
"Tangkap dia," perintah Dirga kepada anak buahnya yang lain. "Jika kau berani bergerak, kau dan teman-temanmu berakhir mengenaskan," ancam Dirga lagi.
Dengan terpaksa Sultan tidak melawannya, jika hanya dia sendiri tidak masalah, tapi teman-temannya tidak ada yang melindungi.
Bawahan Dirga memborgol tangan Sultan dan juga memborgol tangan teman-temannya lalu membawa mereka masuk mobil Dirga.
Sedangkan mobil mereka di biarkan begitu saja.
"Gimana donk mobil kita, bakal mati di marahi oleh Bapakku," ucap Jeno.
"Mobil kamu pikirkan, nyawamu selamat apa nggak," ucap Madi.
Alex menundukkan kepalanya karena ia amat sangat merasa bersalah.
"Kalian, selamatkan diri kalian, ini semua karena kesalahanku, aku membawa kalian ke sini, aku yang harus bertanggung jawab, aku sudah membahayakan nyawa kalian," ucap Alex dengan nada rendah.
"Kalo bisa kabur, dari tadi aku kabur," celetuk Rendi yang dari tadi diam saja.
"Sudahlah, kita pergi berenam ya pulang harus berenam juga," sahut Madi.
"Bener tuh," sambung Tedi. "Ini gimana Sultan?" Tanya Tedi melihat ke arah Sultan dan minta pendapatnya.
"Diam kalian!" Bentak anak buah yang menjaga mereka.
"Ini orang kok galak bener," omel Madi dengan suara berbisik.
Penjaganya ada 5 orang dan mereka tidak membawa senjata.
"Ini ke sempatan," ucap Sultan dalam hati.
Sultan berbisik di telinga Madi yang berada di sampingnya.
"Gunakan batu untuk membuka borgol kalian, jika aku suruh lari, kalian cepat lari, mengerti," bisik Sultan.
"Kenapa? Terus bagaimana denganmu?" Balas Madi.
"Aku sudah punya rencana sendiri untuk melarikan diri, ini untuk kebaikan kalian, pokoknya kalian jika kalian lari jangan melihat ke belakang, tolong katakan kepada teman semuanya, aku rasa Tedi akan lebih mengerti, dengarkan arahannya nanti," bisik Sultan lagi.
"Baiklah," angguk Madi.
Sultan berpindah duduk ke arah samping pintu.
"Hey! Berhenti sebentar!" Teriak Sultan.
"Ada apa?" Tanya penjaga mereka.
"Lihat tuh," ucap Sultan memonyongkan mulutnya ke luar jendela untuk mengalih perhatian.
Karena penasaran, mereka pun berhenti dan melihat yang di tunjuk Sultan.
__ADS_1
Sultan menendang pintu mobil hingga pintunya terpelanting jauh.
"Cepat lari dan jangan lihat kebelakang!" Teriak Sultan.
Teman-temannya pun langsung melompat turun.
"Tedi bawa mereka semua ke tempat aman," ucap Sultan.
"Baik," jawab Tedi yang mengerti dengan keadaan temannya yang satu ini.
"Aku tidak mau pergi, Bagaimana denganmu?" Tanya Alex yang khawatir yang masih berdiri di sana.
"Kalau kau tak ingin jadi beban lebih baik ikuti katanya," ucap Tedi.
Mereka pun berlari ke dalam semak-semak.
Sultan memutuskan borgolnya dengan kekuatannya dan menghantam penjaga itu, menendangnya dan membantingnya ke dinding mobil. Temannya yang lain pun Sultan meninju dan menghantam kepalanya dan mematahkan tangan beserta tulang kakinya.
Supirnya juga Sultan menghantam kepalanya di stir beberapa kali dengan keras dan kemudian ia keluar dari mobil tersebut.
Karena mobil di belakang melihat teman-teman Sultan lari, mereka segera mengejarnya dan tentu saja, Sultan tak melepaskan orang itu.
Sultan lari dengan kecepatan tinggi, yang berlari seperti harimau, dengan kekuatan mata tembus pandangnya, ia bisa melihat arah mereka berlari.
Seseorang sudah mendekati teman-temannya dan ingin menembaknya. Sultan terpaksa mengunakan kekuatan jarak jauh, mengibaskan tangannya dan terpentallah pria tadi nyangkut di pohon.
