System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 103


__ADS_3

Dan ternyata suara jangkrik yang udah mau mati.


"Sial! Ku pikir suara orang," gerutu Sultan.


Kembali mereka mencarinya kali ini Sultan mencari agak jauh dari mereka semua.


Sultan melihat ada tangan yang keluar dari rerumputan dan Sultan langsung memegang tangan tersebut dan membantunya naik ke atas.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sultan kepada anak itu setelah mengeluarkannya dari lubang. Anak itu mengangguk lemas.


"Sukurlah, ya udah Abang bantu gendong kamu," ucap Sultan menggendongnya belakang.


"Eh Sultan, siapa itu?" Tanya Tedi.


Teman-temannya pun mendekati Sultan dan melihat keadaanya.


"Tedi, Iya ini Tedi," ucap teman-temannya.


"Aku?" Tanya Tedi menunjuk arah dirinya.


"Bukan kau longor, tapi anak yang ku, gendong ini," tukas Sultan.


"Ooo," jawab Tedi singkat.


Mereka pun segera membawa anak tersebut ke ibunya.


"Tedi, ya ampun Tedi, kau baik-baik saja Nak," ucap ibunya khawatir sambil memeluk anaknya.


Anak itu mengangguk pelan, sepertinya badannya sangat lemas.


"Terima kasih ya Nak, sudah menemukan Anak saya," ucap ibu itu.


"Ya sama-sama Bu," jawab Sultan mengangguk. "Ayo kita pulang," ajak Sultan menarik baju Tedi yang Tedinya sedang terharu.


"Kenapa kamu?" Tanya Sultan.


"Haish... gara-gara nama anak itu sama denganku seperti ada ikatan batin, aku juga ikut terharu," jawab Tedi


"Jangan-jangan itu adekmu yang hilang nggak?" Tanya Sultan terkekeh.


"Enak saja, mana mungkin dia adekku, kalo dia adekku nggak bakalan main lumpur kayak gitu," ujar Tedi mencibir.


"Yeee... masih mendingan dia main lumpur, lha kamu? Main e'ek sendiri," ejek Sultan kembali terkekeh.


"Kurang ajar kamu Sultan!" Teriak Tedi mengejar Sultan dengan wajah kesalnya. Sultan lari sambil tertawa dan melihat ke arah Tedi.


Buuuk!


"Mampus lu! Kualat kau lagi, karma suka ngejek aku" ujar Tedi berhenti mengejar dan langsung masuk mobilnya tanpa menolong Sultan yang habis ketabrak tiang listrik.


"Anjirrrrr... aku cuma becanda doank kok, malah langsung dapet karma instan," gerutu Sultan kembali berdiri dan menuju mobilnya sambil mengibas-ngibas celananya yang kotor.


"Lalu, kenapa kamu nggak pingsan aja, biar ku telpon si Qayla," ejek Tedi sambil terkekeh.


"Kenapa kau nggak sekalian aja doakan aku mati," ujar Sultan kesal.


"Iya, mati aja kau saja," celetuk Tedi dan melajukan mobilnya.


"Dasar teman nggak ada akhlak!" Teriak Sultan melempar ranting kayu ke arah Mobil Tedi, tapi tidak kena karena laju mobil Tedi.


Sultan pun segera naik mobilnya dan melaju pergi.

__ADS_1


Ting ting


Misi selesai.


Selamat Anda mendapatkan 30 poin.


Poin Anda menjadi 210 poin


Selamat, Anda mendapatkan hadiah 50.000.000


Hadiah Anda menjadi 250.000.000


Sesampainya di CAMP, tentu saja Tedi sudah sampai duluan di sana sambil memotret CAMPnya.


"Bagaimana? Lancar?" tanya Sultan kepada Hendri.


"Lancar bos besar, meskipun tadi ada sedikit kendala," jelas Hendri.


"Ya, yang penting di sini baik-baik saja," ucap Sultan mengngguk-angguk.


"Orang gi la satu itu lagi apa tuh," ejek Sultan yang masih mengerjai Tedi.


"Banyak bacod kau, tunggu saja pembalasanku," ucap Tedi yang masih potret sana potret sini.


"Maaf ya untuk sementara kalian tinggal di sini nggak apa-apa ya sebelum semuanya bener-bener bagus," ucap Sultan kepada Hendri.


