
"Terima kasih Tuan," ucap pemilik warung makan. "Hey kalian bawakan makanan dan minuman untuk Tuan ini," teriak pemilik rumah makan kepada pegawainya.
"Iya Buk," ucap pegawainya bergegas mengambilkan makanan dan memasukkan di piringnya.
Makanan sudah makan, Sultan makan sambil memantau keadaan di sana. Ia sudah menunggu 3 jam lamanya tapi belum ada kelihatan orang yang ia tunggu.
"Buk kok orang itu nggak pergi-pergi," bisik Pegawainya.
"Oh, dia sewa tempat duduk katanya tadi dan udah di bayar juga," jawab pemilik warung makan.
"Ooo," angguk pegawainya.
Tak lama dari itu datanglah seorang pria, tapi pria itu berbeda dengan pria waktu yang ia temui waktu itu.
Pria itu punya tato di tangannya yang sama dengan gambar di kalung. "Ini dia," ucap Sultan melihat ke arah pria itu, tak lama pria itu pergi dengan membawa bungkus nasi yang banyak.
Pria itu segera pergi dan Sultan juga beranjak dari tempat duduknya. Ia masuk mobilnya dan pelan-pelan mengikuti arah pria itu pergi.
Pria itu masuk mobil pas di tikungan dan mereka pun melajukan mobilnya. Sultan terus mengikuti arah tujuan mereka tapi dengan jarak yang jauh.
Mobil itu berbelok lagi dan ketika Sultan ingin ikut berbelok, mobil mereka berhenti di sebuah rumah.
Mereka pun turun dari mobil Sultan juga ikut turun dari mobil dan mengendap-endap melihat mereka masuk.
"Bagaimana aku masuk ya, oh iya, akukan punya kalung," ucap Sultan dan dengan santainya ia masuk.
"Siapa kamu?" tanya mereka melihat kedatangan Sultan.
Sultan memperlihatkan kalungnya dan mereka terdiam sejenak.
__ADS_1
"Tapi kami tidak pernah melihatmu," ujar pria yang lain.
"Tentu saja kalian tidak pernah melihatku karena aku di tugaskan di tempat lain dan juga aku masih baru," jawab Sultan.
"Oh di mana kamu di tugaskan?" tanya mereka penasaran.
"Aku di tugaskan di kota wilayah timur," jawab Sultan ngasal.
"Oh ya, kamu pasti taukan apa yang terjadi di kota timur di markas itu?" tanya mereka.
"Markas itu? Maksudmu Randi?" tebak Sultan.
"Iya, tapi setahuku tidak ada yang berjaga di sana dan di biarkan terbengkalai karena takut ketahuan," jawab yang lain.
"Ya, sekarang aku yang berjaga di sana, tapi hanya mematau saja," jawab Sultan.
"Kau anak baru, tapi sudah mendapatkan kalung berwarna coklat seperti kami yang sudah lama ini," ucap pria yang lain.
"Apa keahlianmu?"
"Membunuh orang," jawab Sultan.
"Semua orang juga punya kemampuan itu," ucap mereka memcibir.
"Baiklah begini, aku masih baru di sini, bolehkah kalian memberiku sedikit arahan yang mungkin belum aku paham biar kedepannya aku bisa bekerja dengan baik," ucap Sultan.
Merka terdiam sambil memandang satu sama lain.
"Mana mungkin kami percaya kamu begitu saja, bisa saja kau dapat kalung itu setelah membunuh teman kami yang tidak kami ketahui," ucap pria yang lain mencurigai Sultan.
__ADS_1
"Ayolah, kalian lakukan apa agar kalian percaya?" tanya Sultan berusaha menyakinkan.
"Bunuh orang lewat itu," ujar mereka menunjuk ke arah seorang bapak-bapak yang membawa rumput.
Sultan melihat pria tua yang susah payah membawa rumput.
"Kalian memang kejam, dia tidak bersalah kenapa kalian jadikan di sebagai syarat agar kalian percaya kepadaku," ucap Sultan.
"Hanya untuk membuktikan jika kau memang teman kami, di organisasi ini tidak ada namanya belas kasihan, Ini baru kami yanug nyuruh, jika ketua yang menyuruhmu mungkin ia akan mengajukan syarat untuk membunuh salah satu kelurgamu agar ia percaya jika kamu ingin mengabdi, jjika kau ingin kami mempercayaimu maka lakukan," ucap mereka tertawa memandang satu sama lain.
"Kalian anggap apa nyawa orang? Hanya mainan? Bagaimana jika kalian di posisi yang tidak baik dan nyawa kalian yang di pertaruhkan bagaimana?" tanya Sultan yang mulai geram.
"Heh! Kenapa kamu ngotot! Kami hanya membunuh pria tua itu, bukan menyuruhmu bunuh diri," ucap mereka yang masih tertawa.
"Kurang ajar! Sepertinya kalian tak sayang nyawa," ucap Sultan menendang wajah pria yang asik dengan tawannya dan menghempasnya ke lantai lalu mematahkan leher mereka hingga K.O.
"Hey! Apa yang kau lakukan!" teriak temannya waspada.
"Aku sudah yakin jika kau memang bukan orang dalam," ucap pria yang lain.
Mereka pun menyerang Sultan dengan sigap, Sultan menangkapnya dan mematahkan tulang punggungnya lalu meninju dadanya dengan keras hingga muntah darah.
Sedangkan mereka yang lain mengambil senjata seperti besi padat panjang, balok kayu dan senjata tajam lainnya.
"Heh! Kau tidak akan bisa melawan kami semua," ujar salah satu priab itu tersenyum licik
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
__ADS_1
TERIMA KASIH