System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 106


__ADS_3

Sekitar jam 18:00, Sultan segera memesan makanan untuk makan malam ini. Tidak tahu kenapa malam hari ini ibu pulangnya telat.


Ting tung!


Sultan pun membuka pintu.


"Ini paket makanan Anda, silakan di nikmati," ucap kurir tersebut.


"Terima kasih," jawab Sultan menerima makanan tersebut.


Sultan menata makan tersebut di meja. Tak lama kemudian, ibunya pun pulang.


"Eh ibu, kok baru pulang?" tanya Sultan yang sudah duduk di meja makan.


"Iya, tadi ada sedikit kendala, jadi pulangnya lama, tumben kamu yang pesan makanannya?" tanya ibu tersenyum di wajah letihnya.


"Iya, ibu pasti kelelahan jadi aku yang pesan?" jawab Sultan.


"Nggak mungkinkan aku bertanya di saat ibu sedang lelah, mungkin di lain waktu saja," ucap Sultan dalam hati.


"Ibu makanlah, habis itu istirahat," ujar Sultan.


"Iya," jawab ibu mengangguk dan mengambil piring dan meletakkan nasi di sana.


Ting ting


Misi level S


Pembunuhan di jalan merak


Hadiah 60 poin


Hadiah 1.000.000.000


"Eh Ibu maaf ya, aku keluar sebentar," pamit Sultan.


"Iya, Eh Sultan Ibu titip Balsem ya," pesan ibu.


"Ya Bu," jawab Sultan berlari menuju mobilnya.


Ia pun pergi menuju alamat yang di sebutkan.


Sesampainya di sana Sultan memberthentikan mobilnya, tempatnya sepi seperti tidak ada apa pun.


Ia pun masuk ke dalam semak-semak tapi tetap tidak ada. Tapi Sultan tetap masuk lebih dalam lagi.


barulah terlihat dari kejauhan ada sedikit cahaya dan Sultan berlari ke arah mereka.


ternyata di sana ada sebuah gubuk seperti tempat orang yang hanya menunggu padi.


Sultan mengintip dari celah-celah gubuk tersebut, seorang pria berbadan besar dududk di depan pria yang tangannya di ikat ke belakang.


Sultan melihat pria itu juga memakai kalung yang sama dengannya, namun itu berwarna abu-abu.


Pria itu mencongkel bola mata pria itu, sehingga pria itu menjerit ke sakitan.

__ADS_1


Sultan terkejut. "Pria itu benar-benar sadis, aku harus menyelamatkannya segera atau bola matanya yang 1 lagi akan di congkelnya.


Sultan menangkap orang yang memegang lampu tersebut agar menjadi gelap dan mereka tidak melihat wajahnya yang menyelamatkan pria tersebut.


Di sedikit cahaya remang bulan yang tertutup awan, Sultan bisa membedakan orangnya, Sultan pun menghajar mereka, namun siapa sangka jika pria yang memakai kalung itu ternyata sangat kuat.


"Baiklah... tambah kekuatan," ucap Sultan sebelum memulai bertarung lagi dengan prui itu, ia harus mengulur waktu.


Menambah kekuatan...


Mulai...


10%...


20%...


"Apa salah dia, sehingga kalian buat dia seperti itu?" tanya Sultan yang sengaja membawanya berbicara dulu.


30%...


40%...


"Apa urusan denganmu?" tanya pria itu datar.


50%...


60%...


"Tentu saja ada urusan, karen kita dari organisasi yang sama," jawab Sutlan ngasal.


70%...


"Kalau kau dari organisasi yang sama, kenapa kau tak tahu?" tanyanya balik.


90%...


100%...


Selesai.


Kesempatan, tanpa pikir panjang lagi Sultan pun meninju hidung pria itu hingga berdarah dan menendang perutnya hingga ia mundur beberapa langkah.


Pria itu sangat geram ia pun melayangkan tinjunya, karena agak gelap dan sambil memegang hidungnya jadi sasarannya tidak kena.


"Siapa kau! jika bos tahu kau menyelamatkan penghiatan ini, bukan bola matamu saja yang akan di congkel keluar, tapi semua organ dalammu akan di keluarkan untuk di jadikan makan satu organisasi sebagai pembalasannya.


