
"Ayolah Ibu, aku masih kecil, masih polos, belum cocok jadi bapak-bapak," ucap Sultan.
"Hm terserah kamu saja deh," ucap Ibu manyun.
"Ya udah aku berangkat ke kampus dulu," pamit Sultan.
"Tapi ngomong-ngomong, mobil kamu kok kapnya berubah terus, kapan kamu gantiinnya?" tanya Ibu heran dengan perubahan warna di mobil Sultan.
"Bu, aku nggak ganti kapnya, tapi berubah warna sendiri, ini namanya teknologi canggih," jawab Sultan Menjelaskan.
"Hm... begitu," ujar Ibu.
"IYa Bu, ya udah, aku berangkat dulu," pamit Sultan lagi.
"Ayo Suqay," ucap Sultan menepuk tangannya.
Tin!
Tin!
Mobil Sultan berbunyi dengan sendirinya dan mendekati Sultan.
"Wah... mobil pintar," ucap Sultan mengelus-elus mobilnya.
Sultan pun masuk mobilnya. "Ayo jalan," ucap Sultan. Mobilnya pun pelahan-lahan meninggalkan rumahnya.
Sultan melihat pak Herman berdiri di tepi jalan sambil ngomel-ngomel.
"Ada apa Om?" tanya Sultan berhenti di depan pak Herman.
"Itu tadi malam entah siapa yang nebangin pohon di belakang rumah, itu pohon kesayanganku, aku menanamnya sejak kecil, hingga aku punya istri punya anak 2 dan itu pohon sebagai saksi cinta aku dan istriku dan sekarang malah di tebang si brandal entah siapalah itu," omel pak Herman panjang lebar.
"Saksi cinta itu Tuhan bukan pohon," ucap Sultan setengah berbisik.
"Apa?" tanya pak Herman mengangkat alisnya karena ia tidak mendengar ucapan Sultan.
__ADS_1
"Eh tidak, jadi apa pelakunya di temukan?" tanya Sultan mengalih pembicaraan.
"Ya itu, entah siapa pelakunya, jika aku tahu siapa dia, akan ku cincang habis tubuhnya itu," ucap Pak Herman marah-marah.
Sultan menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Jadi bagaimana itu Om?" tanya Sultan pura-pura tidak tahu.
"Aku lihat dia lari ke arah sana, kira-kira badannya itu posturnya sepertimu, tidak mungkin kamukan yang nebang, lagian untuk apa samamu, dengan uangmu yang banyak kamu bisa beli kayu seperti ini berton-ton," ucap pak Herman.
"Hm... gini aja, Om jangan marah-marah lagi ya, nanti Om cepat tua, dan Om tidak perlu mencari orang itu lagi, begini, aku kasih Om uang buat Om pergi ke jalan-jalan, ke mall atau tempat taman bermain lainnya untuk menghilangkan amarah Om, bagaimana?" tawar Sultan.
"Hm... boleh jugalah," ucap Pak Herman pura-pura tak peduli.
Sultan pun mengambil uangnya dan memberikan kepada pak Herman. Kira-kira 30.000.000.
"Segini cukup Om?" tanya Sultan.
Mata pak Herman langsung berkilau. "Wah... Sultan, kamu emang dermawan, orang yang melalukannya kamu mau bertanggung jawab, bener-bener bangga kau jadi keponakanku, kalau orang kaya lainnya dia pasti sombong, kamu emang beda, kamu adalah orang kaya yang terbaik Yang pernah Om temui di dunia ini bla bla bla bla bla bla bla bla," celoteh Pak Herman tersenyum mengangguk-angguk seperti burung pelatuk dengan melihat uang merah di tangannya.
Sultan:😒😒
"Eh, mana si Sultan tadi?" tanya pak Herman meninjau ke arah Sultan pergi.
"Orang kaya emang beda, tiba-tiba saja menghilang," kembali pak herman melihat uangnya dengan senyum lebar dan mencium uangnya sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
"Maaf ya Om, semoga saja Omnya nggak tau siapa pelakuknya," ucap Sultan.
Sesampainya di kampus, Sultan tidak segera turun dari mobilnya, ia segera menelpon sekretaris sementaranya.
"Halo Tuan Ceo," jawab sekretaris itu setelah Sultan menelpon.
"Hari ini Ibuku dan Qayla datang ke perusahaan, mereka ingin memilih ulang staf di perusahaan, aku harap apa pun keputusan mereka semua karyawan bisa menerimanya," ucap Sultan.
"Baik Tuan," ucap sekretaris itu. Sultan pun menutup panggilannya dan juga menelpon perusahannya yang lain termasuk tempat karokean itu.
Tuuuut...
__ADS_1
Tuuuut...
Tuuuut...
"Halo Sultan," jawab Qayla.
"Udah ku telpon semuanya dan mereka sudah setuju," ujar Sultan memberi tahu.
"Oke kalau begitu, aku dan Tante akan berangkat sekarang," ucap Qayla.
"Ya, kalian hati-hati di jalan," pesan Sultan.
"Iya," ucap Qayla dan menutup panggilannya.
Sultan tersenyum melihat ponselnya. "2 wanita ini harus ku lindungi," ucap Sultan.
Tok!
Tok!
Tok!
Ternyata Tedi mengetuk jendela mobil Sultan. Sultan menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Ganti kap baru?" tanya Tedi melihat mobil Sultan.
"Enak aja ganti kap, ganti warna otomatis yang benernya," ucap Sultan tak terima di bilang ganti kap.
"Oh, kira ganti mobil baru," ucap Tedi nyinyir.
Sultan pun turun dari mobilnya. "Aku nggak akan ganti mobil lagi, Ini mobil udah di modif, ini mobil cuma ada 20 di dunia, tapi yang punyaku cuma ada 1 di dunia," ucap Sultan bangga.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
__ADS_1
TERIMA KASIH