
Sultan diam tanpa mempedulikan ucapan Ailexa dengan melipat tangannya.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu baik juga ya, ngasih uang dengan cuma-cuma pada gadis tadi," puji Ailexa.
"Aku emang baik, kamunya aja yang jahat," jawab Sultan manyun.
"Idih... kau membanggakan dirimu yang baru sajaku puji dikit," ucap Ailexa.
Sultan pun melangkahkan kaki pergi dari hadapan gadis yang menyebalkan itu.
"Kalo pria sombong sepertimu, nggak ada wanita suka sama kamu!" teriak Ailexa.
Sultan tak mengubrisnya dan terus pergi. "Aku kira semua wanita tidak berani denganku, ternyata ada juga usil, sungguh gadis menyebalkan," omel Sultan.
Ting ting
Misi selesai.
Selamat Anda mendapatkan 20 poin.
Poin Anda menjadi 70 poin
Selamat Anda mendapatkan 200.000.000
Hadiah Anda menjadi 3.760.199.650.000.
Ketika Sultan masuk ruanga pelajaranpun selesai.
"Sultan, kamu katanya ke toilet, tapi kenapa lama sekali, apa yang kamu lakukan di sana? Kamu BAB batu ya?" tanya Aurora dan membuat semua di ruangan tertawa.
Sultan menatap Sayup ke arah Aurora. "Tunggu saja kamu ya," ucap Sultan mengancam dengan kode matanya.
"Ayo ikut aku ke kantor," perintah Aurora.
__ADS_1
Sultan pun mengikutinya.
Sampainya di sebuah tempat. "Katanya ke kantor, kenapa di sini?" tanya Sultan.
"Kau bodoh, jika kita ke kantor apa yang kita omongi bakal ketahuan orang," jawab Aurora.
"Kalo takut ketahuankan bisa bicara lewat telpon di rumah, kenapa harus di sini?" tanya Sultan lagi.
"Emangnya kenapa? Nggak boleh jika dosennya ingin berbicara dengan mahasiswanya," jawab Aurora.
"Nanti apa kata mahasiswa yang lain, dosen aja di hembat," ujar Sultan mencibir.
"Udah ah, becandanya, ada yang lebih penting lagi, seseorang yang masuk organisasi itu dan kemudian di berkhianat sekarang dia sudah mati di bunuh beserta anak dan istrinya yang sudah kabur duluan," ujar Aurora serius.
"Kenapa aku merasa familiar ya, dengan orang yang kau sebutkan?" tanya Sultan mengosok-gosok dagu dengan jari telunjuknya.
"Oh ya, aku punya fotonya," ucap Aurora mengambil ponselnya di saku roknya. Ia pun segera mencarinya di galeri.
"Inikan pria yang pernah aku selamatkan waktu itu, benar, dia mengatakan jika dia berkhianat dan terlebih dahulu menyuruh anak dan istrinya pergi duluan dan juga matanya sempat di congkel dan ia di siksa, tak sangka mereka malah sudah terbunuh, organisasi itu benar-benar kejam, memburu mereka sedemikian rupa," ucap Sultan kasihan.
Sultan tak sengaja mengeser ponselnya dan terlihat sebuauh foto.
"Lho ini..." ucapan Sultan terhenti sambil menekuk alisnya.
"Oh ini ahli ilmuan tinggi di organisasi itu, ia mirim denganmu jadi aku sengaja menyimpannya, aku pikir ini mungkin ayahmu" ucap Aurora melipat tangannya.
"Ah mana mungkin, ayahku sudah lama meninggal," ucap Sultan menyalahkan.
"Iya, ini ilmuan juga sudah meninggal, lihat tuh ia terlihat muda, ia meninggal sekitar 20 tahun yang lalu, sekarang umurmu 21 tahun, mungkin dia meninggal sejak kau berumur 1 tahun, tentu saja kau tak ingat dengan ayahmu," tebak Aurora.
"Mungkin saja dia tak sengaja mirip denganku," ujar Sultan mencibir.
"Hey, yang bener itu kau yang tak sengaja mirip dengannya, coba kamu bawakan foto ini, kau bandingkan dengan Foto ayahmu di rumah," saran Aurora.
__ADS_1
"Di rumah tidak ada foto Ayahku, jadi aku tidak mengenalnya," ucap Sultan.
"Nah bisa jadi ibumu menyembunyikan foto ayahmu agar kamu tidak mencari tahu lagi tentang dirinya," tebak Aurora lagi, kali ini lebih menyakinkan.
"Baiklah, kirimkan fotonya padaku, aku akan memperlihatkan foto pria ini kepada Ibuku," ucap Sultan Setuju.
Aurora segera mengirimkan foto tersebut. "Oke! Thanks ya," ucap Sultan.
"Ya sama-sama, ya udah aku ke kantor dulu," ucap Aurora. Sultan mengangguk dan masih menatap foto pria itu dan membanding dengan wajahnya.
"Hidungnya ya hampir miriplah, kalo mata, Oke lah mirip, kalo alis mirip banget malahan, mulut juga mirip, pipi juga, apa dia benar-benar ayahku?" tanya Sultan penasaran.
"Ya udah deh aku tanya sama ibu nanti, sekarang aku ingin membawakan barang bukti yang di mobilku ke markas tentara, aku lupa memberi kepada mereka karena kesengan dengan mobil baruku," ucap Sultan.
Sultan menuju mobilnya dan masuk ke dalam.
"Hey Sultan, mau ke mana?" tanya Tedi.
"Oh mau ke markas tentara di kota barat," ucap Sultan.
"Wah... ngapain di sana?" tanya Tedi berdiri di dekat jendela mobil Sultan.
"Ada urusan pentinglah, masa datang mau rekreasi," ucap Sultan.
"Aku ikut," ucap Tedi yang ingin melangkahkan kakinya mengarah ke mobilnya.
"Hey jangan naik mobilmu jika tak mau ketinggalan," teriak Sultan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
TERIMA KASIH
__ADS_1