"Astaga! organisasinya benar-benar sadis," ucap Sultan dalam hati.


Sultan lagi memukul kepala pria itu dan ketika anak buahnya ingin menyerang Sultan, Sultan pun menghindar dan menankap tangannya dan mematahkannya lalu melemparnya ke arah pria besar itu.


Temannya yang lain juga menyerang ke arah Sultan, Sultan pun menswingkan perutnya dan menendang kakinya hingga ia terjatuh, Sultan menangkap kakinya lalu mematahkan di tulang lututnya dan melemparnya lagi ke arah pria itu lagi.


Pria itu sempat menghidupkan senternya dan menyenyenter ke arah Sultan. Sultan segera menutup wajahnya karena silau lalu menendang senter tersebut hingga terpelanting jauh.


"Siapa kamu?" tanya pria itu lagi karena penasaran, untung saja wajah Sultan tak terlihat jelas.

__ADS_1


"Tanyakan pada buyutmu sana," ujar Sultan mengumpulkan kekuatan di tangannya dan kemudian meninjunya dengan kencang ke arah wajah pria tersebut, pria itu pun pingsan seketika.


Sultan langsung memeluk pria tadi dan membawanya sambil berlari ke arah mobilnya.


Sultan pun segera menstater mobilnya dan meluju kencang menuju rumah sakit.


"Kamu kenapa menolong saya, kamukan tau jika saya berkhianat," ucap pria itu.


"Aku bukan sekelompok dari mereka," jawab Sultan fokus melajukan mobilnya kencang agar para pria itu tidak mengejarnya.


"Tapi kalungmu sama dengan kalungku," jawab pria itu.


"Bicaranya nanti saja, aku tau kau ke sakitan, santailah dulu sebelum sampai di runah sakit, aku juga masih banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan," ucap Sultan.


"Jangan bawa aku kerumah sakit, mereka pasti tidak akan membiarkanku begitu saja, bawa ke klinik saja," saran pria itu.


Sultan pun membawanya ke klinik yang hampir saja ia lewati karena buru-buru mengejar ke rumah sakit.


Sesampainya di Klinik, Sultan membantu pria itu masuk ke dalam.


"Ada yang bisa kami bantu pak? Astagaaaa! Buk ini ada orang sakit parah," ucap pegawai klinik ketakutan yang memanggil pemilik klinik.


"Ada apa? Eh ayo cepat masuk," ucap pemilik klinik itu sekali gus dokter di sana.


Sultan membawanya masuk.


"Baringkan dia di atas sini, Kamu ambilkan alkohol dan obatan lainnya," ucap fokter tersebut cepat.


Ia segera membersihkan darah di mata yang di congkel tadi, setelah obatnya sampai ia pun segera menyuntikkan obat anti biotik dan obat bius dan segera menhobatinnya.


"Kenapa nggak di bawa langsung ke rumah sakit saja?" tanya dokter itu.


"Nggak sempat Buk," jawab Sultan.


"Ini kenapa bisa begini?" tanya bu dokter sambil mengobatinya.


"Oh itu... tadi dia sama harimau bertarung di dalam sawah," jawab Sultan ngasal. "Dia kalah dan matanya di congkel oleh harimaunya," sambungnya lagi.


Dokter itu menatap curiga ke arah Sultan karena tidak ada bekas cakar sedikit pun.


Tapi ya sudahlah, ia seorang dokter tugasnya menyelamatkan orang, bukan mencari tahu masalah orang.


"Berapa Bu dokter?" tanya Sultan.


"4.000.000," jawab bu dokter.


"Astaga mahalnya, aku tidak punya uang, boleh aku cicil Bu?" tanya pria itu kaget.


"Udah, biar aku yang bayar," ucap Sultan mengambil uangnya dan menyerahkan kepada buk dokter tersebut.


"Terima kasih," ucap buk dokter.


"Ini obatnya agar lukanya cepat kering," kata buk dokter menyerahkan beberapa obat-obatan. Sultan pun menerimanya dan membawa bapak itu ke dalam mobilnya kembali.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH


__ADS_2