"Iya bos besar, kami tidak apa-apa kok," anggul Hendri tersenyum.


"Ya udah aku pulang dulu lah, badanku pegel semua," ucap Sultan. "Hey kamu pulang nggak?" tanya Sultan kepada Tedi.


"Kamu duluan aja, aku masih pengen di sini," jawab Tedi.


"Ya udah," ucap Sultan yang masuk mobilnya dan melaju di jalanan.


Sultan memelankan mobilnya sambil melihat ke dalam gerobak ternyata ia jualan pisang.


"Pak berhenti," ucap Sultan.


Bapak itu pun berhenti. Sultan juga memberhentikan mobilnya keluar sambil m?membawa sejumlah uang.


"Ada apa Nak, mau beli pisang Bapak?" tanya Bapak itu dengan mata berbinar.


"Tidak," jawab Sultan menggelengkan kepalanya dan Bapak itu menjadi kecewa.


"Lalu ada perlu apa?" tanya bapak itu tetap dengan nada rendah.


"Nih untuk modal jualan bapak, semoga makin laris," ucap Sultan meletakkan uang sekitar 5.000.000 di tangan bapak tersebut.


" Puji Syukur kepada yang maha kuasa, terima kasih Nak," ucap bapak itu menagis sambil bersujud.


"Inilah rasa jika membuat orang bahagia, hati kita juga bahagia," batin Sultan.


"Gunain uangnya ya Pak, jangan di simpan nanti di makan rayap," pesan Sultan.


"Sekali lagi terima kasih Nak," ucap bapak itu meneteskan air mata bahagia.


"Ya sama-sama," jawab Sultan yang kemudian ia naik mobilnya kembali.


Ting ting


Misi selesai.

__ADS_1


Anda mendapatkan 2 poin


Poin Anda menjadi 212 poin.


Selamat Anda mendapatkan 20.000.000


Hadiah Anda menjadi 270.000.000


"Wah dapat misi tersembunyi lagi nih," ucap Sultan senang.


Sesampainya di rumah ternyata di rumah ibunya sudah ada.


"Lho? Ibu udah pulang?" tanya Sultan.


"Iya, barusan Qayla baru pulang habis nganterin Ibu," ucap Ibu.


"Lalu di mana supir Ibu?" tanya Sultan karena mobilnya tidak ada di parkir di depan rumah.


"Dia permisi karena ibunya demam tinggi, jadi mau ngaterin ibunya dulu ke rumah sakit, jadi ibu suruh dia bawa mobilnya buat nganterin ibunya berobat, besok baru dia datang lagi buat jemput ibu," jelas ibunya.


"Dia punya Ayah?" tanya Sultan lagi.


"Punya, tapi dia nggak punya kendaraan," jawab ibu lagi.


"Ya udah, belikan dia mobil yang seharga 600 juta itu untuk kendaraannya," ucap Sultan.


"Pake duit siapa?" tanya Ibunya.


"Ya pake duit Ibu lah, simpanan ku udah menipis," jawab Sultan sambil melangkahkan kakinya ke kamar.


"Bilang aja kamu pelit," ucap ibu mencibir.


"Bukan aku yang pelit, Ibu aja yang nggak mau ngeluarin duit," balas Sultan.


"Udah sana kamu masuk kamarmu sana," usir ibu.


Note: Meskipun mereka seperti itu tapi mereka tetap saling menyayangi kok


Sultan pun masuk kamarnya merebahkan tubuhnya yang lelah sambil meluruskan pinggangnya.


Ia pun tertidur.


xxx


Ke esokan harinya.


"Eh Ibu, Sultan Sudah bangun?" tanya Tedi.


"Belum kayaknya soalnya dia masih di kamar," jawab Ibu menujuk kamar Sultan dan ia sendiri sedang menyapu rumah.


"Oh, aku ke sana ya Bu," ucap Tedi.


"Iya." angguk Ibu. Ibu juga menganggap Tedi sebagai anaknya karena waktu mereka susah, hanya Tedi yang mau berteman dengan Sultan.


Tedi diam-diam membuka pintu kamar Sultan yang tidak terkunci.


Ia masuk dan kemudian mengambil ponsel Sultan dan memotret wajah Sultan yang tidurnya sambil terkangkang.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH

__ADS_1


TERIMA KASIH


jangan lupa mampir juga ke karyaku (System miliyader And foya-foya)


__ADS_2