
Awalnya Sultan berpikir, jika ia menolongnya poin yang ia kumpulkan akan berkurang, sedangkan ia harus melindungi ibunya dengan poin, tapi... nyawa bapak yang di depan matanya lebih penting.
SULTAN
(Oke sistem, mulai penyembuhan)
SISTEM
(Letakkan tangan Anda di dadanya)
Sultan pun meletakkan tangannya di dada bapak tersebut.
"Hey apa yang kamu lakukan?" teriak para warga itu kaget.
"Diam!" teriak Sultan.
Mulai penyembuhan...
Transfer...
10%...
20%...
30%...
40%...
Beransur-ansur kepala bapak itu menutup dengan sendirinya dan beserta organ-organ lain juga berpindah ke tempatnya semula.
50%...
60%...
70%...
90%...
100%...
Selesai...
Poin Anda berkurang 60 poin.
Poin Anda menjadi 105 poin.
Bapak itu mulai membukakan matanya pelan-pelan.
"Bagaimana perasaan Bapak?" Tanya Sultan menatap wajah bapak itu dekat.
"Eh... saya ada di mana?" tanyanya dengan mata yang masih sayu. Sultan membantunya bapak tersebut untuk duduk.
"Bapak sedang di jalanan, ayo saya bawa bapak ke tempat yang aman, di sini banyak pengendara yang lalu lalang," ujar Sultan memapah bapak tersebut membawanya ke tepi jalan.
"Lho tadi saya yakin bapak itu sudah tak bisa di selamatkan lagi dan kepalanya pecah, kenapa sekarang dia baik-baik saja, apa anak muda itu yang menyembuhkannya?" tanya para warga.
__ADS_1
"Apa dia tabib turun langit yang bisa menghidupkan orang mati?" tanya warga yang lain terbelalak.
"Benar, jangan-jangan dia tabib dari langit, wahh sungguh beruntung melihatnya hari ini," ujar mereka dan berkerumun di dekat Sultan.
"Apa yang terjadi dengan saya Nak?" tanya bapak itu kepada Sultan.
"Bapak tadi kecelakaan di tabrak mobil, dan mobil itu sudah kabur, anak inilah menyelamatkan nyawa Bapak," jawab sang istrinya dan menyeka darah di kepala bapak tersebut.
"Saya benar-benar berterima kasih kepadamu Nak, sayangnya bapak orang susah, nggak ada yang bisa bapak berikan kepadamu, mungkin jika jika nyawa bapak tidak di selamatkan olehmu bagaimana nasib istri dan anak saya, saya benar-benar berterima kasih," tangis bapak itu sambil memegang tangan Sultan.
"Udah ngak apa-apa, saya ikhlas bantu kok, bapak juga jaga kesehatan dan hati-hati di jalan," pesan Sultan berdiri.
"Terima kasih Nak," ucap bapak itu lagi.
"Tabib dari langit, minta keberkahan kesehatan untuk keluarga kami," mohon salah satu warga berlutut di depan Sultan.
Sultan😲😲
"Tabib dari langit anak saya sedang sakit tolong sembuhkan, dan beri kami kesehatan 1 keluarga," mohon salah satu warga yang lain.
"Saya, beri saya ke berkahan tabib, akan saya bayar berapapun yang tabib mau," ujar seorang pria separuh baya.
Sultan sangat terkejut dengan tingkah mereka. "Ini udah ngak benar nih," ujar Sultan lari dengan kecepatan tinggi sehingga para warga tidak bisa mengejarnya.
"Tabib, tabib dari langit," teriak para warga tersebut. Sultan masuk mobil dan melajukan mobilnya kembali menuju rumah Tedi.
Sesampainya di rumah Tedi, Sultan mengetuk pintu rumah.
Tok.
Tok.
Tok.
"Sultan Tante," jawab Sultan. Ibu Tedi pun membukakan pintu untuk Sultan.
"Ayo masuk Sultan," ujar ibu Tedi.
"Iya Tante," angguk Sultan dan ia mengikuti ibu Tedi yang menuju ke kamar Tedi.
"Sultan," panggil Tedi tersenyum melihat sahabatnya datang.
"Ya udah kalian ngobrollah, Tante ke dapur dulu," ujar ibu Tedi.
