
"Kau ingin menembak berapa lama lagi? Aku capek meladeni kalian," ucap Sultan.
"Tangkap dia," perintah Dirga lagi.
Bawahannya mendekati Sultan.
Krak!
Krak!
Krak!
Suara derakan tulang yang patah, Sultan mematahkan bawahannya di hadapan langsung Dirga dan melemparkan kebawah kaki Dirga denga tubuh yang sudah Sultan gulung.
"Kau... kau... monster!" Teriak Dirga ke takutan dan hendak lari. Sultan menangkap kaki Dirga dan mematahkannya.
"Sesuai janjiku, aku akan membuatmu cacat seumur hidup hingga kau bisa merenungi nasib di sisa umur hidupmu," ucap Sultan mengeluarkan tulang kaki Dirga dari daging kakinya mencabutnya dengan paksa dan mematahkan hingga jadi 8 bagian, kini kaki Dirga tanpa tulang.
Dirga menjerit kesakitan hingga ia pingsan karena tak kuat menahan sakit.
"Bawa bos kalian kerumah sakit, jika tidak ingin dia mati," ucap Sultan keoada anak buahnya yang masih tersisa.
Sultan membuka baju salah satu bawah Dirga yang pingsan dan mengelap tanganya yang terkena darah Dirga tadi.
Kemudian ia naik mobilnya dan pergi meninghalkan para penja hat itu.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Halo," jawab Tedi.
"Kalian di mana?" Tanya Sultan.
"Kami di simpang jalan," jawabTedi.
"Kalian cepatlah pulang, aku juga pulang," jawab Sultan.
"Apa semuanya sudah beres?" Tanya Tedi.
"Ya, kalian segeralah istirahat," pesan Sultan.
"Baiklah jika begitu," jawab Tedi dan mematikan panggilannya.
"Ayo pulang, Sultan juga sudah pulang dan menyuruh kita istirahat," ucap Tedi.
"Tapi aku ingin menunggunya meminta maaf," ucap Alex seketika.
"Ayolah, besok saja, dia juga capek dan ingin istirahat," ujar Tedi dengan nada sedikit kesal.
"Baiklah jika begitu," ucap Alex pasrah.
Mereka juga segera pulang.
Dari kejauhan Sultan melihat Ibu dan Qayla duduk di teras rumah.
"Bagaimana ini?" Tanya Sultan melihat bajunya yang kena darah tadi.
__ADS_1
Ia segera melepaskannya dan menyembunyikan di pojok mobilnya dan kemudian baru ia mendekati rumahnya.
"Lho? Ibu, Qayla, kalian belum tidur?" Tanya Sultan keluar dari mobilnya.
Qayla langsung membuang pandangannya karena Sultan tanpa baju.
"Ke mana bajumu?" Tanya Ibu menekuk alisnya.
"Oh, bajuku koyak tadi, nyangkut paku," jawab Sultan ngasal.
"Udah sana cepat masuk dan mandi, habis itu ada yang mau di bicarakan Qayla," ucap Ibu.
"Ya, Bu," jawab Sultan yang kemudian masuk ke kamarnya.
Ia segera mandi dan kemudian menuju dapur.
Sultan membawa piring yang berisi nasi dan lauk ke depan teras.
"Ada apa?" Tanya Sultan sambil berjongkok di depan pintu dan melahap makanannya.
"Kamu kok nggak sopan bener," omel ibunya.
Sultan pun berdiri dan duduk di kursinya.
Tatapan ibu masih tajam menatap Sultan membuat Sultan menelan nasi pun nyangkut di tenggorokannya.
"Ibu, aku keselek," ucap Sultan meminta tolong.
Karena tak tega Ibu pun ke dapur dan mengambilkan minum untuk Sultan.
"Nih," ucap Ibu membawa 1 teko besar dan cangkir.
"Ngomong aja, aku denger kok," jawab Sultan mengangguk-angguk sambil melahapnya makanannya.
"Hm begini, aku mau pemilihan kembali staf di kantor dan ke 3 prusahaanmu, aku ingin mencari orang yang benar-benar sesuai dengan posisinya, soalnya pas aku lihat jika kinerja mereka seperti ini, kerja mereka amburadul dan mereka tidak cocok dengan posisi mereka saat ini, jadi aku minta pendapat kamu, gimana? Apa kamu setuju dengan usulanku ini?" Tanya Qayla.
"Setuju banget," jawab Sultan mengancungkan jempol dengan nasi di mulutnya.
