
Sultan pun pergi ke arah rumah tersebut dan mendapati rumahnya di kerumuni banyak orang. Sultan mendekati rumah tersebut seorang ibu yang yang berusaha menenangkan para tetangganya.
"Buk jangan bikin tempat ini jadi bumerang donk, gara-gara anak ibuk pulang malam terus jadi nggak bagus di pandang orang," ujar salah satu ibuk-ibuk itu marah.
"Iya, pulangnya kemalaman terus, apa jangan-jangan anak ibu kerjanya kerja nggak bener?" tanya ibuk-ibuk yang lain mencibir.
"Iya tuh, jangan-jangan kerja anak ibu melayani om-om kaya di hotel," sahut ibuk yang lain.
"Kalau begitu lebih baik kalian pindah dari sini, kami nggak mau ada orang anaknya kerjaan haram begitu!" teriak ibuk-ibu mendemo ibuk tersebut.
"Kalian tenang dulu, saya mohon dengarkan penjelasan saya dulu," ujar Ibuk itu menagis.
"Penjelasan apa lagi? Anakmu sudah jelas bukan anak yang baik-baik," ujar mereka meremehkan.
Saatnya pahlawan datang.
"Ibu-ibu tenang dulu, biarkan Ibuk ini menjelaskan kebenarannya, kalian jangan menuduh yang belum kalian lihat donk," ujar Sultan berusaha menenagkan kemarahan para emak-emak.
"Mau di jelaskan apa lagi, anaknya sering pulang malam jangan-jangan anaknya jadi simpanan pria tua kaya atau malah jadi plakor," teriak ibu-ibu itu menunjuk kearah ibu yang sedang menagis tersebut. Kenapa malah jadi melarat ke plakor?
"Diam!" teriak Sultan. Para ibu-ibu itu diam sambil mengomel bisik-bisik nggak jelas.
"Anak saya memang pulang malam, tapi dia tidak melakukan pekerjaan kotor yang seperti kalian katakan, dia kerja di cafe tutup cafe itu sampai jam 2 malam. Anak saya bekerja keras seperti itu karena ayahnya sedang sakit keras. Seharusnya ayahnya harus di operasi karena kami tak punya uang, sedangkan saya kerja menggosok dan mencuci pakaian orang-orang, kalian tetangga saya, saya nggak minta uang dengan kalian tapi setidaknya bantu saya memberi pekerjaan tapi kalian malah menuduh anak saya yang bukan-bukan," ujar ibu itu menagis sambil menjelaskan. Para ibu itu diam sesaat.
"Kenapa ibu nggak bilang kalo suami ibu sakit," ujar mereka mencibir.
"Saya sudah katakan tapi kalian tidak ada yang peduli," jawab ibu itu lagi.
"Kirain cuma sakit demam aja," jawab mereka kembali reda.
"Saya juga mau pinjam uang tapi kalian bilang nggak ada dan sedang butuh, makanya saya dan anak saya harus kerja keras demi mengumpulkan uang untuk pengobatan ayahnya," jelas ibu itu menyeka air matanya.
Sultan merasa kasihan dengan ibu tersebut. "Berapa biaya operasi suami ibu?" tanya Sultan melihat ke arah ibu tersebut.
__ADS_1
"10 juta Nak," jawab ibu itu.
"Sakit apa Bapak?" tanya Sultan melirik ke arah rumah ibu tersebut.
"Gagal ginjal," jawab ibu itu.
"Boleh saya lihat Bapak Buk?"
"Ayo Nak silakan masuk," ujar ibu itu mempersilakan. Sultan mengangguk dan mengikuti ibu itu dari belakang. Sultan di persilakan duduk oleh ibu tersebut, sementara ibu itu menuju ke aarah dapur membuatkan minuman.
"Tidak perlu repot-repot Bu saya hanya sebentar," ujar Sultan melihat ke arah bapak yang sedang terbaring lesu.
"Sudah lama sakitnya Pak?"
"Sudah hampir dua bulan," jawab Bapak itu dengan suara lemas. Ibu itu membawa segelas air putih.
