
Ting ting
Misi level C
Menangkap perampokan kedai kopi jalan kebon belakang.
Hadiah 30 poin
Hadiah 30.000.000
"Ayolahhhhhhh... aku ingin berangkat kuliah nih," gerutu Sultan.
Lagi-lagi Sultan menyaingi mobil Tedi dan mengklaksonnya.
"Apa lagi?" Tanya Tedi menongolkan kepalanya dari jendela mobil.
"Ikut aku," jawab Sultan melajukan mobilnya. Tedi mengikutinya.
Sesampainya di kedai kopi tersebut mobil Sultan berhenti di sana.
Sultan ternyata mengenali para penjahat itu. "Hey kawan lama," sapa Sultan kepada para penjahat itu yang sedang menodongkan pistolnya kepada kasir yang tangannya gemetar mengambil uang di laci.
Para penjahat itu sangat terkejut melihat kedatangan Sultan yang tersenyum menyeringai tanpa taring tapi seramnya bagaikan drakula yang siap menghisap darah mereka.
"Yuk cabut-cabut," panggil ketuanya.
"Hey... nanti dulu lah, kita udah lama nggak ketemu ngobrol dulu lah," ucap Sultan memanggil mereka.
"Ngobrol apa'an, yang ada tinju melayang," ucap bosnya yang berlari duluan.
Sultan mengejar dengan kecepatan tinggi yang lari seperti harimau mendapat mangsa, jika di lepas bakalan kelaparan.
Buk!
Sultan memukul pundak bosnya. Bos itu pun terjatuh tersungkur.
"Hey! Apa kau tak lelah berbuat jahat?" Tanya Sultan menarik kerah baju belakangnya.
"Ampun... ampun nggak lagi kok, habis ini aku nggak mau melakukan kejahatan lagi, aku kapok, aku melakukan ini agar kami bisa makan, dengan wajah kami yang seram begini mana ada yang nerima pekerjaan," ujar bosnya.
"Lalu pistol di tanganmu itu?" Tanya Sultan memonyongkan mulutnya ke arah pistol tersebut.
"Ini postol bohongan," ujar bos tersebut menctekkan pistol tersebut dan ternya korek api.
"Kamu bawa anak buahmu, ikut aku sekarang," ajak Sultan melepaskan kerah bajunya.
"Ke mana? Tuan saya mohon jangan bawa kami ke kantor polisi," mohon penjahat itu.
"Aku akan memberimu pekerjaan," jawab
Sultan.
__ADS_1
"Wah beneran Bos! Hey kalian semua ikut bos besar," ucap bosnya kepada anak buahnya.
"Belum apa-apa sudah jadi bos aku," ucap Sultan. "Hey Tedi, kamu bawa anak buahnya beberapa orang, sisanya di mobilku," ucap Sultan.
"Oke!" Jawab Tedi yang masuk ke mobilnya.
Sekitar 4 orang naik di mobil Tedi dan 3 orang naik di mobil Sultan termasuk bosnya.
"Saatnya aku harus punya pasukan, aku sudah terlalu banyak musuh dan aku harus punya anak buah untuk bergerak, jika hanya aku sendiri meskipun aku bisa menahan segalanya tapi suatu saat nanti aku takut mereka akan menyakiti orang terdekatku," ucap Sultan dalam hati.
"Nama kamu siapa?" Tanya Sultan.
"Hendri," jawab bosnya itu.
"Baik Hendri, untuk sementara kamu bos pasukan ini, kamu nanti untuk sementara akan aku pekerjakan menjadi pengaman di perusahaanku, tapi akau akan mencari orang lain lagi, untuk kita membuat sebuah pasukan khusus, kau tau kan aku sekarang sudah terlalu banyak musuh dan julukan raja judi juga suatu saat nanti mereka akan merebutnya kembali dan kota W juga tidak akan tinggal diam saja karena nama raja judi mereka aku ambil, aku butuh orang banyak untuk menjadi penjaga, apa kau mengerti?" Tanya Sultan setelah menjelaskan panjang lebar.
"Siap! Laksanakan Bos," ucap Hendri hormat.
Sampailah di suatu tempat sebuah toko baju.
