dengan melipat tangan sambil mencibir.


"Dasar kurang aja! Kau mengatakanku tikus liar, kau kecoak kecil rasakan akibatnya, aku sudah berbaik hati melepaskanmu tadi, sepertinya kau meminta nyawamu di ambil!" ucapnya geram. Sultan mengejek ucapan si bos tersebut membuat ia tambah geram.


"Hajar dia, lalu ambil jantungnya untukku makan, jika begitu aku belum puas untuk meredakan amarahku!" perinta bosnya.


"Siap Bos," ucap anak buahnya. Mereka membawa pentungan kayu dan beberapa besi padat yang panjang kira-kira 1 meter memikul di pundaknya. Mereka ada 7 orang dan mendekati Sultan.


"Kamu sudah di beri kesempatan oleh Bos malah membuatnya marah," ucap anak buahnya.


"Sultan bagaimana nih?" tanya Michela memegang tangan Sultan ketakutan.


"Kamu sana menjauh, aku tidak bisa menyerang mereka jika kamu bergelantungan seperti ini," ucap Sultan. Michela langsung melepaskannya. Sebelum Michela menjauh ia sempat memukul pundak Sultan karena lagi-lagi membuatnya malu.


"Gadis ini," ucap Sultan kembali fokus kepada penjahat tersebut.


"Ayo maju," tantang Sultan mengode mereka lewat tangannya.


Mereka pun menyerang ke arah Sultan, salah satu dari mereka mengayunkan besi padatnya namun Sultan membungkukkan tubuhnya, karena tak bisa di rem lagi maka besi tersebut malah mendarat di tubuh temannya hingga temannya terpelanting karena ayunan besi tersebut sangat kencang.


"Hey... apa yang kamu lakukan!" teriak temannya yang lain marah. Pria itu terkejut karena serangannya malah mengenai temannya.


Sultan tertawa menyengirkan bibirnya. Itu membuat pria itu marah. Ia melancarkan serangannya kembali, Sultan menagkap Besinya dan membalikan besi tersebut lalu memukul kepalanya dengan kuat hingga ia pusing dan pingsan.


"Kita jangan anggap remeh dia," bisik anak buah kepada temannya. Temannya mengangguk lalu berusaha mengepung Sultan. Mereka menyerang Sultan dengan sigap Sultan menendangnya lalu mencekik lehernya dan membanting ke tembok ke arah Michela.


Michela terkejut dan menghindar sambil menjerit ketakutan. Lagi-lagi Sultan meninju temannya yang lain membenturkan kepalanya ketanah lalu melemparnya ke arah Michela.


Tentu saja Michela menjerit ketakutan, Sultan malah tersenyum mendengar jeritan Michela karena ia berhasil mengerjai Michela.

__ADS_1


Sisa 3 orang lagi, Mereka kembali menyerang Sultan, tanpa susah payah, Sultan menarik 2 orang lalu memutarnya lalu menghempasnya ke lantai, Sultan kembali menarik 2 orang tadi lalu melemparnya lagi ke arah Michela hingga mereka bertumpukan jadi satu.


Sisa 1 anak buahnya lagi. "Bos, bagaimana ini?" tanya anak buah itu ketakutan.


"Hajar saja dia!" perintah bosnya.


Dengan terpaksa ia tetap melawan Sultan meskipun ia tidak yakin menang, ia sudah pasrah dengan keadaan. Ia melayangkan pentungan kayu di tangannya ke arah Sultan, Sultan menangkap pentungan kayu tersebut lalu melemparnya ke arah Michela. Lagi-lagi Michela menjerit.


Sisa bosnya. Bosnya tersebut bersaha kabur menaiki mobilnya dan menstater mobil tersebut. Sultan naik ke mobilnya menarik kepalanya lalu menjatuhkan ke tanah, Sultan turun lalu menarik kerah bajunya lalu memukul perutnya beberapa kali sampai si bos tersebut tak berdaya dan terjatuhlah tubuh itu ke tanah.


