
"Kami akan usahakan untuk bekerja sama dengan perusahaan lain, saat ini kami sudah menanda tangani kontrak, jika mereka terlebih dahulu memutuskan kontrak maka mereka akan terkena pinalti," jawab temannya.
"Bagaimana? Apa sudah selesai berpikirnya?" tanya Sultan.
"Aku tidak akan menjual perusahaanku," ucapnya.
"Bagus sekali," ucap Sultan menyeringai. "Bawakan laptopnya ke sini," perintah Sultan kepada pegawainya yang fokus pada komputer.
"Ini Tuan," ucap pegawai itu menyerahkan laptopnya karena datanya sudah di pindahkan ke laptop.
Sultan membalikkan layar monitor itu ke hadapan 3 pria itu dan Sultan pun menekan enter dan angka 1% berubah menjadi angka 0%.
"Tidaaaaaakkk!" teriak Ardi dan ia pingsan mendadak.
"Kamu... kenapa kamu melakukan ini pada kami?" tanya teman Ardi.
"Siapa suruh dia buat kesalahan padaku, apa selama ini aku pernah mengusik usaha kalian? Mungkin jika kerja sama antar karyawan iti tidak terjadi maka masalah ini juga tidak akan terjadi," jawab Sultan.
"Tapi yang melakukannyakan karyawan perusahaanmu juga," ujar mereka tak terima.
__ADS_1
"Tapi pegawai perusahaan dia yang memaksa pegawai perusahaanku untuk melakukan korupsi itu, aku tidak bisa hanya pegawaiku saja yang ku beri hukuman, pegawai kalian yang memulai dia juga harus di beri hukuman, di tambah dia acuh tak acuh ketika aku memberi peringatan, jadi jangan salahkan aku yang kejam, tapi salahkan kalian yang berani menantangku," ucap Sultan.
"Dia benar-benar tak kenal ampun," ucap mereka mengeleng kepala.
"Lalu kenapa perusahaan kami juga kena imbasnya?" tanya mereka yang sekara persentase angka perusahaan mereka ada di angka 20% yang tadinya berada di angka 51% masih di katakan aman.
"Oh itu salah kalian sendiri kenapa bekerja sama dengannya, jika kalian berani melawanku, aku bisa menginjak angka persenan perusahaan kalian menjadi sambal terasi," ucap Sultan menyengir.
"Dia benar-benar brutal," temannya itu sambil berbisik.
"Kalian katakan padanya ketika dia sudah bangun, jika ingin perusahaannya aku beli, datang ke perusahaanku, aku akan membelinya 500.000.000.000, jika tidak mau aku juga nggak maksa," ucap Sultan.
Mobil Qayla dan mobil Tedi pun memparkirkan mobilnya dan Qayla melihat Sultan duduk di atas kursi dengan orang yang pingsan di depannya.
"Sultan," lirih Qayla.
"Sultan! Kamu di cari-cari kok nggak ada, nomor juga nggak aktiv, ngasih kabar juga nggak," ucap Tedi marah-marah.
"Kenapa?" tanya Sultan datar.
__ADS_1
"Qayla dari pagi sampai pulang kuliah menunggumu, tau-taunya kamu nggak ngampus, sekarang pun masih nyari-nyariin kamu dan sekarang belum makan," ujar Tedi mengomel.
"Oh, jika belum makan, di dalam ada makanan, makalah di sana," jawab Sultan.
"Oh iya, ini kamu apakan sampai dia pingsan, nggak mungkin kamu baku hantamkan?" tanya Tedi melihat 2 orang temannya berusaha mengangkat 1 orang temannya menuju mobil.
"Oh itu perusahaan mereka bermasalah sama perusahaanku, aku bukan orang yang berbaik hati membiarkan dia begitu saja, sekecil debu pun jika ada masalah denganku maka aku akan berurusan dengannya," jawab Sultan.
"Lalu dia pingsan kenapa?" tanya Tedi lagi.
"Itu karena melihat angka persen mereka 0% jadi dia nggak kuat melihatnya dan dia lebih memilih pingsan," ucap Sultan.
"Oh bisa di pilih juga, tapi ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan perusahaanmu?" tanya Tedi melihat sekeliling yang berubah.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1