System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 105


__ADS_3

"Sultan, itu bukannya batu yang..." ucapan Tedi terputus dan mereka berdua saling berpandangan.


"Sultaaan, bagaimana ini, gadis itu sungguh pandai membuat masalah," ucap Tedi menangis panik dan menguncang-guncangkan tubuh Sultan.


"Ssssttttt diam! Jika kamu berprilaku seperti ini, orang akan curiga," bisik Sultan.


"Oke! Aku tenang," ucap Tedi menarik nafas dan menghempasnya dengan kuat.


"Jadi aku harus bagaimana?" Bisik Tedi panik.


"Habis makan kita ke rumahmu, nanti sampai di sana kita bicarakan, di sini kita nggak bisa bicara dengan tenang," ucap Sultan serius.


"Baiklah jika begitu," ucap Tedi melihat sekeliling ia merasa ada memantaunya, tapi sebenarnya itu hanya perasaannya karena terlalu ketakutan.


"Ko, makanannyo dah sampai," ucap Uni itu.


"Terima kasih Ni," ucap Sultan. Sultan pun menyantap makanan tersebut sedangkan Tedi jadi tak selera makan.


"Ayo di makan, kamu nanti nggak punya tenaga," ucap Sultan.


"Ya ya aku makan," ucap Tedi makan dengan gelagapan.


Setelah makan mereka segera berangkat menuju rumah Tedi.


Sesampainya di rumah Tedi, Tedi langsung bergegas masuk rumahnya dan di ikuti Sultan.


"Lho kok udah pulang?" Tanya ibu Tedi yang sedang memegang kotak yang berisi giok tersebut.


"Ibu jangan pegang itu!" Teriak Tedi merampas kotak tersebut.


"Lho ada apa kanu ini, ibu cuma lihat aja kok, batunya cantik, kalau di buat liontin kalung pasti cantik," ucap ibu Tedi.


"Ayolah ibu ini bukan batu sembarangan, jika ibu mau, ku belikan 10 di pasar," ucap Tedi.


"Heh, batu ini berbeda dengan batu yang lain, di dalamnya seperti ada tulisan, apa ya, seperti kode," ucap ibu tedi mengingat-ingat sambil berpikir.


"Apa? Ada kode?" Tanya Sultan dan segera mengambil batu tersebut dan mendekatan ke matanya, melihat dengan sebelah mata, ternyata benar, di dalamnya seperti kode atau semacam kata sandi.


"Pantes saja mereka mencari ya, Tante, kalo ada orang bertanya atau aku harap Tante jangan memberi tahu kepada siapa pun itu, karena ini menyangkut nyawa Tedi dan nyawaku," ucap Sultan serius.


"Benar benar benar," ucap Tedi mengangguk ketakutan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ibu Tedi menekuk alisnya heran.


"Pokoknya begitu saja, jangan beri tahu siapa pun tentang batu ini atau jangan jawab apa pun jika seseorang bertanya, bilang saja tidak tahu, aku mohon Tante," pinta Sultan.


"Hm... baiklah jika begitu," jawab Tante yang masih kebingungan namun ia tak mau bertanya lagi.


"Jadi sekarang kita harus bagaimana, apa kita harus menyerahkannya?" Tanya Tedi.

__ADS_1


"Kalau kau menyerahkannya kau akan di anggap pencuri dan akan di penjara 8 tahun, aku juga penasaran kode apa ini?" Ujar Sultan. "Ayo ke rumahku dulu, ku rasa rumahku sudah kosong kita ke sana dulu," ajak Sultan.


"Baiklah," jawab Tedi setuju.


Mereka pun kembali berangkat ke rumah Sultan. Dan untung saja rumah Sultan sudah kosong.


Mereka berdua masuk kamar.


Sultan duduk di kasurnya dan berpikir keras.


"Bagaimana jika kita melemparnya batunya ke rumah mereka," saran Tedi.


"Rumah mereka pasti banyak CCTV dan penjaga lainnya karena batu giok mereka hilang tentu saja mereka memperkuat penjagaannya," jawab Sultan.


"Bagaimana jika kita membuangnya di tengah jalan saja," saran Tedi lagi.


