System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 75


__ADS_3

Sesampainya di rumah Sultan langsung membuka kunci pintu rumahnya.


"Ibu... Ibu...," panggil Sultan.


Namun tak ada jawaban.


Sultan mencarinya di mana-mana di sudut ruangan, tapi tetap tak di temukan.


Sultan menemukan secarik kertas yang bertuliskan nomor telepon. Sultan memegang kertas tersebut dan merenunginya.


"Apa maksudnya ini? Apa aku di suruh menelpon nomor ini?" tanyanya tak mengerti.


Namun Syafiq mengambil ponselnya dan menyalin nomor tersebut dan segera menelponnya.


Tuuut...


Ternyata masuk.


Tuuut...


Tuuut...


"Halo," jawabnya.


"Siapa kamu?" tanya Sultan antusias.


"Aku? Tentu saja penculik ibumu," jawabnya santai.


"Apa? Kurang ajar! Apa mau mu?" Tanya Sultan geram.


"Mau ku? Aku menginginkan semua uangmu," ujarnya.


"Tidak masalah, di mana kalian sekarang?" tanya Sultan tanpa basa basi.


"Kamu bisa datang ke gedung tua di pabrik terbengkalai jalan maharani, ingat jangan membawa polisi!" perintahnya.


"Tapi biarkan aku mendengar suara Ibuku," pinta Sultan.


Pria itu memberikan ponsel a


"Sultan, Ibu baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir," ujar ibunya berusaha menenangkan Sultan.


"Ibu," lirih Sultan. "Ibu maaf, jika aku datang lebih cepat lagi, mungkin Ibu tidak ada di sana sekarang," ucap Sultan sedih.


"Cepat kamu kesini atau nyawa ibumu tidak bisa di selamatkan!" ancamnya.


Sultan menutup telponnya dan kemudian langsung mengunci pintu dan masuk ke mobilnya, ia melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah di sebutkan.


Sesampainya di sana, tempatnya amat sepi ketika Sultan masuk ke sana banyak sekali penjaga, dan Sultan tampak geram karena ibunya di ikat di sebuah kursi.


"Ibu!" teriak Sultan berlari mendekati ibunya, tapi ia di tahan oleh 2 orang penjaga sedangkan ibunya di todong dengan senjata api.


"Lepaskan Ibuku!" teriak Sultan, ia tak berani mendekati ibunya dan juga ia tak boleh gegabah, karena ia takut jika pelatuk itu di tarik, Ibunya bisa saja mati.


"Serahkan uangnya," pintanya.


Sultan mengeluarkan Black card dan melemparnya ke arah mereka.


"Dan juga kunci mobilmu," ujarnya lagi.


Sultan juga melempar kunci mobilnya.

__ADS_1


"Ambil," perintah ketua itu kepada anak buahnya.


Anak buahnya tersebut memungutnya dan menyimpannya.


"Sudah aku berikan apa yang kamu pinta, jadi kembalikan Ibuku," pinta Sultan.


"Habisi dia!" perintah ketuanya. Para anak buah tersebut menghajar Sultan, tentu saja Sultan membawan.


"Jika kamu berani melawan, tamatlah riwayat ibumu," ancamnya.


Seketika Sultan berhenti, ia pun di hajar, baginya tidak sakit, tapi ia harus pura-pura sakit.


SULTAN


(Sistem apa bisa menukar poin untuk melindungi ibuku di saat seperti ini)


SISTEM


(Bisa, tapi ulur waktu agar ibu Tuan tidak terjadi apa-apa dengannya, karena ini membutuhkan waktu)


SULTAN


(Baiklah)


Memprogram...


Pembuatan prisai...


Loading...


Mulai...


10%...


30%...


40%...


Kala itu Sultan di hajar habis-habisan oleh para anak buah tersebut, Sultan pura-pura terjatuh tak berdaya seolah-olah ia terluka parah, meskipun ia tidak terluka.


50%...


60%...


70%...


Mereka dengan sepuas hatinya menghajar Sultan.


"Tunggu saja selesai, gantian nanti aku yang menghajar kalian dengan sepuas hati," ujar Sultan dalam hati geram.


80%...


90%...


100%...


Selesai.


"Akhirnya selesai juga," ujar Sultan berdiri mengerakkan semua badannya dan mematahkan ruas-ruas jarinya dan memutar-mutarkan kepalanya dan meliuk-liukkan badannya.


"Pemanasan selesai," ujarnya pasang kuda-kuda.

