
Sultan mendekati sofa tersebut ternyata Michela tamunya. Sultan duduk di sofa tersebut dan melihat ke arah Michela. Michela juga membalas pandangan Sultan.
"Sudah lama datangnya?" tanya Sultan mengangkat alisnya.
"Baru kok," jawab Michela tersipu.
"Baru apanya? Kamu sih kelamaan pulang, dia udah nunggu kamu 2 jam yang lalu," ujar ibu menyenggol lengan anaknya. Sultan menatap Michela sambil mengkerut dahinya. Wajah Michela langsung memerah karena malu.
"Astaga... Ibunya Sultan kenapa harus berkata jujur sih... 'kan aku jadi malu," batin Michela.
"Maaf udah bikin kamu menunggu lama," ucap Sultan tersenyum.
"Eh nggak apa-apa, akunya yang datang terlalu cepat, maaf bertamu di rumahmu nggak bilang-bilang dulu," ucapnya berusaha tersenyum.
"Ibu ke dapur dulu ya," ucap ibu buru-buru ke dapur. Sultan mengangguk sambil melihat ibunya menuju dapur.
"Nggak masalah sih, tapi dari mana kamu tau ini rumahku?" tanya Sultan mengangkat alisnya.
"Aku lihat alamatmu di buku penerimaan mahasiswa baru tahun lalu dan juga tanya-tanya warga dekat sini dan mereka menujuk ke arah rumah ini," jelas Michela. Sultan mengangguk-angguk.
"Mungkin kamu ada keperluan ingin bertemu denganku," ujar Sultan merebahkan tubuhnya di sandaran sofanya.
"Tidak ada, cuma Papa aku ingin bertemu denganmu dan ingin langsung berterima kasih denganmu, karena waktu itu sudah menyelamatkanku," jelasnya. Sultan mengangguk-angguk sambil mengosok-gosok dagunya.
"Aku rindu kamu bodoh!" umpat Michela dalam hati.
"Jika begitu aku mandi dulu, nggak apa-apakan kamu menunggu sebentar lagi kan kamu udah nunggu selama dua jam tadi," ucap Sultan mengodanya. Michela mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya karena menahan malunya. Sultan beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke arah kamarnya.
"Brengsek kamu Sultan!" maki Michela dalam hati dengan wajah merah merona. Michela melihat-lihat isi rumah tersebut.
"Ternyata dia orang kaya, dulu aku malah menghinanya, lukisan di dinding itu saja seharga 40 juta," lirihnya. Ia jadi penasaran dan mulai berdiri melihat hiasan di dalam lemari kaca. Ada kucing kecil terbuat dari kramik piring koleksi dari kramik dan juga giok yang sudah retak juga di pajang di sana. Dan matanya tertuju ke arah kamar Sultan. Michela punya ide iseng, ia membuka kamar Sultan niatnya ingin mengagetkan Sultan. Tapi...
"Aaaaaaaaa..." teriak Michela. Michela melihat Sultan yang sedang berganti pakaian dan itu juga membuat Sultan kaget.
"Ada apa?" tanya ibu yang tiba-tiba keluar dari dapur.
"Eh... hm... tidak ada apa-apa," ucap Michela membanting pintu kamar Sultan mencoba tersenyum. "Tadi ada cicak," ucap Michela beralasan agar tidak ketahuan jika ia membuka pintu kamar anaknya.
"Oh... maaf ya Neng mengagetkanmu, tapi ya begitulah setiap rumah pasti ada cicaknya," ucap ibu mendekati Michela kemudian menuntunnya kembali duduk di sofa.
__ADS_1
"Apa Neng sampai setakut itu dengan cicak sampai lompatnya jauh sampai ke depan kamar Sultan?" tanya ibu Sultan.
"Eh... ehem i-iya," ucap Michela menunduk malu. "Untunglah ibu Sultan percaya, kalo nggak bisa abis aku," batin Michela.
"Ya udah tunggu aja di sini bentar lagi Sultan keluar," ujar ibu menenangkan Michela. Michela mengangguk tersenyum melihat ke arah ibu Sultan. Tak lama Sultan keluar dan itu sangat canggung, membuat wajah Michela memerah.
"Ya udah kita pergi, Ibu ayo ikut," ajak Sultan.
