System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 142


__ADS_3

"Iya juga ya, tapi sebelumnya, ibu mau simpan di mana uangnya?" tanya Ibu lagi, karena ia masih sangat bingungung dengan uang sebanyak itu.


"Ya udah gini deh, renov dulu kamar Ibu, uangnya simpan di kamarku, nanti kalo dah jadi kamar ibu, baru renov kamarku," saran Sultan lagi.


"Ya udah gitu aja deh," jawab Ibu setuju.


"Oh ya Bu, aku boleh minta sesuatu?" tanya Sultan.


"Apaan?" tanya ibu mengkerutkan dahinya.


"Boleh nggak aku yang pegang tempat bedak ibu, plissss," ujar Sultan memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Untuk apa samamu?" tanya Ibu dengan wajah berubah.


"Yq mau aku aimpan sendiri aja," alasan Sultan.


"Tapi kamu mau janji sama Ibu, jika benda itu tidak akan kamu hilangkan?" tanya Ibu.


"Iya Bu, aku janji," ucap Sultan mengacungkan 2 jari ke atas.


"Ibu tidak tahu jika itu hilang apa lagi ke tangan orang yang salah, Ibu takut terjadi sesuatu nanti," ucap ibu Serius.


"Emang apa yang terjadi?" tanya Sultan penasaran.


"Udah, kamu nggak perlu tahu," ucap Ibu misteri dan ia membawa uangnya masuk kamar dan kemudian keluar dari kamar membawakan tempat bedak tersebut. "Tolong jaga baik-baik benda ini untuk Ibu, Ibu percaya jika kamu bukan orang yang suka teledor," ucap ibu.


Sultan menerimanya.


"Terima kasih Ibu sudah mempercayaiku, aku janji, aku akan menyimpannya dengan baik," ucap Sultan senang.


Kemudian Ibu kembali membawa uangnya lagi yang masih tersisa di meja masuk ke kamarnya.


"Ya udah, kamu istirahatlah, Ibu juga mau nyusun uangnya biar nggak berceceran," ucap Ibu.

__ADS_1


"Iya Bu," sahut Sultan yang masih asik melihat kotak bedak ibunya.


Ting ting


Hadiah Anda di kurangi 1.791.248.000.000.


Sisa hadiah Anda 3.000.000.000.000.


Kemudian ia masuk kamar dan mengambil kartu yang di beri oleh ketua organisasi dan memasukkan kartu ke dalam ponsel yang baru ia beli tadi.


"Oh sepertinya memang kartu khusus ya, nomornya sudah terdaftar dan juga semua nomor anggotanya ada di sini, ini sepertinya tidak terdaftar di kota, tapi hanya aktiv di sinyal yang mereka buat sendiri," ucap Sultan mengangguk-angguk.


Triring


Triring


Triring


"Halo,"


"Di telpon dari tadi ke mana aja kamu? Cepat ke markas sekarang, ada yang perlu di diskusikan," ucap suara pria yang ada di dalam ponselnya.


"Baiklah," ucap Sultan dan langsung mematikan panggilannya dan berganti pakaian dan kemudian memberi tahu ibunya.


"Ibu aku pergi dulu," pamit Sultan.


"Kemana malam-malam begini?" tanya ibu.


"Aku ingin pergi ke suatu tempat, aku pamit dulu ibu," ucap Sultan.


"Ya, tapi jangan malam-malam pulangnya," pesan Ibu.


"Ya Bu," ucap Sultan. Ia menuju mobilnya dan langsung melesat di jalanan.

__ADS_1


Yang biasa perjalanan hingga 2 jam, kini jarak yang ia tempuh hanya 10 menit berkat mobil barunya.


Sultan pun sampai di tempat tujuannya.


"Cepat sekali sampainya, kamu tinggal di dekat sini?" tanya ketuanya.


"Eh i-iya," jawab Sultan gagap, dia tak mungkin mengatakan jika dari kota T ke kota J hanya 10 menit.


"Baiklah, semua sudah berkumpul, 1 minggu lagi kita akan ke negara B untuk melakukan survey ke markas yang di sana, kita akan membuat persatuan baru lagi untuk memperluas kekuasaan," ujar ketua itu.


"Jika di biarkan begini terus, membiarkan mereka memperluas kekuasaan, akan sulit nanti jika aku ingin mencari tahu kebenarannya dan menghancurkannya," ujar Sultan dalam hati.


Ketuanya pun menjelaskan perjalanan mereka dan mereka berangkat mengunakan pesawat pribadi dan rencana mereka pun selesai di buat.


"Jadi begitu saja, mari kita bersenang-senang terlebih dahulu untuk mereyakan kepergian kita," ucap ketua itu mengangkat botol birnya.


"BERSULANG!" teriak mereka.


"Maaf ketua, sepertinya malam semakin larut, aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi, Ibu ku menyuruhku segera pulang," ucap Sultan melihat arlojinya yang sudah menunjukan pukul 01:25.


"Hah! Cemen, pria seperti apa kau, anak mama ya? Di suruh pulang ibumu dan kau menurut? Di organisasi kita tidak ada anak cemen sepertimu, jangan lebay. Di angkat menjadi ketua dan ketuanya anak mama, mau di bawa ke mana kelompok kita ini," ejek salah satu pria mencibir.


"Seorang ketua ya seorang ketua, seorang anak ya seorang anak. Aku harus berbakti pada ibuku karena dia sudah melahirkanku dalam kondisi apa pun dan di mana pun," jawab Sultan tegas.


"Huh dasar lemah! Ibu mu juga sama denganmu, kenapa kau tidak pulang minum susu ibumu saja sana," ejek pria itu.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH


mampir juga ke karyaku (System super kultivasi)

__ADS_1


__ADS_2