System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 222


__ADS_3

"Kami bukan main-main Tuan, hanya saja, jika Nona Qayla yang menghandle dia mengatakan kami boleh mengerjakan jika sudah hampir akhir bulan," ujar sekretaris itu.


Sultan terdiam.


"Qayla tidak mungkin melakukan itu, dia sangat telaten dalam bekerja," ucap Sultan dalam hati.


"Kalian tetap saja salah, karena sudah membohongiku dengan memberi laporan lama," ucap Sultan.


"Itu semua kami di suruh oleh Nona Qayla, jika Anda datang berikan saja yang lama sebelum laporan bulanan selesai," ujar sekretaris itu.


"Kau berani berbohong lagi?" tanya Sultan.


"Tidak Tuan, saya tidak berani berbohong," ujarnya menundukkan kepala sambil mengeleng.


"Aku tahu sekretaris ini berbohong, tapi aku ingin mendengar dari mulut Qayla langsung," ucap Sultan.


"Telpon Qayla sekarang, suruh dia datang ke sini, telpon di depanku," perintah Sultan.


"Ta-tapi Tuan," ujar Sekretaris itu tak bisa berkata-kata lagi, jika ia ketahuan bohong maka habislah dia.


"Baik Tuan," ujar sekretaris itu pasrah. "Jika aku di pecat, tentu saja aku tidak akan sendirian, aku akan membawa mereka semua," ucap sekretaris itu dalam hati sambil melihat ke arah teman-temannya itu.


Tuuuut


Tuuuut


Tuuuut

__ADS_1


"Halo," jawab Qayla sayu.


"No-nona, Anda di suruh datang ke perusahaan sekarang," ujar sekretaris itu.


"Apa ada masalah?" tanya Qayla.


"Sepertinya begitu," ujar sekretaris itu.


"Baiklah jika begitu," ujar Qayla mematikan panggilannya.


Qayla langsung beranjak dari tempat duduknya dan ia segera berangkat menuju perusahaan yang satunya.


Sultan kembali masuk ke dalam ruangannya kembali dan duduk di kursi putarnya.


Setelah menunggu beberapa menit, Qayla pun sampai di perusahaan, Qayla pun segera turun dari mobilnya.


"Nona tolong donk, Tuan marah-marah denganku, dia bilang kerjaanku nggak becus dan semacamnya, dia juga pasti akan memarahi Nona, tolong donk Nona, dia lebih percaya dengan Nona, tolong bilang sama dia jangan pecat aku dan juga bilang sama dia jika Nona yang menyuruhku mengerjakan laporannya di akhir bulan," ujar Sekretaris itu manja.


"Sepertinya dia ingin menjebakku ya, agar dia tidak di pecat," ucap Qayla dalam hati.


"Dia itu siapa? Lalu di mana dia?" tanya Qayla.


"I-itu... Tuan Sultan, dia sekarang sekarang berada di ruangannya," jawab sekretaris itu.


"Baiklah, Aku ingin melihat Sultan percaya aku dari mulut orang atau percaya dengan apa yang ia lihat dari diriku selama ini," ujar Qayla dalam hati sambil melangkahkan kaki masuk keruangan Sultan.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


"Masuk," jawab Sultan.


Qayla pun masuk ke ruangan dan berdiri di depan meja, Sultan memutar kursinya menghadap ke depan Qayla.


"Ada yang Tuan sampaikan?" tanya Qayla.


"Iya, apa yang kamu kerjakan di perusahaan ini selama aku tidak datang ke sini?" tanya Sultan.


"Aku mengerjakan Apa yang Anda suruh," jawab Qayla.


"Lalu kenapa kamu menyuruhnya membuat laporan di akhir tahun lalu juga jika aku datang kau menyurunya memberiku laporan bulan lalu, apa maksud dari pekerjaan ini?" tanya Sultan mengintrogasi Qayla.


Qayla terdiam sambil melihat ke arah sekretaris itu dengan wajah sedihnya memohon dengan mengatup kedua tangannya.


Qayla menundukkan kepalanya dengan wajah sedih dan berkata. "Iya, aku menyuruhnya melakukan itu," ujar Qayla melemah.


Sultan menatap Qayla dengan saksama. "Qayla kenapa kau melakukan itu, kau bisa saja membantahnya, apa yang ada di kepalamu sampai kau mengakuinya," ujar Sultan dalam hati, ia sangat sedih mendengar ucapan Qayla.


Bersambung


Jangan lupa like vote komen dan hadiah


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2