"Nggak, kamu aja yang pergi, Ibu masih ada pekerjaan yang belum selesai," tolak ibu lembut.
"Baiklah jika begitu, ibu hati-hati di rumah ya," ucap Sultan menyalami tangan sang ibu. Melihat itu, Michela juga menyalami tangan ibu Sultan juga. Mereka berdua pun pergi menuju mobil lalu menaikinya.
Di perjalanan.
"Tadi kamu ngapain masuk kamarku?" tanya Sultan membahas masalah tadi.
"Aku... aku tadi... hanya iseng ingin mengagetkanmu saja, tidak tahu jika kamu tanpa pakaian," ucapnya mengalih pandangan melihat ke arah jendela dengan wajah yang kembali memerah.
"Kamu juga, 'kan aku udah bilang mau mandi, mungkin kamu sengajakan ingin mandi bareng denganku," goda Sultan sambil tertawa kecil. Mendengan itu wajah Michela benar-benar menjadi merah padam.
"SULTAN!" teriaknya, "Aku udah bilang cuma iseng aja, kamu kok nyebelin banget sih," ujanya mencubit pinggang Sultan. Sultan hanya terawa setelah membuat Michela salah tingkah.
SISTEM
SULTAN
(Diem lu)
"Lewat mana jalan rumahmu?" tanya Sultan setelah mereka baikan.
"Belok kiri," jawab Michela. Sultan pun membelok mobilnya dan tetap melesat di jalanan.
Peringatan! Peringatan!
Sekelompok pria mengikuti Tuan.
Sultan melihat ke arah kaca spionnya dan mendapati 3 mobil mengikutinya dari belakang.
SULTAN
__ADS_1
(Untuk apa dia mengikutiku?)
SISTEM
(Karena melihat mobil Tuan mereka ingin merampasnya)
Sultan mengangguk lalu mempercepat laju mobilnya. Mobil yang mengikuti mereka juga ikut melajukan mobilnya. Terjadilah kejar-kejaran.
"Sultan kamu jangan bawa ngebut donk!" teriak Michela ketakutan. Akhirnya Sultan menancap gas lalu membelokkan mobilnya masuk ke gang dan memberhentikannya di sana, jika hanya kejar-kejaran sekelompok pria itu pasti akan terus mengikutinya kemana mereka pergi.
"Lho? Kita kemana? Ini bukan jalan ke rumahku," ujar Michela bingung. Sultan hanya terdiam yang masing menunggu orang yang mengikutinya datang.
"Atau jangan-jangan... kamu ingin memperkosaku ya!" teriak Michela curiga. Ia memukul-mukul tubuh Sultan. Astaga... pikiran perempuan emang aneh-aneh isinya. Sultan hanya bisa mengelengkan kepala sambil manyun.
"Aku pikir kamu beda dari pria yang lain, ternyata kami sama saja dengan pria hidung belang lainnya," ujarnya yang masih memukul-mukul Sultan. Pukulan seperti semut merayap di kulit.
"Hey... aku memang normal, meskipun begitu tapi aku harus minta persetujuan Ibuku dulu, dia suka yang mana, aku juga harus pilih-pilih menantu yang baik untuk ibuku dan seorang istri yang patuh kepada suaminya, aku nggak nyari istri yang liar dan durhaka kepada ibuku," jawab Sultan.
"Hey... maksudmu aku liar dan durhaka!" teriaknya marah. Sultan hanya bisa menepuk jidatnya menarik nafas panjang.
Sultan K.O
Tak lama, yang di tunggu-tunggu sudah datang mereka mengepung memasuki gang di mana Tempat Sultan berhenti. Mereka keluar dari mobilnya dan Sultan juga keluar dari mobilnya dan Michela karena penasaran juga keluar dari mobil.
"Sultan, mereka siapa?" tanya Michela kebingunan.
"Aku berhenti justru karena mereka, kamu di kasih makan apa sih sampai isi kepalamu aneh-aneh," ejek Sultan. Michela hanya bisa memanyunkan wajahnya.
"Wah... Bos, kita menang banyak nih," ujar pria yang berdiri di samping pria yang di katakan bos itu.
"Cewek cantik dan mobil keren," ujar temanya terkekeh.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH
TERIMA KASIH
Jangan lupa mampir juga ke karya baruku (Pendekar suci dari timur)
__ADS_1