"Sultan!" Ucap ibu menepuk tangannya. "Kamu kalo ngomong jangan sambil makan donk, nggak sopan tau," omel ibunya lagi.
"Iya, aku setuju, kapan kita akan perusahaan?" Tanya Sultan.
"Terserah kamu, kapan sempatnya," ucap Qayla.
"Besok pagi saja," jawab Sultan cepat.
"Baiklah jika begitu, besok ya, malam semakin larut, aku pulang dulu ya Tante," pamit Qayla.
"Eh kok pulang, tidur di sini aja," ajak Sultan.
"Iya, tidur sini aja, besok kita berangkat bersama," ucap ibu setuju.
"Hm... baiklah," angguk Qayla tersenyum setuju.
"Ayo, Tante anterin ke kamar tamu," ajak Ibu, Qayla pun mengikuti ibu masuk ke kamar tamu.
"Terima kasih Tante," ujar Qayla.
"Sama-sama, ya udah, Tante istirahat dulu ya," ucap Ibu.
__ADS_1
"Ya Tante, selamat malam," ucap Qayla tersenyum.
"Selamat malam juga," jawab ibudan kemudian meninggalkan Qayla di kamarnya.
Sultan setelah makan ia nyantai di teras rumah sambil main ponsel.
"Sultan," panggil Qayla dari belakangnya.
"Eh Qayla, ayo duduk," ucap Sultan menurunkan kakinya dari kursi dan mengibasnya agar tidak kotor.
"Terima kasih," jawab Qayla duduk di kursi yang disediakan Sultan.
"Kamu belum tidur?" tanya Sultan.
"Ngantuk tapi nggak bisa tidur," jawab Qayla mengangkat bahunya. "Lalu kenapa kamu nggak tidur?" Qayla balik bertanya.
"Aku sedang cari berita penting," jawab Sultan tertawa renyah.
"Tapi jika aku tidak salah, aku mencium bau darah di tubuhmu saat kamu pulang tadi," ucap Qayla menebaknya.
"Hidungmu sungguh sensitif, dan aku mana bisa membohongimu," ucap Sultan tertawa kecil.
"apa yang kau lakukan? Membunuh orang?" tanya Qayla mengintogasinya.
"Entahlah, aku rasa dia tidak mati karena cepat di bawa ke rumah sakit, jika ia nyawanya panjang, dia pasti hidup, tapi hudupnya penuh dengan pendetitaan," jawab Sultan. "Lalu? Kamu pernah bunuh orang?" tanya Sultan kepada Qayla.
"Aku rasa aku tidak pernah membunuhnya, tapi membuatnya seseorang di ambang kematian pernah," jawab Qayla mengangkat alisnya.
"Kamu seorang gadis, tapi kok sadis sekali, bukannya seorang peremouan itu elegant dan peminim?" tanya Sultan terkekeh.
"Aku bersikap sesuai kondisi, dan menyesuaikan tempatnya, apa di hadapan musuh aku harus peminim juga?" taya Qayla tersenyum.
"Kamu emqng gadis yang luar biasa ya, serba bisa," puji Sultan kagum.
"Bagi mereka aku sempurna, sebenarnya masih banyak ke kuranganku, yang mungkin tidak di ketahui orang," jawab Qayla meletakkan ke dua tangannya di atas meja.
"Apa boleh aku tahu kekuranganmu itu?" tanya Sultan berharap tahu rahasia Qayla.
"Tentu saja tidak, suatu saat nanti jika aku sudah siap, aku akan memberi tahumu," ucap Qayla tersenyum.
"Aku tidak akan memaksamu menceritakan rahasiamu, itu terserahmu jika kau ingin memberi tahuku, tapi jika ada masalah kau bisa cerita denganku," ucap Sultan tersenyum manis di depan Qayla.
"Kau sungguh pria pengoda ya, berapa banyak wanita yang kau goda?" tanya Qayla melihat senyum Sultan.
"Eh, apa maksudmu?" tanya Sultan tak mengerti.
"Senyum itu untuk mengoda orang ya?"
"Mana ada, aku senyum begini hanya padamu saja," jawab Sultan nyengir.
"Ya sudah, aku mau istirahat dulu, dan kamu juga istirahatlah, kau pasti lelah habis bertarung tadi kan?" ucap Qayla tersenyu.
"Kau emang gadis yang perhatian," jawab Sultan yang juga membalas senyum Qayla.
Mereka pun masuk kamar masing-masing
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE VITE KOMEN DAH HADIAH
__ADS_1
TERIMA KASIH