System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 77


__ADS_3

"Saya tidak setuju," ucap pak Hadi tegas.


"Kalau begitu kembalikan uang saya yang 27 miliyar itu dan hidup dalam kebangkrutan," ancam Sultan.


Pak Hadi tetdiam, ia bagaikan makan buah simalakama, jika ia setuju perusahaan miliknya ini jadi milik Sultan, jika tidak setuju ia bangkrut dan tidak bisa melanjut menjalankan perusahaan ini lagi, apa bedanya. Minta tolong perusahaan lain mana mungkin perusahaan lain mau membantu perusahaan yang bangkrut malah mereka akan rugi.


Kedatangan Sultan di waktu itu bagaikan pahlawan, siapa sangka ia sekarang berubah menjadi montser.


"Baiklah saya setuju," ucap Pak Hadi pasrah tak berdaya.


"Saya butuh seorang sekretaris, tolong kamu bawakan saya sekretaris yang lama," perintah Sultan kepada salah satu orang yang ada di ruangan.


Tak berapa lama sekretaris yang di maksudkan datang masuk ke ruangan.


"Ini Tuan sekretarisnya," sekretaris itu pun menundukkan kepala memberi hormat.


"Oh kamu sekretarisnya, kamu tau apa saja yang kerjakan seperti biasakan? Jika sudah tahu jadi saya tidak perlu memberi tahu lagi," ucap Sultan spontan.


"Ha?" Sekretaris itu sangat kebingungan, ia juga tak berani bertanya.


"Jadi Ibu saya yang..."


Ting ting.


Misi level B.


Menolong seseorang yang memanjat pohon tapi tidak bisa turun.


[Hadiah 20 poin]


Sultan langsung manyun.


SULTAN


(Ayolah sistem, Aku sedang rapat)


SISTEM


(Misi tidak punya jam)


"Ehem... Ibu saya yang akan memantau sistuasi di sini, saya juga butuh seorang supir pribadi untuk ibu saya, jadi tolong carikan. Oh ya uangnya besok Ibu saya yang akan memberikan kepada kalian dan saya dan ibu pergi sekarang," ucap Sultan menarik tangan ibunya dan masuk mobil.


"Apa kamu yakin setelah dia membeli saham kita lalu berinvestasi lagi?" Tanya temannya.


"Jika di lihat memang meragukan, tapi dia terkadang tak bisa di tebak, aku percaya perusahaan ini bangkit kembali," ujar teman yang lain mengangguk percaya.


"Aku pindah perusahaan lain aja deh, sebelum perusahaan ini benar-benar bangkrut," ujar yang lain.


"Aku juga," jawab temannya.


"Aku sepertinya bertahan," jawab yang lain.


SULTAN

__ADS_1


(Di mana tempatnya?)


SISTEM


(Di pohon besar 100 meter lagi)


Sesampainya di sana.


"Ngapain kamu berhenti di pohon besar begini?" tanya Ibu ketakutan.


"Oh hanya ingin menolong seseorang," jawab Sultan yang membuka pintu mobilnya.


"Tunggu sebentar! (Menarik tangan Sultan) Jangan-jangan kamu ke sini, kamu menjadikan Ibu tumbal makanya kamu sekarang kaya ya kan?" Tanya ibu membelalakkan matanya.


"Astaga... ayolah Ibu, Ibu itu mikir jangan yang aneh-aneh deh, aku ke sini ingin menyelamatkan seseorang, kalo nggak percaya ayo ikut," ajak Sultan keluar dari mobilnya dan ibunya juga ikut keluar.


"Tuh, Ibu lihat ada orang kan?" tunjuk Sultan. Dan benar saja ada seseorang teriak minta tolong tapi suaranya sangat sayup.


"Kenapa dia? Apa mau berlatih terbang?" tanya ibu menatapnya sayu.


Sultan dan ibunya pergi ke arah pohon tersebut dan melihat di bawah ada tangga apa nggak?


"Syukurlah ternyata ada orang juga ke sini," ucapnya senang.


"Tolonggggg turunkan akuuuu!" teriaknya kencang.


"Udah nggak usah teriak, kami dengar kok," jawab Sultan.


"Turun," ujar Sultan mendonggakkan kepalanya melihat pria itu.


"Ha? Tapi bagaimana saya turun? Tidak ada tangga di situ," jawabnya.


"Kamu jatuh itu tidak akan mematahkan tulang tua mu itu, ayo cepat turun, aku sambut dari bawah," ucap Sultan menegadahkan tangannya.