"Ini uang 5.000.000 buat beli baju yang layak di pakai dan 3.000.000 ini untuk beli makanan, kalian tunggu saja di sini, aku akan menjemput kalian setelah pulang kuliah, ingat jangan kemana-mana dan jangan beli minuman keras, jika kalian berani kabur aku akan mengejar kalian sampai ke sarang ular," ancam Sultan.
"Siap Bos, terima kasih uangnya Bos," ucap Hendri.
Sultan dan Tedi pun melajukan mobilnya setelah menurunkan mereka.
Ting ting.
Selamat Anda mendapatkan 30 poin.
Poin Anda menjadi 160 poin.
Selamat Anda mendapatkan 30.000.000
Hadiah Anda menjadi 170.000.000
"Tolonggggg... ada perampokan!" Teriak para pegawai toko baju.
"Hey! Hey! Kalian bilang kami perampokan nih uang 5.000.000 carikan baju yang cocok buat kami bertujuh," ujar Hendri melemparkan uang di atas meja kasir.
"Maaf Tuan, kami pikir Tuan mau merampok, karena wajahnya serem banget," ucap karyawan tersebut merasa bersalah.
"Emang nggak pernah lihat muka orang seram? Cepat carikan sana," perintah Hendri.
"I-iya Tuan, akan segera kami carikan," jawab pegawai itu.
Mereka pun mencari stelan jas dengan fashion kekinian dan beberapa baju jaket dan kaos yang senada.
"Ini bajunya Tuan, silakan di tes dulu," ucap pegawai itu menyerahkan baju yang mereka pilih.
Hendri dan kawan-kawannya masuk ke ruang ganti dan mengenakannya. "Apa ini cocok?" Tanya Hendri kepada pegawai tersebut.
__ADS_1
"Ehem... ini sangat cocok dengan Tuan," jawab mereka. Pakaian mereka malah terlihat band boy metal.
Hendri pun dan Teman-temannya pergi dari toko baju tersebut dan segera mencari makanan.
"Makan apa kita?" Tanya Hebdri.
"Makan yang enak bos sisanya buat beli minuman keras," ujar temannya.
"Kamu tadi nggak dengar bos besar bilang jika tidak boleh minuman keras," ucap Hendri.
"Dia kan nggak tahu jika kita minum dan menjelang dia pulang kuliah bau akan hilang," ucap temannya yang lain.
"Cukup! Jika kalian ingin mengikuti dia ikut apa dia, jika tidak silakan pergi dan jangan mengikutiku lagi," jawab Hendri tegas.
"Oke! Aku pergi, aku tidak akan mengikuti geng yang payah ini," ucap satu temannya pergi begitu saja.
"Hey! Kamu mau kemana?" Tanya temannya tak rela ia pergi.
"Cukup!" Bentak Hendri. "Biarkan saja dia pergi, apa kalian tak lelah menjadi orang jahat, mengikuti bos besar salah satu kita bisa mencari nafkah yang benar," ucap Hendri membuat para teman-temannya diam.
Sesampainya Sultan di kampus. "Apa Michela tidak datang ke kampus?" Tanya Sultan karena mendapati Michela tidak terlihat.
"Mungkin dia nggak dateng," jawab
Tedi.
"Semoga saja dia tidak terjadi apa pun padanya," ucap Sultan khawatir.
"Mahasiswa bernama Sultan harap segera ke ruangan dosen sekarang," terdengar pengeras suara kampus.
"Nama mu di panggil Tuh," ujar Tedi memukul pundak Sultan.
"Ya aku kesana sekarang," jawab Sultan.
Sultan pun segera menuju ruang dosen yang memanggilnya.
"Permisi, apa tadi ada yang memanggil nama saya?" Tanya Sultan sopan.
"Ya aku yang memanggilmu tadi," jawab Aurora.
"Eh, ada apa Buk?" Tanya Sultan.
"Ayolah, jangan memanggilku Buk, kita seumuran," jawab Aurora kesel. Sultan cengengesan.
"Ayo ikut aku sekarang," ujar Aurora menarik tangan Sultan ke suatu ntemoat yang sangat jarang di datangi mahasiswa dan juga sebentar lagi para mahasiswa masuk ke ruangannya masing-masing jadi mereka tidak punya waktu buat berkeliaran. Di situ kesempatan Aurora untuk berbicara 4 mata dengan Sultan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
TERIMA KASIH
__ADS_1