"Maaf ya Nak, Ibu cuma punya air putih saja," ujar ibu meletakkan di depan Sultan.
"Tidak apa-apa Bu," jawab Sultan meneguk habis air putuh tersebut.
"Boleh deh," jawab Sultan cengengesan. Ibu kembali ke dapur dan membawa 1 teko besar ke ruang tamu.
"Astaga ini ibuk niat banget nyuruh aku minum," batin Sultan menuangkan airnya dan kemudian meminumnya.
"Begini, saya punya uang 10 juta, jadi mari kita bawa Bapak kerumah sakit sekarang jika di tunggu lebih lama lagi, sakit Bapak malah tambah parah," saran Sultan. Ibu itu menagis sambil memegang tangan Sultan.
"Terima kasih Nak atas kebaikanmu, padahal kita baru bertemu dan kamu malah mau membantu kami, sedangkan para tetangga malah tak ada yang peduli," air mata ibu itu menetes ke lantai.
"Tidak apa-apa Buk, saya hanya ingin membantu saja, ini hanya bantuan kecil saja," jawab Sultan tersenyum. "Mari kita bawa sekarang," ucap Sultan membantu Bapak tersebut berdiri dan membopongnya.
"Baiklah saya ambilkan baju dan keperluannya ke kamar," ujar ibu itu bergegas masuk kamarnya. Untung saja si bapak tidak terlalu berat karena ia sangat kurus sekali. Sultan membopongnya masuk ke mobil. Tak lama si ibu pun keluar membawa tas berisi pakaian ganti dan segera ia masuk mobil.
"Ibu mau ke rumah sakit mana?" tanya Sultan sambil meluncurkan mobilnya.
__ADS_1
"Rumah sakit perawang medikal saja," ujar ibu itu. Sultan mengangguk dan segera menuju rumah sakit yang di maksudkan. Tak berapa lama sampai ke rumah sakit tersebut dan Sultan segera memarkirkan mobilnya.
"Sus tolong ada orang sakit di dalam mobil saya," ujar Sultan kepada salah satu pegawai rumah sakit tersebut.
"Baik Pak, tunggu sebentar ya," ujar Suster tersebut masuk dalam dan segera memberi tahu kepada dokternya dan suster yang lain untuk membawakan sebuah stretcher dan segera mengangkatnya masuk ke UGD.
"Buk sepertinya Suami Ibu butuh penanganan segera, jadi ibu silakan tunggu di luar ya," ujar dokter tersebut. Ibu itu mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Oh iya ini uangnya Buk, dan juga telpon anak ibuk untuk segera kesini, biar ibu tidak sendirian," ujar Sultan menyerahkan uang tersebut ke tangan ibuk itu. Ibu itu kembali menangis menerima uang tersebut.
"Kamu benar-benar baik Nak, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu yang berlipat ganda, ibu tidak membalas kebaikkanmu, tapi ibu akan selalu mendoakanmu agar kamu selalu di beri kesehatan dan rezeki tiada habisnya, jika boleh tau siapa namamu Nak?"
"Oh ya, nama saya Sultan, jika begitu saya mau pamit dulu, semoga Bapak cepat sembuh dan buat ibu juga jaga kesehatannya," ucap Sultan.
"Sekali lagi terima kasih," ucap ibu itu melepas tangan Sultan. Sultan mengangguk tersenyum dan kemudian beranjak pergi keluar dari rumah sakit tersebut.
Ting ting
Misi selesai.
Selamat Anda mendapatkan 30 poin.
Poin Anda menjadi 380 poin.
"Tinggal sedikit lagi aku mengumpulkan poinnya," ujar Sultan memutar mobilnya dan segera pulang kerumah.
Akhirnya Sultan sampai juga kerumah dan mendapati seorang tamu duduk di sofa. Sultan mengeryitkan dahinya penasaran siapa orang tersebut.
"Sultan sudah pulang, ayo duduk di sini, kita kedatangan tamu," ujar ibu melambai kearah Sultan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN VOTE DAN HADIAH
__ADS_1
TERIMA KASIH
jangan lupa mampir ke karyaku (Sistem miliyader and foya-foya)