
Selang tak berapa lama, Tedi berlari kencang hingga tak sempat mengeremnya hingga ruangannya terlewati.
Ia berbalik dan langsung masuk ruangan, mendapati Sultan yang berdiri, Tedi langsung berlari ke arah Sultan sambil terponggoh-ponggoh.
"Slow Bro," ujar Sultan melihat Tedi yang kehabisan nafas karena berlari.
"Sultan... kamu... tau.... nggak...."
"Iya tau," Jawab Sultan cepat.
"Kamu... kamu harus... ikut," ujar Tedi menunjuk ke arah Sultan dengan nafas yang tak beraturan.
Mereka yang sedang ngumpul merasa heran melihat Tedi dan juga tak mengerti.
Sultan melirik kiri kanan lalu memegang tangan Tedi dan membawanya duduk di kursi biasa mereka duduki.
"Kamu ini gimana sih, masa depan orang ramain kamu ngomong gitu," ujar Sultan menutup mulut temannya itu dengan jari telunjuknya.
"Aku tadi itu benar-benar nggak bisa menahan gejolak hatiku," jawabnya sambil mengatur nafas.
"Gejolak hatiku? Emang kamu pikir ini asmara cinta membara?" Ujar Sultan meledek.
"Eh tapi aku serius lho, kamu terima tantangan si raja judi dari kota W nggak?" tanya Tedi berharap.
"Kurang tau juga, ikut apa nggaknya," jawab Sultan melipat tangan sambil menekuk alisnya.
"Ikut donk, ikut donkkk.... plisss," ujar Tedi mengosok-gosokkan tangannya.
"Wah ada berita terbaru lagi nih, jika dalam waktu 2 jam si raja dari kota T tidak datang, maka nama raja tersebut gugur," ujar salah satu mahasiswa yang sedang melihat ponselnya.
"Ayo donk, ayo donk," pinta Tedi memohon.
"Apa urusanku mereka juga tidak mengenaliku," ujar Sultan yang masih cuek.
"Dan apa bila dia menerimanya maka ia bisa memenangkan uang sehingga 500 miliyar," sambung mereka lagi.
Sultan berdiri sambil mengebrak meja. "Hehehe... ayo kita pergi, mereka sendiri yang mengantarkan uangnya, jangan salahkan aku yang tidak sungkan-sungkan mengambilnya," ujar Sultan bersemangat.
"Lest gooooooo!" teriak Tedi mengangkat tangan, sepertinya dia yang lebih bersemangat lagi.
Mereka berlari menuju parkiran dan naik mobil.
"Kamu naik mobil siapa?" tanya Sultan sebelum berangkat.
"Aku naik mobilmu aja deh," ujar Tedi pindah kemobil Sultan, ia masuk lalu langsung memakai sabuk pengaman.
Sultan menghidup mesin mobilnya.
__ADS_1
"Ayooooo camooooonnn!" teriak Tedi. Sultan hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu meluncurkan mobilnya di jalanan.
Sultan menambah kecepatan agar cepat sampai.
"Sultan, kamu harus ingat!" ujar Tedi serius.
"Ingat apa?" tanya Sultan.
"Kamu harus menangggggg... dan dapatkan 500 miliyar itu," ucap Tedi bersemangat.
"Jika bukan karena 500 miliyar itu aku tidak akan terima tantangannya," jawab Sultan.
"Iya juga ya," ujar Tedi mengosok-gosok dagu dengan jari telunjuknya.
"Sultan stoop!" teriak Tedi tiba-tiba dan Sultan langsung memberhentikan mobilnya mendadak.
"Hey apa kau lakukan? Itu sangat bebahaya tau," ujar Sultan sebal.
"Hehehe... sebelum pertandingan di mulai aku ingin npipis dulu, biar nanti nggak tegang pas pertandingan," ujar Tedi membuka sabuk pegaman dan keluar dari mobil.
Tedi masuk ke semak-semak di karena di sana tidak ada rumah untuk menumpang kamar mandi.
"Hmm... yang bertanding siapa? Yang gugup siapa?" tanya Sultan kepada dirinya sendiri.
SULTAN
SISTEM
(Tenang saja Tuan, Anda bisa mengandalkanku)
SULTAN
(Baguslah, aku percaya padamu)
Tak lama kemudian Tedi masuk kembali dan memasak sabuk pengamannya.
"Oke! Ayo berangkat," ajak Tedi.
Sultan pun kembali melajukan mobilnya. Sekitar 1 lebih jam perjalanan dan akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.
Sisa 20 menit lagi dari waktu yang di tentukan namun Sultan mengajak Tedi buat makan di restoran dekat casino tersebut.
"Ayo makan dulu, sebelum melakukan pertandingan," ajak Sultan.
"Benar, sebaiknya aku harus makan yang banyak nih," ujar Tedi.
"Jangan makan terlalu banyak, nanti kamu nggak bisa berpikir," saran Sultan duduk di restoran tersebut.
__ADS_1
"Yang berpikirkan kamu, bukan aku," jawabnya enteng.
"Terus kenapa kamu dari tadi yang sibuk, seolah-olah kamu yang di tantang," ujar Sultan mencibir.
"Hehehe... aku kan suporter kamu harus punya energi jugalah buat menyoraki kamu," jawab Tedi manyun.
"Mau makan apa Tuan?" tanya seorang pelayan datang menghampiri Sultan dan Tedi.
Sultan meraih buku menu dan melihat apa saja yang ingin ia makan.
"Hmm... steak sapi dan minuman jus jeruk peras," pesan Sultan.
"Aku juga sama," sahut Tedi.
"Baiklah tunggu sebentar ya," ucap pelayan tersebut dan pergi menuju dapur.
"Kalian mau nonton pertandingan raja judi juga ya," ujar salah satu pria yang datang entah dari mana, mereka datang bertiga duduk di dekat Sultan.
"Bukan, kami justru..." dengan cepat Sultan menutup mulut Tedi.
"Iya, kami ingin melihat pertandingan," jawab Sultan.
"Kalian dari mana?" tanyanya lagi.
"Kami dari kota R," jawab Sultan ngasal.
"Tapi raja judi dari Kota T kok belum datang, apa jangan-jangan dia ketakutan," ejek mereka sambil tertawa.
Tedi tampak kesal, namun Sultan mencoba menahannya.
Tak lama datang lagi sekelompok pria datang dan ikut ngumpul.
"Kalian juga mau melihat pertandingannya?" tanya mereka.
"Pastilah, acara seru begini siapa yang nggak penasaran," jawab mereka.
"Dengar-dengar yang ingin masuk melihat pertandingan harus bayar 10 juta," ujar salah satu temannya.
"Wajar aja, ini bukan pertandingan biasa, ini adalah pertandingan perebutan gelar raja, kira-kira kalian siapin uang buat masuk nggak?" tanya temannya yang lain.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH
TERIMA KASIH
mampir juga ke karyaku (Sistem miliyader and foya-foya)
__ADS_1