"Hey... ini barang berharga dan ada kode rahasianya, kita harus menyimpannya baik-baik, jika kodenya tersebar, takutnya malah jadi petaka," ujar Sultan kesal.


"Jadi kita harus bagaimana?" Tanya Tedi lagi.


"Kotak ini kita masukkan dalam kotak lagi dan kita tanam di tanah lalu di atasnya kita tanam pohon," saran Sultan.


"Ya udah kalo begitu, ikut katamu saja," jawab Tedi pasrah.


Sultan masuk ke kamar ibunya, ia ingat waktu pindah, ibunya ada membawa kotak kayu kosong yang berukuran 15x5 cm.


Sultan pun mencongkel kunci pintu tersebut dan akhirnya terbuka.


Sultan pun segera mencarinya kotak tersebut dan ia pun menemukan kotak tersebut, tak sengaja ia menjatuhkan sebuah bedak tua yang buat pajangan oleh ibunya.


Bedak padat itu jatuh hingga bedaknya pecah dan bertaburan, ketika Sultan mengambinya bedak itu jatuh dan di alas bedak itu ada sebuah kode.


"Eh, kode? Kok sama dengan kode tadi, atau cuma perasaanku saja," ucap Sultan.


"Tedi, ke sini sebentar!" teriak Sultan kepada Tedi dan Tedi segera masuk kamar ibu Sultan sambil membawa batu tersebut.


"Mana batu tadi?" tanya Sultan.


"Ini," Tedi pun menyerahkan kotak kecil tersebut dan kembali melihat kode tersebut.


"Apa? Kenapa ini sama?" tanya Sultan tak mengerti.


Seketika Sultan termangu, ia sangat kebingungan, rahasia apa yang di simpan ibunya yang tidak ia ketahui.


"Ada apa Sultan?" tanya Tedi.


"Ini... ini kodenya sama," ucap Sultan. Kali ini Sultan yang kebingungan.


"Apa! Kenapa ini semua jadi bersangkutan Sultan?" tanya Tedi tak mengerti.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga masih bingung, belum lagi masalah kalung terselesaikan dan ini juga kode yang sama kita temui, apa maksud dari ini semua," ucap Sultan menekuk alisnya.


SULTAN


(Sistem, apa kau tahu sesuatu?)


SISTEM


(Ini masih di luar jangkauan Sistem)


SULTAN


(Aku mau tanya satu hal, dari mana kau berasal)


SISTEM


(Entahlah, sistem di buat oleh seorang ahli ilmuan tinggi, yang sistem sendiri tidak bisa mendeteksi wajah pembuat itu, sistem hanya di tinggal sebuah catatan di penyimpanan yang bertulis, Tuanmu adalah Sultan dan ia juga memasukan DNA tuan di sistem dan itu membuat sistem mengenal Tuan. Awalnya sistem pikir jik Tuan pembuat sistem, tapi setelah di lihat tingkah konyol dan amburadul Tuan, tidak mungkin Tuan pembuat sistem)


SULTAN


(Baiklah jika begitu, aku akan memecahkan misterinya)


"Begini saja, batu itu biar aku yang pegang," ucap Sultan.


"Apa tidak apa-apa kau yang memegangnya Sultan? Bagaimana jika kamu yang mereka tangkap?" tanya Tedi khawatir.


"Tenang saja, jika waktu itu sampai, aku akan menghadapinya," jawab sultan mantap.


"Baiklah," jawab Tedi mengangguk.


Sultan pun meletakkan kembali kotak tersebut dan membersihkan sisa bedak yang mengotori lantai kamar ibunya dan mengambil tempat bedak itu dan memasukkannya ke sakunya.


"Ya udah kita kembali ke kamarku saja," ajak Sultan.


Dan mereka pun kembali ke kamar Sultan.


"Apa yang ingin kau lakukan pada barang itu?" tanya Tedi.


"Aku akan menanyakan kepada Ibu," jawab Sultan baring di kasurnya sambil melihat giok dan tempat bedak ibunya.


"Sultan, aku rasa batu itu aman denganmu, jadi lebih baik aku pulang saja," ucap Tedi.


"Baiklah jika begitu, kamu hati-hati di jalan," ucap Sultan. Tedi mengangguk dan meninggalkan Sultan di kamarnya.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2