Mereka semua merasa heran, "Lho kok busa-bisanya dia terbang?" Tanya teman penja hat itu seketika berhenti berlari.
"Cepat, kejar mereka," ucap teman penja hat itu lagi.
Untungnya sempat, Sultan menangkap pria yang mengejar teman-temannya dan menghempaskan kepalany ke tanah dan menginjaknya dengan kuat.
Teman penja hat lainnya juga, Sultan menangkap kerah bajunya kemudian membantingnya di batang pohon besar.
Sedangkan penja hat yang lain, Sultan mematahkan kepalanya dan kakinya dan melemparnya ke samping.
"Sultan, Syukurlah kamu datang. Tapi sepertinya mereka pasti akan mencari kita lagi," ucap Tedi.
"Aku akan mengawal kalian sampai ke tempat mobil kita berhenti tadi, sini biar aku bantu kalian buka borgolnya, tapi kalian harus tahan sakit ya," ucap Sultan.
"Baiklah," ucap teman-temannya.
Sultan memegang kedua tangan Madi dan menarik bogol tersebut hingga putus.
Begitulah seterusnya dengan teman-teman yang lain.
"Ini sudah gelap, aku rasa mereka mencari kita akan lebih terbatas, kalian langsung ke mobil dan tinggalkan tempat ini segera," perintah Sultan.
"Kamu bagaimana?" Tanya Alex yang masih khawatir.
__ADS_1
"Usah pikirkan dia, dia nggak akan mati dengan mudah, ikut saja apa katanya, kalau kau bersamanya kau malah beneran membunuhnya nanti," ucap Tedi menakutinya.
"Fiks, kamu emang mengerti aku," ucap Sultan tersenyum. "Ya sudah, ayo," ajak Sultan dan teman-temannya menuju arah mobilnya melewati jalan semak, dan untung saja mobil mereka tidak di curi orang.
Saat mereka sampai di sana, beberapa kelompok juga sampai di sana, karena mereka yakin jika Sultan dan teman-temannya pasti akan kembali ke mobil mereka.
"Kalian cepat pergi!" Perintah Sultan sebelum para penja hat itu menidongkan senjata apinya.
Teman-teman Sultan pun mengendarai mobilnya dan melaju kencang.
"Jangan biarkan mereka kabur!" Perintah Dirga.
Bawahan Dirga masuk mobil dan ingin mengejar Tedi dan teman-temannya yang lain, Sultan terpaksa menggunakan serangan jarak jauh lagi yang membuat bawahan Dirga terpental keluar dari mobilnya. Dirga terkejut.
Ini kali keduanya ia menggunakan serangan jarak jauh dengan waktu dekat.
"Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat atau aku akan ke habisan energiku dan poinku semuanya juga sudah habis," ucap Sultan dalam hati.
"Kau punya kekuatan lain?" Tanya Dirga.
"Heh, tentu saja, dan kekuatanku tiada batasnya dan aku masih punya kekuatan lainnya," ucap Sultan tertawa sinis.
"Oh ya, bagaimana dengan ini?" Tanya Dirga menodong senjata api di hadapannya.
"Kau pikir benda itu akan membunuhku?" Ucap Sultan tersenyum sinis. Ia harus mengulur waktu untuk teman-temannya pergi jauh.
"Kalo tidak coba, mana mungkin akan tahu," ucap Dirga.
Dor!
Satu tembakan mengenai dada kanan Sultan. Namun Sultan masih berdiri tegap dan tersenyum sinis.
Ia mengambil peluru yang menempel di dada kanannya dan melempar santuy di hadapan Dirga.
"Tidak mungkin, bahkan peluru tidak menembusnya," ucap Dirga tak percaya.
"Kau pikir aku menjadi Raja judi hanya gelar kepintaranku dalam menebak kartu. Aku tau jika aku bakalan banyak musuh aku harus memperkuat diriku dari serangan pecundang sepertimu," ejek Sultan.
"Aku tidak percaya," Dirga menembak lagi ke arah Sultan.
Dor!
Dor!
Dor!
3x tembakan yang mengenai dada kanan perut dan kaki Sultan. Tapi Sultan tak bergeming.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
TERIMA KASIH