"Ya Tante," angguk Sultan.
"Kamu pulang kenapa ngak ngasih tau aku?" Tanya Sultan.
"Aku tau kamu pasti sibuk, lagi aku juga baru sampai," jawabnya.
"Setelah sembuh nanti aku mau tunjukkan sesuatu kepadamu."
"Wah jadi penasaran, apa itu?" tanya Tedi penasaran.
"Tunggu kamu sembuh baru aku tunjukkan," jawab Sultan rahasia.
__ADS_1
"Sekarang aku sudah sembuh," ujar Tedi berusaha bangun.
"Seperti ini sembuh, baru separuh jalan udah pingsan duluan sebelum sampai tempat tujuan," ejek Sultan.
SULTAN
(Sistem, apa bisa menyembuhkan
SISTEM
(Lagian Tuan hanya bisa menolong seseorang di saat dia hampir mati, dan itu juga menghabiskan banyak poin, bapak tadi dia hanya beruntung, tak semua orang bisa kita selamatkan, meskipun sistem bisa segalanya, tapi sistem tidak bisa mengubah takdir, jika di paksakan mungkin sistem bisa saja rusak)
Sultan jadi terdiam, benar juga apa yang di katakan sistem, tidak ada apa pun yang bisa mengubah takdir.
"Hey kenapa tiba-tiba kamu terdiam?" tanya Tedi melihat Sultan melamun.
"Oh anu... aku... tidak apa-apa," jawab Sultan. Sultan dan Tedi mengobrol panjang hingga malam tiba.
"Udah malam nih, aku pulang dulu," pamit Sultan.
"Iya, hati-hati di jalan," pesan Tedi. Sultan mengangguk dan ia keluar dari rumah Tedi lalu masuk ke mobilnya.
Saat di perjalanan melewati setiap gang, hingga sampai di sebuah gang sempit Sultan memberhentikan mobilnya dan melihat sekelompok orang yang sedang merokok dan seorang pria yang berlutut dan kedua tangannya di ikat kebelakang. Mirisnya tidak ada yang peduli padahal ada beberapa orang yang lewat di gang tersebut dan melihat kejahatan mereka.
Ada 2 orang pria yang masih muda lewat dan melihat mereka.
"Apa lihat-lihat, mau ku ikat seperti ini juga," ancam pria yang merokok itu membelalakkan matanya. kedua pria itu ketakutan dan pergi melewati mereka.
Melihat itu, Sultan keluar dari mobilnya dan mendekati ke arah mereka.
"Kalian buat kejahatan di sini ngak takut jika ada polisi datang menangkap kalian?" yanya Sultan menyender di dinding gang tersebut.
"Heh, kapan dia datang?" tanya pria itu kepada temannya.
"Ngak tau," jawab temannya mengelengkan kepala dan mengangkat bahu.
"Heh! Siapa kamu? Mau menjadi pahlawan? Mau ku ikat seperti dia," gertak pria itu bercekak pinggang.
"Dia punya salah apa sampai kalian siksa dia seperti ini?" tanya Sultan mendekati pria yang di ikat tangannya.
"Kamu jangan ikut campur," ujarnya marah.
"Kamu salah apa dengan mereka?" tanya Sultan kepada pria yang berlutut itu.
"Aku bertengkar dengan adiknya dan adiknya mengadu dengan kakaknya dan adiknya ingin balas dendam denganku," jawab pria itu itu menundukkan kepalanya.
"Kalian emang nggak adil jika begini, biar adil bagaimana jika aku juga ikut," tawar Sultan.
"Hehehe, apa kamu yakin? Kami ada 7 orang dan kalian berdua, jika tidak mau babak belur lebih baik jangan ganggu kami yang sedang bersenang-senang," ujar mereka tertawa mengejek.
"Heh! Sepertinya kalian percaya diri sekali," ujar Sultan berdiri dan mengulung lengan bajunya, terilhatlah otot-otot kekarnya.
"Ototmu boleh juga," ujar pria itu menepuk otot Sultan. Sultan menagkapnya tangannya dan langsung membantingnya ke tembok, pria itu langsung terduduk pingsan. Semua teman-temannya terdiam seketika.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH
TERIMA KASIH