
"Ayolah Sultan, kenapa kau bertindak terlalu jauh," ucap Aurora khawatir.
"Entahlah, aku sangat penasaran ingin mencari rahasia organisasi itu, aku ingin menghancurkannya karena mereka terlalu kejam," ujar Sultan.
"Entah apa yang ada di pikiranmu Sultan sampai kau masuk terlalu dalam, aku akan mendoakan yang terbaik untukmu Sultan," ucap Aurora sedih.
"Ayolah, kau seperti ini seperti mengatakan selamat tinggal seolah-olah aku tak kembali lagi," ucap Sultan tertawa melow.
"Aku takut jika kamu benar-benar tidak kembali Sultan, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu, siapa yang akan tahu," ucap Aurora sedih menatap Sultan dengan mata Sayup.
"Aku sudah sering mengalami perang, jadi jangan khawatir oke!" ucap Sultan memegang pundak Aurora.
"Semoga saja begitu," ucap Aurora menyeka air matanya.
"Ya sudah, aku balik ke ruangan dulu, aku hanya ingin mengatakan itu saja," ucap Sultan pamit.
"Ya sudah jika begitu, kamu hati-hati," ucap Aurora membalikkan badannya dan pergi.
"Sepertinya dia sangat sedih," ucap Sultan melihat punggung Aurora yang semakin menjauh.
Sultan pun kembali masuk ke ruangannya.
"Eh kau dari mana?" tanya Tedi yang sudah menunggu lama di ruangan.
"Jalan-jalan," jawab Sultan ngasal.
"Tapi ngomong-ngomong ada apa dengan bajumu?" tanya Tedi heran melihat baju Sultan seperti gembel, ada sedikit robekan di lengan dan di dadanya beserta warna hitam seperti oli di baju warna coklat mudanya.
"Biasalah, menyelamatkan orang adalah prioritas utama," ucap Sultan duduk di kursinya.
Kali ini dosen yang masuk adalah Aurora. Di pelajaran berlangsung Aurora terus melihat ke arah Sultan membuat Sultan tidak nyaman belajarnya dan Sultan memilih tidur di kelas.
__ADS_1
Setelah pembagian materi selesai. "Heh tadi kenapa nggak fokus mengikuti pelajarannya?" tanya Aurora mendekati Sultan.
"Bagaimana bisa fokus, kamu sih liatin aku terus," jawab Sultan.
"Baiklah, besok aku tidak melihatmu lagi?" ucap Aurora.
"Ya, itu baru bener," ucap Sultan menunjuk ke arah Aurora dengan jari membentuk pistol.
"Ya sudah aku pergi dulu," ucap Aurora pergi dengan langkah gontai.
"Eh apa cuma perasaanku saja ya, kenapa hari ini Aurora tampak beda ya, apa sesuatu terjadi padanya?" tanya Sultan dalam hati.
"Semoga saja tidak," ucap Sultan mengelengkan kepalanya.
Triring
Triring
Triring
"Halo, ketua menyuruhmu datang," ucap salah satu teman organisasinya.
"Baiklah, katakan padanya 10 menit aku akan sampai," ucap Sultan mematikan panggilannya dan menuju mobilnya.
"Sultan kamu mau ke mana?" teriak Tedi dari kejauhan.
"Kamu jangan ikut aku," balas Sultan yang melajukan mobilnya.
"Ya elah, aku tih cuma mau tanya dia mau kemana, jawabnya gitu, emang aku suka ngikutin dia apa," omel Tedi.
10 menit Sultan sampai di tempat.
__ADS_1
"Mari duduk sini, aku ingin bicara denganmu," ucap ketua tersebut.
Sultan pun duduk di kursi depan ketua tersebut.
"Ini adalah peta untuk perluasan wilayah, kita akan menghancurkan markas kecil ini dan kau ketua di wilayah barat, sedangakan ketua yang lain akan memimpin wilayah lainya, kita taklukkan geng-geng kecil itu paksa mereka untuk masuk ke organisasi tampa perlawanan, aku percaya padamu kau orang yang tegas," ucap ketua itu.
Sultan mengambil peta itu secara saksama. "Mereka sudah mulai bertindak, seharusnya aku juga harus buat rencana," ucap Sultan dalam hati.
"Jika aku boleh tau, di mana letak markas besar?" tanya Sultan yang lari dari pembicaraan.
"Ada apa? Kau ingin ke sana?" tanya ketua itu.
"Iya, aku sangat penasaran bentuknya dan juga ingin melihat markas itu, apa seperti istana?" tanya Sultan mencari tahu.
"Aku ada Fotonya, ini bentuknya, masalah markasnya berada di mana ini tidak bisa di beri tahu karena hanya orang penting yang akan tahu," ucap ketua itu memperlihatkan gambar foto yang sempat ia ambil sebelum ia pulang dari sana.
Sultan pun melihatnya sambil mengkerutkan dahinya. "Ketua bolehkah aku minta foto ini, Ini sangat indah sekali," ucap Sultan tersenyum seolah-olah ia sangat mengaguminya.
"Ya ambil saja, tunggu kau menjadi orang kepercayaan kepala organisasi, nanti kau akan bisa ke sana," ucap ketua itu.
"Aku tidak peduli dengan keindahannya, yang pasti aku akan melacak markas ini lewat sistem," ucap Sultan dalam hati sambil menyengir.
Ketua itu pun mengirimnya gambar ke ponsel Sultan. "Ini benar-benar mengagumkan, aku ingin sekali ke sana," ucap Sultan senang. Tentu saja dia senang karena ia akan ke sana setelah melacaknya dan mencari rahasia mereka.
"Suqay begitu saja untuk hari ini, ingat beberapa hari lagi kita berangkat, persiapkan semuanya, 3 hari sebelum berangkat kamu stanby terus di sini, kita akan memilih siapa saja yang berangkat dan tinggal di markas," ucap ketua itu.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
TERIMA KASIH
__ADS_1