System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 64


__ADS_3

"Kau tidak takut jika di culik lagi?" tanya Sultan mengangkat alisnya.


"Tadi aku memakai masker ketika naik taksi," jawabnya. "Lalu aku melepaskannya ketika sudah sampai di rumahmu," sambungnya.


"Bagaimana jika seseorang mengikutimu dan ingin menculikmu lagi dan ibuku juga ikut di celakai?" tanya Sultan tajam.


"Apa maksudmu, kau ingin mengatakan jika aku pembawa sialkan?" tanya Michela menatap Sultan tajam.


"Kapan aku mengatakan kamu sial, yang aku katakan bagaimana jika penjahat itu datang dan juga ingin melukai ibuku," jawab Sultan kesal.


"Apa sesayang itu kau dengan ibumu?" Tanyanya memonyongkan mulutnya.


"1000% aku sayang dengan ibuku," ucapnya tegas. Michela memanyunkan mulutnya sambil mengangguk-angguk.


"Kenapa? Apa seorang anak tidak boleh memuliakan ibunya?" tanya Sultan. "Dan juga kau ingin kita berapa lama duduk di mobil, apa kau nyaman duduk di mobilku yang mahal ini?" tanya Sultan menyunggingkan senyumnya.


Michela langsung membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil Sultan dengan wajah manyun. Sultan menyengir melihat wajah Michela yang kesal di buat olehnya. Sultan pun keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil kembali.


"Ayo masuk," ajak Michela melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya yang di ikuti Sultan.


"Wah... orang yang di tunggu-tunggu sudah datang, ayo silakan duduk," ujar pak Hamdi ia adalah Papa Michela.


"Terima kasih," ucap Sultan mengangguk dan duduk di sofa empuk tersebut.


"Kamu mau minum apa?" tawar pak Hamdi.


"Terserah Om aja deh," ucap Sultan sopan.


"Ambilkan minuman bersoda," perintah Pak Hamdi kepada pelayannya.


"Baik Tuan," angguk si pelayan dan menuju ke dapur.


"Saya menyuruh Michela menjemputmu agar saya bisa berterima kasih langsung denganmu karena sudah menyelamatkan Michela, dia adalah anak satu-satunya, jika tidak ada kamu hari itu mungkin saya tidak tahu mau bagaimana lagi, kami benar-benar kehilangan kontak dengannya waktu itu dan tidak tahu harus mencarinya di mana. Setelah Michela di selamatka olehmu, Michela bercerita jika ia di bawa ke kapal ketengah lautan dan ia di selamatkan oleh teman kuliahnya yaitu kamu, dan juga saya ingin memberikan sesuatu padamu sebagai tanda terima kasih," ucap pak Hamdi panjang lebar.


"Ambilkan barangnya," perintah pak Hamdi kepada pengawalnya.


"Baik Tuan," angguk sang pengawal tersebut dan pergi. Para pembantu berdatangan membawakan minuman dan makanan ringan dari dapur dan meletakkan di atas meja.


"Sila di nikmati Tuan," ucap pembantu tersebut tersenyum lalu pergi.


"Ayo di makan," ajak pak Hamdi. Sultan mengangguk dan mencicipi cemilan tersebut.


"Ini Tuan," ujar pengawal menyerahkan sebuah kotak kepada pak Hamdi. Pak Hamdi pun menerimanya lalu meletakkan ke atas meja dan menyodorkan kepada Sultan.

__ADS_1


Sultan menekuk alisnya heran, apa kira-kira isi kotak tersebut.


"Saya tau kamu pasti bertanya-tanya apa isi kotak ini kan? Bukalah," ujar pak Hamdi.


Sultan pun membuka kotak tersebu ternyata isinya adalah sebuah kalung berliontin lencana biru.


"Kenapa kalung ini familiar ya?" tanya Sultan dalam hati ia memandangi terus kalung tersebut sambil mengingat-ingatnya.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya pak Hamdi ketika melihat Sultan mengkerutkan keningnya.


"Oh ya saya suka," jawab Sultan seketika saat ia tersadarkan oleh pertanyaan pak Hamdi.


"Kalung ini sangat berharga, dengan kalung ini kamu bisa bertemu dengan seseorang yang berkuasa," jelas pak Hamdi.


