System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 87


__ADS_3

"Kamu." lirih Sultan tak percaya.


"Kamu." lirih Qayla berdiri.


"Yang di maksudkan tamu itu kamu ya?" tanya Sultan tersenyum.


"Iya, aku juga nggak tau jika kamu Ceo perusahaan ini, cuma katanya Ceo baru di perusahaan ini orangnya tegas dan berwibawa jadi aku penasaran siapa orangnya, ternyata kamu," ujar Qayla tersenyum.


SISTEM


(Tegas dan berwibawa {X})


(Semberono amburadul{✔}


SULTAN


(Diam nggak lu!)


SISTEM😒😒


"Mari duduk," ujar Sultan mempersilakan. Ia jadi salah tingkah sambil senyum-senyum bingung mau ngapain.


Ia juga merasa malu, kalau pertemuan pertamanya malah menabrak tiang listrik, sungguh pertemuan yang tak di inginkan dan sangat memalukan.


Seketika mengheningkan cipta.


Canggung.


"Oh ya, apa kamu masih kuliah?" tanya Qayla memulai pembicaraan.


"Oh ya, aku masih kuliah, dan bagaimana denganmu?" Sultan balik bertanya.


"Aku juga masih kuliah, tapi di karenakan Papa sedang kondisi tidak enak badan, jadi Papa suruh aku pulang untuk mengurus perusahaan Papa, jadi dalam waktu dekat mungkin aku akan pindah kuliah di sini, biar aku gampang mengurusnya," jelas Qayla tersenyum manis.


Alamakkkkkk... senyumnya bagaikan panah yang berakar, sangat sulit di tarik dari hati.


"Hm... bagaimana jika kamu pindah ke kampus ku aja, di sana juga ada jurusan bisnis," saran Sultan.


"Oh ya, mungkin aku bisa coba daftar di sana," jawab Qayla senang.


"Oh ya, apa nama perusahaanmu ini?"


"ST 1," jawab Sultan.


"Oh... jadi bagaimana kerja sama antar perusahaan kita?" tanya Qayla menuju topik pembicaraannya.


"Baiklah, semoga kita bisa jadi rekan kerja yang baik," ujar Sultan mengulur tangannya.


Qayla tersenyum menjabat tangan Sultan.


Sesungguhnya Sultan tak rela melepaskan pegangan tangannya, tapi apalah daya ia baru saja berkenalan.


Ponsel Sultan tiba-tiba berbunyi.


Tring...

__ADS_1


Tring...


Tring...


"Halo," jawab Sultan.


"Halo Sultan, tempat karokean kita kedatangan banyak orang," ujar Tedi panik.


"Ya baguslah, kan bisa banyak pendapatannya," jawab Sultan santai.


"Bukan pengunjung, tapi orang yang ingin balas dendam, dia ingin bertemu denganmu, jika kamu telat, tempat ini akan dia hancurkan," jelas Tedi kebingungan.


"Apaaaaa! Oke aku ke sana sekarang," ujar Sultan yang langsung menutup panggilannya.


"Maaf seribu kali maaf Qayla Alexander, aku harus pergi ke tempat usaha ku yang satunya lagi, karena ada sekelompok belalang harus di basmikan," ujar Sultan.


"Oh kamu masih punya tempat usaha lagi, bagaimana jika aku ikut untuk melihat-lihat, siapa tau aku bisa bantu," tawarnya.


"Bantuan?? Kamu tidak perlu membantu, cukup lihat saja, mari ikut aku," ajak Sultan.


Qayla pun mengangguk.


"Hey... kamu hm... siapa namamu?" tanya Sultan kepada sekretarisnya.


"Ana Tuan," jawab Sekeretarianya.


"Tolong siapkan berkas kerja samanya ya," perintah Sultan.


"Baik Tuan," angguk Sekretaris tersebut.


Mereka berdua pun pergi menuju mobil dan Sultan langsung menuju tempat usahanya yang lain.


"Eh, kenapa ramai sekali preman di tempatmu, bukannya tadi kamu bilang belalang?" tanya Qayla menekuk alisnya.


"Ya inilah yang aku katakan belalang, belalang ini cara basminya bukan pake racun," ujar Sultan.


"Lalu?"


"Pake baku hantam," jawab Sultan terkekeh.


"Di saat seperti ini kamu malah senang, bukannya panik," ujar Qayla heran.


