System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 185


__ADS_3

Sultan membiarkan Ayahnya tidur sedangkan ia berjaga.


xxx


Subuh pun tiba, mereka akhirnya sampai juga di pelabuhan tanpa ada halangan apa pun di perjalanan.


Mobil Sultan kembali lagi seperti sedia kala, dan mereka pun melajukan mobilnya di jalanan.


Sampailah di hotel, Sultan memarkirkan mobilnya dan membopong Ayahnya masuk ke dalam hotel dan mendudukkannya di atas sofa.


"Pak Han, di mana Ibu?" tanya Sultan kepda Han yang sudah stanby setiap saat.


"Sepertinya masih Tidur Tuan, sejak kepergian Tuan Nyonya tampak sedih dan Nyonya pergi keperusahan hanya sebentar, dan ia pun kembali," ucap Han menjelaskan.


"Iya, selama kepergianku, aku tidak pernah memberi ibu kabar, wajar saja dia khawatir, ya sudah biarkan dia tidur sejenak," ucap Sultan.


"Oh ya Tuan, Siapakah orang ini?" tanya Han.


"Oh iya, aku lupa memberi tahu, ini Ayahku, dan Ayah, di Pak Han pengurus hotel ini, dan hotel ini adalah milik kita," ucap Sultan memperkenalkan.


"Maafkan saya Tuan besar, saya tidak mengenali Anda, Saya Han, pengurus hotel ini," ujar Han memperkenalkan diri.


"Saya Latif, Ayahnya Sultan," ucap Ayah.

__ADS_1


"Oh ya, apa kamarku sudah siap?" tanya Sultan.


"Sudah Tuan," angguk Han.


"Tolong bantu aku bawakan Ayah ke dalam kamar," pinta Sultan.


"Baik Tuan," angguk Han dan membantu membopong Ayah masuk ke kamar.


Mereka pun mendudukan Ayah Sultan dengan hati-hati lalu meletakkan bantal di pundaknya.


"Han, tolong sediakan sup panas untuk Ayah,"


"Baik Tuan," ucap Han. Han pun segera berlari ke dapur untuk memesankan sup kepada koki yang sudah mereka temukan.


"Setelah Ayah makan nanti dan beristirahat, baru aku akan istirahat," ucap Sultan.


"Kau memang anak yang berbakti Sultan, Ayah bangga padamu," puji Ayah sambil tersenyum.


Setelah sup masak, Han segera membawakan ke dalam kamar Sultan.


Ibu keluar dari kamarnya sambil memegang kepalanya.


"Eh Han itu sup untuk siapa?" tanya Ibu heran, biasanya pegawai hotel yang membawakan makanan untuk para pengunjung.

__ADS_1


"Oh, ini punya Tuan besar, Tuan sudah pulang subuh tadi," ucap Han.


"Oh benarkah? Di mana mereka?" tanya Ibu dengan mata berbinar.


"Di kamar Tuan," ucap Han.


Ibu langsung berlari menuju kamar Sultan dan ketika membukanya mata Ibu terbelalak.


"Ini tidak mungkin, ini pasti mimpi, benar ini pasti mimpi," ucap Ibu kembali keluar menyender di balik tembok sambil menutup mulutnya.


"Ibu masuklah, ini Ayah," ujar Sultan menghampiri Ibunya.


"Apa itu benar-benar Ayahmu?" tanya Ibu dengan mata berkaca-kaca.


"Ibuk, ini aku, aku masih hidup, tak maukah kau mendekatiku? Tidakkah kau merindukanku?" tanya Ayah dari dalam kamar.


"Tuhkan, suara Ayah," ucap Sultan merangkul pundak Ibu untuk masuk ke dalam kamar.


Ibu pelan-pelan melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan meneteskan air mata.


"Ayah," ucap Ibu menangis mendekati Ayah dan duduk di sisi ranjang.


"Ayah... Syukurlah jika Ayah masih hidup, selama ini Ibu pikir Ayah sudah tidak ada lagi, Ibu pikir kita tak pernah bertemu lagi, selama ini ibu hanya bisa menahan rindu tanpa bisa bertemu langsung dengan Ayah," ucap Ibu dengan memegang tangan Ayah

__ADS_1


BERSAMMBUNG


__ADS_2