"Lain kali jangan melakukan perbuatan buruk, rasakan akibatnya," ujar Sultan menendang tubuh si bos tersebut.


"Sultan," teriak Michela berlari menuju ke arah Sultan lalu memeluknya. Sultan terkejut dengan pelukan tersebut. Ia bingung, membiarkan ia memeluknya atau membalas pelukannya.


Michela segera melepaskan pelukannya.


"Syukurlah," ucap Sultan dalam hati lega, ia tidak perlu membalas pelukan wanuta di depannya itu.


Sultan memutar bola matanya sambil mengaruk pipinya yang tidak gatal tersebut. "Itu... refleks," jawab Sultan tersenyum mengatup kedua bibirnya.


Michela menatap Sultan dengan menyipitkan matanya tapi dengan tatapan mematikan. Sultan jadi salah tingkah dan Michela mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sultan untuk memastikan.


"Kamu menjauh sedikit, begini-begini aku juga pria normal," ucap Sultan menjauhkan wajahnya dari tatapan Michela.


Michela berdiri keposisi semula melipat tangannya dengan wajah manyun. "Kamu sejak kapan jadi kaya dan jadi kuat?" tanyanya kembali melihat ke arah Sultan.


"Oh itu tentu saja aku bekerja keras untuk mendapatkan semua itu," jawab Sultan masuk ke mobilnya.


"Kamu mau masuk nggak? Atau ingin menemani mereka main-main," canda Sultan terkekeh.


Michela berlari lalu duduk di kursi penumpang dan memakai sabuk pengamannya. "Oke! Sekarang berangkat," ujar Michela duduk dengan tenang dan sudah siap melakukan perjalanan lagi.


Tapi mobil malah tidak bergerak sedikitpun. Michela menatap Sultan mengkerutkan dahinya.

__ADS_1


"Hey... kenapa mobilnya nggak gerak-gerak?" tanya Michela kesal. Sultan tertawa lucu melihat wajah kesal Michela.


"Kamu kok nyebelin banget sih!" teriak Michela memukul-mukul bahu Sultan. Sedangkan Sultan masih meneruskan tawanya dan kemudian melajukan mobilnya, untung saja gang tersebut tidak buntu sehingga mereka asih bisa melanjutkan perjalanannya meskipun harus memutar lagi untuk menuju jalan yang mereka lalui tadi.


Selang tak berapa lama kepergian Sultan ada sekelompok anak muda lewat di gang tersebut dan melihat ada mobil terparkir, mereka pun mendekati mobil tersebut.


"Wah... mobil bagus nih," ujar pemuda itu memegang body mobil tersebut.


"Hey... lihatlah mereka semuanya sudah mati," ujar temannya menunjuk ke arah setumpuk tubuh manusia.


"Berhubungan yang punya Sudah mati, kita ambil mobilnya," ujar temannya yang lain.


"Ayo," ujar pria muda. "Oh ya kalian berdua bisa bawa mobilkan?" tanya pemua itu.


"Bisa donk," jawab mereka senang.


"Ya sudah kita bawa yang dua ini, mobil yang 1 ini biarkan aja di sini," ujar pemuda itu. Mereka pun mengstater mobil tersebut lalu membawanya menjauh dari gang tersebut.


"Kalian... kalian kembalikan mobilku!" teriak si bos tak berdaya, ia tak sanggup lagi untuk berdiri hanya bisa merentangkan tangannya solah tak rela mobilnya di curi oleh sekelompok bocah tadi.


Tak lama kemudian sampailah Sultan dan Michela di depan rumah Michela. Rumah itu tampak mewah dari luar.


"Kamu tadi ke rumahku naik apa?" tanya Sultan melihat ada beberapa pengawal di depan rumahnya.


"Naik taksi," jawab Michela santai.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH


TERIMA KASIH


Jangan lupa mampir juga ke karyaku (Pebdekar Suci dari timur)

__ADS_1


__ADS_2