"Apa kamu yakin?" tanyanya heran.


"Udah cepat, sebelum aku benar-benar meninggalkan kamu sendiri," perintah Sultan.


Tanpa pikir panjang lagi pria itu menjatuhkan dirinya dan Sultan malah menghindarinya dan tidak menyambutnya, karena itu hanya tinggi 2 meter saja, bagi phobia ketinggian itu sangat tinggi baginya.


"Aduuhh!" teriaknya. "Katanya kamu ingin menyambutku?" tanyanya manyun.


"Apa tulang tubuhmu ada yang patah?" tanya Sultan merasa tak bersalah.


Pria itu memeriksa tubuhnya. "Sepertinya tidak," jawabnya.


"Ya sudah, lalu kenapa kamu memanjat pohon ini?" tanya Sultan lagi sambil melihat pohon tinggi tersebut.


"Istri saya ngidam buah mangga muda ini, saya pikir untuk menghemat uang, saya harus mengambilnya sendiri, di lihat dari bawah rendah, setelah saya panjat kok tinggi sekali ya," ucapnya memandang sayup pohon tersebut.


Mendengar itu Ibu Sultan merasa iba, ia mengambil uang dari tasnya.


"Tidak perlu Ibu, uangku saja," ucap Sultan mendorong uang yang di tangan ibunya, karena ia tahu ibunya itu sangat pengiba.

__ADS_1


Sultan mengambil uang sekitar 10.000.000 lalu menyerahkan kepada bapak tersebut.


"Ini uang untuk bapak, semoga istrinya lahir dengan lancar dan debaynya sehat," ucap Sultan.


Pria itu pun menangis. "Terima kasih, terima kasih banyak, saya tidak bisa membalasnya, tapi saya pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucapnya sambil mengengam tangan Sultan.


"Semoga Bayinya jadi anak yang berbakti," doa ibu.


"Terima kasih banyak Bu," ucap pria itu mencium uangnya dan segera ia masukkan dalam bajunya agar tidak terlihat orang.


Sultan dan Ibu masuk ke mobil kembali.


Ting ting.


Misi selesai.


Selamat Anda mendapatkan 20 poin.


Selamat Anda mendapatkan 5 poin tambahan.


Poin Anda menjadi 25 poin.


Sultan melajukan mobilnya di jalanan.


"Sultan, jika di lihat dari bapak itu, ibu teringat saat Ibu mengandungmu dulu, jika Ibu mengidam, Ayahmu segera mencarinya sampai kepalanya berdarah karena di timpa durian, untung saja duriannya tidak besar, Ibu juga teringat saat Ayahmu membawakan martabat sepulang kerja dan mertabak itu hasil ia kerja seharian penuh, Ayahmu dulu hanya seorang tukang becak sepeda, jika dia masih hidup sekarang melihat kamu kaya saat ini, mungkin di hari tuanya ia sudah bersantai menikmati hidupnya, sayangnya takdir berkata lain, ia beristirahat di tempat di mana kita tak bisa melihat wajahnya langsung," ujar ibu meneteskan air mata.


"Ibu," lirih Sultan sambil memegang tangan ibunya.


"Ibu baik-baik saja, makanya ibu tidak menikah sampai sekarang, karena Ibu lebih memilih setia sampai maut menjemput," sambung ibu lagi sambil mengengam tangan anaknya.


"Ibuuuuu... so sweet... doakan Sultan juga ya Bu semoga Sultan juga dapat wanita seperti Ibu," ujar Sultan.


"Iya," angguk ibu sambil tersenyum.


"Ya udah kita ke showroom dulu buat beli mobil untuk ibu," ajak Sultan.


"Terserah kamu deh," jawab Ibu pasrah.


Mereka pun berangkat menuju Showroom mobil. Sesampainya di sana Sultan menyuruh ibunya untuk memilih sendiri.


"Ayo Ibu, pilih yang Ibu suka," ucap Sultan.


"Mari Nyonya, Tuan," ujar pegawai itu sopan.


Sultan menyender di mobilnya sambil melihat ibunya dan pegawai itu memilih mobil. Berhubungan sekarang ini hanya ia sendiri pelanggannya jadi ia memarkirkan mobilnya di dalam Showroom dan itu di perbolehkan oleh karyawan tersebut.


Seorang wanita dan pria datang menuju masuk ke dalam.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2