"Menghadapi masalah itu harus di bawa santai, ayo keluar," ajak Sultan.


Setelah Sultan dan Qayla keluar dan mendekat, semua orang melihat Ke arahnya.


"Eh Sultan, anak orang mana lagi kamu bawa," ujar Tedi ketawa.


"Dia partnerku tau," jawab Sultan.


"Itu dia kakak ketiga, dia yang sudah memukulku hingga babak belur begini dan anak buah kakak waktu itu, dia yang sudah mengambil alih tempat ini juga dan membiarkan kamil itu pergi luar negeri," adu pria seram itu.


Sultan melihat pria seram itu tangannya di kasih kain seperti orang patah dan kepala di perban seperti mummi dan kaki juga di kasih perban, perasaan kemaren ia memukul tidak separah itu? Mungkin kalo wajah memang parah dia pukul, kalo tangan? Kemaren ia sempat membawa kedua temannya apa dia sengaja untuk membuat kakaknya itu marah besar?


"Heh bocah, badanmu kecil nyalimu besar juga ya," ujar kakak ketiganya itu.

__ADS_1


"Dari pada badan besar nyaliny ciut, seperti adekmu itu," tunjuk Sultan kepada pria seram itu dengan mencibir.


"Kurang ajar kamu!" bentak pria seram itu dan ingin maju menghajar Sultan, namun di tahan oleh kakak ketiganya.


"Sabar adik, apa maksud kamu mengambil alih tempat ini, apa kamu tau ini tempat kami menongkrong," ujar kakak ketiga memperingati.


"Tau, justru itu aku ingin mengambil alih karena agar kalian tidak bisa mengkrong lagi, jika perlu aku akan membeli semua tempat usaha di kota ini agar kalian tidak punya tempat tongkrongan lagi," ujar Sultan memprovokasi.


"Kamu sengaja ingin melawan saya?" tanya kakak ketiga itu membuang puntung rokoknya.


"Bukan sengaja, tapi aku memang ingin membasmi manusia meresahkan seperti kalian," balas Sultan.


"Kurang ajar! Ayo kita habisi dia," ajak kakak ketiganya itu.


"Tedi, lindungi karyawan kita bawa mereka menjauh," perintah Sultan.


"Laksanakan," ucap Tedi. "Ayo kita duduk di sana, menonton sambil ngemil," ajak Tedi kepada karyawan dan pada Qayla dan Messi.


"Kamu nggak nolongi dia?" tanya Qayla kepada Tedi.


"Tidak perlu, dia sendiri bisa mengatasinya," ujar Tedi menenagkan dan mereka duduk dikursi.


Para kawanan pria itu melawan Sultan dan Sultan pun tak mau kalah.


Sultan menendang kaki mereka dan menjatuhkannya ketanah lalu membalikan dan meninju wajahnya, Sultan menarik bajunya dan melemparnya.


Seseorang memukul Sultan dari belakang, dengan sigap Sultan menangkap tangannya dan memutarnya lalu mematahkan tangannya.


Drak!


Ketika Sultan melawan mereka, tiba-tiba Qayla datang.


"Eh kenapa kamu ke sini?" tanya Sultan panik, sambil menekan kepala para penjahat itu dan menginjaknya dan membenturkan ke tembok.


"Aku ingin membantumu," ujar Qayla.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sultan bingung dengan ucapan Qayla.


"Tenang saja, aku pelatih pencak silat," ucap Qayla.


Sultan tersenyum. "Dia benar-benar pasangan yang ku nanti," ujar Sultan dalam hati, ia tersenyum kagum karena sangat jarang wanita yang rela bekerja sama jika ketemu masalah. Qayla adalah pilihan tepat.


Buuukk!


Sebuah tinjuan mendarat di wajah Sultan yang fokus dengan keahlian Qayla melawan para penjahat itu.


"Kurang ajar! Kamu cari kesempan di saat aku sedang terpesona," ujar Sultan geram. Suktan menendang perutnya dan menangkap tubuhnya lalu mematahkan tulang pinggangnya dengan mengunakan lututnya.


Kraak!


Qayla juga memukul wajah pria yang lain dan membalikan badannya lalu memukul kepala belakang pria itu dengan kekuatan penuh sehingga pria itu rubuh.


"Wah... ini momen yang langka, harus di abadikan nih," ujar Tedi mengambil ponselnya dan memvediokan Sultan dan Qayla.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH


__ADS_2