__ADS_1


Mereka sangat terkejut karena Aultan baik-baik saja dan tidak terluka, padahal tadi ia di pukul habis-habisan tapi ia malah seperti sehat kembali.


"Cepat pukul dia lagi!" perintah ketuanya. Tapi Sultan melawan dan melepar anak buah tersebut ke depan kakinya.


"Kurang ajar! Jika kamu melawan akan ku tembak ibumu!" teriaknya.


"Tembak saja," jawab Sultan menyengir. Di kala itu Ibu Sultan sangat syok mendapati anaknya tidak lagi sayang dengan dirinya ia meneteskan air mata.


"Dengar, dia tidak sayang lagi denganmu, sebutkan kata-kata terakhir untuk anak kesayanganmu itu," ujar ketua itu ketawa.


"Nak, sampai kapan pun Ibu menyayangimu," ujar ibu sedih. Sebenarnya Sultan juga sedih mendengar kata perpisahan seperti itu, tapi ia tetap dengan pendiriannya.


"Jika begitu, selamat tinggal," Ibu Sultan memejamkan matanya sambil menagis.


Doorr...


"Ha?" tidak terjadi apa pun, hanya asap yang keluar dari senjata api tersebut sedangkan ibu Sultan membuka mata bingung.


Doorrr...


Sekali lagi ketua perampok itu menembak ke kepala Ibu Sultan, tapi tetap sama saja timah panas itu tetap tidak menembus tubuh Ibunya.


"Hehehe... tadi kalian puas sekali ya menghajarku, sekarang gantian kalian ku hajar," ujar Sultan berlari menuju sekelompok pria itu, dengan gampangnya dia membenturkan kepala anak buah pria itu ke lantai dan menendang perutnya lalu menghempasnya.


"Si-siapa kamu!" ujar ketuanya ketakutan.


"Setelah ketakutan kau baru bertanya siapa aku? Tadi kau memerintahkan anak buahmu menyuruh menghajarku sesuka mereka kau tidak bertanya siapa aku? Terimalah akibatnya, aku akan menghukummu 2 kali rasa sakit, pertama sudah menculik Ibuku, kedua kau menyuruh menghajarku," ujar Sultan sambil menghabisi anak buahnya.


Dengan geramnya Sultan mematahkan leher anak buahnya dan mekemparkan ke hadapannya.


"Coba katakan, kau ingin mati dengan cara apa?" tanya Sultan sambil meyikut dada anak buahnya kemudian melemparnya ke tembok.


"Aku... aku... jangan bunuh aku... adalah anak dari anggota organisasi tersembunyi," ujarnya gemetar sampai ia terduduk di lantai.


"Oh organisasi apa itu?" tanya Sultan menarik kerah bajunya sambil menunduk. Keluarlah kalung tersebut dari bajunya.


Pria itu sangat terkejut melihat kalung tersebut. "Itu... itu... kamu... dari organisasi itu juga?" tanyanya ada.


"Aku tidak tau apa organisasi yang kamu katakan, karena kau sudah meculik ibuku dan ingin merampok uangku, maka terima saja akibatnya," ujar Sultan mematahkan kaki dan tangannya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa...," jerit pria itu kesakitan. Sultan menghempas tubuhnya kelantai.


"Makanya sebelum melakukan kejahatan tanya dulu siapa orangnya, kau sungguh tak beruntung bertemu denganku, tapi seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah berbaik hati karena aku sudah mematahkan kaki dan tanganmu bukan membunuhmu," omel Sultan sambil melepaskan ikatan tali yang terlilit di tubuh ibunya.


"Ayo Ibu," ajak Sultan, ia mengambil kartu hitamnya dan kunci mobil lalu mengandeng tangan ibunya pergi dari sana.


Mereka masuk mobil dan Sultan melajukan mobilnya di jalan.


"Sultan, kenapa penjahat itu menembak ibu tidak bisa?" tanya Ibunya yang masih penasaran.


"Oh itu... pelurunya kosong Bu," jawab Sultan ngasal agar ibunya tidak curiga.


"Apa setiap hari kamu bergelut seperti ini?" tanya Ibu khawatir.


"Hm... tidak juga, udah ibu tak perlu khawatir, aku bisa jaga diri baik-baik kok, ibu juga harus jaga kesehatan, pergunakan uang sesuka ibu, kalo kurang ibu bisa memintanya lagi denganku," ucap Sultan.


Ibu hanya tersenyum.


Mobilpun melesat di jalan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH


__ADS_2