System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 118


__ADS_3

Sultan melawan para anak buah itu sedangkan gadis itu masuk ke ruangan tanpa sepengetahuan Randi.


Gadis itu membongkar semua yang ada di dalam ruangan itu, dan mengambil semua yang menurutnya penting.


Salah satu bawahan Randi mempunya kesempatan dan berlari menuju kamar Randi.


Tok!


Tok!


Tok!


"Tuan Randi, Tuan Randi," panggil anak buahnya.


"Ada apa? Jika tidak ada hal lain jangan mengangguku," ucap Randi kesal.


"Tuan Randi, Nona..."


Dor!


Belum sempat anak buahnya berbicara, Sultan mengarahkan tembakannya ke arah anak buahnya tersebut dan mati di tempat.


Randi pun buka pintu, kamarnya ini terbuat anti peluru. Ketika membuka pintu anak buahnya sudah mati.


"Apaaaaa!" teriaknya dengan mata terbelalak karena anak buahnya hanya tinggal seperempat yang tersisa itu pun sudah tak sanggup untuk melawan lagi.


Randi hanya melihat Sultan tapi tidak melihat Gadis itu. Ia kembali masuk ke dalam dan memakai jaket anti peluru dan helm anti peluru dan membawa beberapa senjata api di tangan di kaki dan di perutnya.


"Mau ke mana sayang," ucap wanita itu manja.


"Ada yang harus aku selesaikan, kamu tetap di sini," ujar Randi dan kemudian ia keluar dari kamar.

__ADS_1


Randi tidak peduli dengan anak buahnya, yang terpenting ia harus mengamankan berkas penting dari atasannya dan membawa kabur bukti tersebut, karena tempat ini sudah tak aman lagi karena sudah di ketahui orang luar.


Saat masuk ke sana, gadis itu sangat kaget karena Randi juga sudah masuk, gadis itu bersembunyi di balik meja yang di atasnya ada bunga hias.


Randi buru-buru mengambil bukti penting termasuk kotak yang tidak bisa di buka oleh gadis itu.


Semuanya sudah di ambil oleh Randi dan membawanya ke dalam sebuah box hitam berdiameter 30x30 cm.


Gadis itu diam-diam melihat Randi dan ketika Randi berbalik badan, Gadis itu memukul pundaknya dengan pot bunga hias hingga pecah, tapi Randi tetap baik-baik saja, Randi memutar badannya dan melihat ke arah gadis itu dan menembaknya.


Dor!


Gadis itu kaget ketika peluru tersebut mengenainya, tapi ia tetap baik-baik saja.


"Ha? Kau ternyata memakai baju anti peluru juga," ucap Randi tersenyum sinis.


Ia meletakkan box tersebut di lantai dan mendekati gadis itu.


"Jangan mendekat!" pekik gadis itu.


Tanpa pikir panjang lagi Randi melayangkan tendangannya, gadis itu menghindar tapi Randi lagi-lagi melayangkan tendangannya dan pukulannya hingga mengenai perut dan mulut gadis itu hingga ia terjatuh dengan mengeluarkan darah dari mulut di sudut bibirnya.


Gadis itu menyekanya dan berusa berdiri lagi tapi lagi-lagi ia di tendang hingga gadis itu terpental 3 meter jauhnya.


Sultan pun datang setelah menghabisi semua anak buah Randi tanpa sisa dan juga membawa wanita yang tadi bersama Randi.


"Berhenti, atau kekasihmu tidak akan selamat," ancam Sultan.


"Heh! Bunuh saja dia, aku bisa mencari yang lain," ucap Randi tersenyum sinis.


"Sepertinya kau tidak bisa menghargai perempuan," ucap Sultan. Ia pun melepaskan wanita itu dan maju ke arah Randi dan menendang perutnya dan membuat Randi mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Heh! Aku tidak menyangka jika kau laki-laki dan aku tidak menyangka kau kebal dengan peluru hingga bajumu robek oleh peluru seperti itu, ini kekasih barumu Leni?" tanya Randi kepada gadis yang terjatuh. Gadis itu berusaha bangun dan berdiri kembali.


"Bukan urusanmu! Mati saja kau!" teriak gadis itu geram dan menabrakkan tubuhnya ke tubuh Randi hingga Randi dan gadis itu jatuh terguling.


Sultan menarik kerah baju Randi dan membuka paksa helmnya lalu meninju Randi dengan keras hingga Randi tak tak bisa membalasnya.


Sultan menghantam ulu hatinya beberapa kali dan memukul perutnya dan akhirnya Randi terkapar tak berdaya.


Ketika Sultan ingin melanjutkan pukulannya, gadis itu menahannya. "Cukup! Sisakan 1 hembusan nafasnya untukku," pinta gadis itu.


Sultan pun melepaskan Randi dan membiarkan ia tergeletak di lantai dengan darah di hidung dan mulutnya.


"Kau sudah menpermainkan hatiku dan nyawa banyak orang, katakan wasiatmu yang terakhir sebelum kamu mati," ucap gadis itu menodongkan senjata yang ia ambil dari pinggang Randi.


"Tidak menyangka aku akan mati di tanganmu," ucap Randi tersenyum sinis.


"Cepat katakan, atau kau tidak punya wasiat lagi!" bentak gadis itu marah.


"Aku hanya ingin mengatakan jika aku juga mencintaimu," ucap Randi.


Dor!


"A... ku... men... cin... ta... i...," ucap Randi terbata-bata.


Dor!


"Mu..." dan Randi pun mati di tangan gadis itu.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH

__ADS_1


TERIMA KASIH


mampir ke karyaku (Pendekar suci dan Dragon Gold)


__ADS_2