Setelah mengingatnya, Sultan baru ingat jika kalung tersebut mirip sekali dengan kalung yang ia dapatkan dari seorang ibu-ibu yang pernah ia bantu. Hanya saja warnanya berbeda.


"Jika liontinnya berwarna coklat?" tanya Sultan tiba-tiba.


"Oh, itu berarti bagian dari mereka, kamu bisa masuk markas mereka, biasanya liontin ini hanya bisa di miliki keturunannya karena liontin ini menjadi turun termurun. Eh! Tapi kamu dari mana tau jika liontin tersebut ada berwarna coklat?" tanya pak Hamdi heran.


"Oh temanku ada memilikinya Om," jawab Sultan ngasal.


"Jika aku sudah memiliki lencana coklat untuk apa lagi aku mengambil yang lencana biru. Aku bukan manusia serakah," ujar Sultan dalam hati.


"Om, ini hadiahnya sangat berharga dan saya sangat menyukainya, karena ini sangat berharga jadi saya tidak pantas memilikinya," ujar Sultan menutup kotak tersebut lalu mendorongnya ke arah pak Hamdi.


"Apa kamu yakin tidak ingin memilikinya? Ini kalung semua orang ingin memilikinya dan kamu malah menolaknya, apa kamu benar-benar tidak mau?" tanya pak Hamdi memastikan.


"Benar Om, ini sangat berharga, lebih baik Om simpan dan jangan beri kepada siapa pun," tolak Sultan sopan.


"Haisshh... saya sebenarnya sudah berjanji ingin memberikan kepada orang yang sudah menyelamatkan Michela, sayang sekali kamu malah menolaknya," ujar Pak Hamdi menyayangkan.


"Terima kasih Om, saya sudah menerima niat baik Om, tapi saya memang tidak bisa memiliknya," ucap Sultan.


"Baiklah jika begitu, bawa kembali kotaknya," perintah Pak Hamdi kepada pengawalnya.


"Baik Tuan," angguk pengawalnya lalu mengambil kotak tersebut dan mengembalikan tempat asalnya.


"Om, maaf, jika tidak ada lagi saya ingin pulang segera," ujar Sultan.


"Apa kamu tidak ingin berlama-lama lagi dan makan di sini?" tawar pak Hamdi.


"Terima kasih Om, tapi harus pulang sekarang," tolak Sultan.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu, sampaikan salam saya sekeluarga kepada ibumu ya," ujar pak Hamdi menepuk pundak Sultan.


"Iya Om," jawab Sultan. "Jika begitu saya permisi dulu," pamit Sultan.


"Hati-hati di jalan," pesan pak Hamdi. Sultan mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Ia menaikinya lalu melajukan mobilnya di jalan.


Ting ting.


Misi level S


Membantu sebuah perusahaan yang hampir bangkrut


[Hadiah 80 poin]


"Oh iya, setelah ada misi ini baru aku ingat sesuatu, perusahaan yang aku beli kemaren mereka belum laporannya kepadaku, tapi aku juga tidak rugi karena belum ku bayar, jika mereka tidak segera mengirim laporannya aku kurangi harga perusahaannya itu," ucap Sultan.


SULTAN


(Di lokasinya?)


SISTEM


(Jalan hang Tuah)


"Oke... lest go," ucap Sultan mengarahkan jalannya ke alamat tujuannya.


Akhirnya ia sampai tempat yang di maksud. Sultan keluar dari mobilnya dan melihat ke arah perusahaan tersebut sangat besar.


Ia masuk ke dalam perusahaan dan mendekati salah satu kariyawannya.


"Kenapa tempat ini sepi sekali?" tanya Sultan kepada seorang pegawai yang duduk di ruang penerimaan tamu.


"Maaf Tuan, seharusnya Tuan tidak datang hari ini, karena ada sedikit masalah di perusahaan ini," jawab pegawainya.


"Masalah apa?" Sultan pura-pura bertanya.


"Ini... kami tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun," jelas pegawai tersebut.


"Coba ku tebak, hm... pasti perusahaan kalian mau bangkrutkan?" tanya Sultan sambil berbisik memajukan wajahnya ke depan wajah pegawai tersebut.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH

__ADS_1


TERIMA KASIH


Jangan lupa mampir di karyaku (pendekar suci dari timur)


__ADS_2