System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 109


__ADS_3

Mereka berdua pun masuk ke ruangannya untuk mengikuti pelajaran.


Hari ini ada dosen baru masuk ke ruangan dan itu dosen pria.


"Baiklah, saya dosen baru di sini, dan nama saya Hanif, saya harap kalian semua bisa mengikuti pelajaran lebih serius lagi.


"Siap Pak," ucap para mahasiswa lemas.


"Saya akan memberikan 1 contoh da kemudian kalian akan menjawab soal selanjutnya," ucap pak Hanif.


Pak Hanif pun memberikan materi dan kemudian membuat soal yang sangat Sulit membuat para mahasiswa kebingungan mengerjakannya dan mereka semua ketakutan karena takut di suruh maju ke depan mengerjakan soalnya.


"Sultan, silakan maju kedepan, kerjakan soalnya," perintah Hanif tapi ia seperti tidak mengenali sosok Sultan.


Sultan pun maju ke depan dengan heran. "Dari mana dia tau namaku?" Tanya Sultan dalam hati.


Para mahasiswa mengelus dadanya karena selamat dari maut.


Sultan mengerjakan dengan sangat gampang dan akhirnya selesai.


"Sudah siap Pak," jawab Sultan. Hanif memeriksa jawaban Sultan dan jawabannya benar semua.


Dan terus begitu, giliran ada soal yang gampang siswa yang lain di suruh jika ada yang sulit Sultan yang mengerjakannya.


"Ini orang ada dendam apa sih denganku, dari tadi aku di kasi soal yang Sulit terus?" Celetuk Sultan kepada Tedi.


"Karena tau kamu pintar, makannya dia seneng sama kamu," tebak Tedi ngasal.


"Mana ada begitu," ujar Sultan duduk di kursinya.


Dan akhirnya pelajaran selesai.


"Syukurlah akhirnya selesai juga," ujar para mahasiswa lega.


"Hey Sultan, kami ada tour ke kota J, kamu mau ikut nggak?" Tawar Alex.


"Wah, seru tuh, ikut yuk," ajak Tedi dengan mata berbinar.


"Emang ada tour ngapain?" Tanya Sultan.


"Ya cuma bersenag-senang saja, kalo ada tempat seru ya mampir," ucap Hadi.


"Ayo lah," ucap Tedi memujuk Sultan.


"Hm... baiklah," angguk Sultan.


"Asiiik, pergi sekarangkan?" Tanya Tedi nggak sabaran.


"Ya sekarang, ayok," ajak Alex.


Mereka pun pergi dengan 4 mobil sambil bersuka cita.


Sampainya di tempat yang mereka tuju yaitu kota J yang mereka maksud, kota ini beda dengan kotanya, bentuk dan bangunannya tampak rapi.


"Kita ke mana dulu nih?" Tanya Madi.


"Makan dululah," sahut Sultan.

__ADS_1


"Yup, benar, kita makan dulu," jawab Alex.


Mereka berenam menuju sebuah rumah makan dan mengisi perutnya masing-masing.


"Sultan, lihat tuh pria itu, dia punya tato seperti kalungmu di pundaknya," bisik Tedi.


Sultan pun melihat ke arah pria itu dan itu benar, pria itu beli makanan di bungkus banyak sekali, sepertinya untuk teman-temannya.


"Apa kita ikutin dia?" Bisik Tedi.


"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Sultan memonyongkan mulutnya ke arah Alex.


"Iya juga," angguk Tedi.


"Yang penting tandai di warung ini tempat mereka beli makanan, besok kita ke sini lagi," ucap Sultan. Tedi mengangguk dengan mantap.


"Kalian bisik-bisik apa?" Tanya Alex.


"Nggak, itu pelayannya cantik," jawab Tedi cengengesan.


"Aku bantu minta nomor HP-nya," ucap Alex.


"Eh nggak nggak nggak," jawab Tedi cepat. "Cantik apaan, gigi jongos gitu," ujarnya dalam hati.


Pria itu pergi ke arah barat sambil membawa nasi bungkusnya. Sultan terus melihatnya sampai punggungnya tak terlihat. Ia ingin sekali mengikutinya, tapi bagaimana teman-temannya, takutnya mereka mengikutinya.


"Sekarang ke mana lagi?" Tanya Tedi.


"Yuk ikut aku," ajak Alex.


Mereka pun masuk mobil dan mengikuti arah Alex pergi.


"Hey hey! Apa maksudmu?" Tanya Sultan.


"Hehehe... kalo kamu nggak mau terekpos wajahmu kamu bisa pake topeng kok," ucap Alex cengengesan.


"Sesad," ucap Sultan manyun.


"Ayo lah Sultan," rengek Tedi.


"Iya Sultan," sahut Madi.


"Bener tuh," celetuk Cavin.


Mereka semua merengek-rengek minta Sultan agar ikut. Sultan menarik nafas dan akhirnya ia pun menyetujuinya, wajah mereka seperti minta makan, kasihan sekali.


Mereka masuk ke dalam dan menuju meja penerima tamu. Karyawan tersebut pun memberinya topeng agar tidak di kenali orang.


"Dari mana kau tau tempat ini?" Tanya Sultan kepada Alex.


"Dari internet," jawabnya tanpa bersalah.


"Jadi kau mau aku apa?" Tanya Sultan menanyakan maksud Alex.


"Aku waktu itu pernah dekat sama anak kota J, tapi sayangnya abangnya tidak suka denganku, dan pamannya adalah orang terpandai judi di kota ini dan sempat menantangku, jika aku menang maka ia memperbolehkan ku berteman dengan adiknya," jelas Alex.


"Maksudmu kau minta aku mengalahkan pamannya itu?" Tanya Sultan mengangakat alinya.

__ADS_1


"Hehehe... iya, kalahkan orang songong itu," jawab Alex geram.


"Apa kau tidak memikirkan akibatnya dulu?"


"Emang apa akibatnya?" Alex balik bertanya.


"Haish... sudahlah, jika ada terjadi sesuatu, kita hadapi bersama saja," jawab Sultan pasrah.


"Kau emang teman yang royaliti," puji Alex merangkul pundak Sultan.


"Udah, kau nggak perlu memujiku jika ada maunya," ujar Sultan manyun.


"Hehehehe," Alex cenengesan.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan memilih penantang.


"Ku rasa ini pamannya yng berada di urutan 1," tunjuk Alex.


Sultan memencet angka 1.


Di dalam ruangan teralihkan kefokusan mereka karena ada yang menantang orang nomor 1.


"Hah! Siapa yang berani menantang orang nomor 1 di kota ini?" tanya mereka seketika berhenti bermain.


Semua mata tertuju kepada 6 pria yang berdiri di papan penantang.


"Tidak mungkin anak-anak itu kan?" tanya mereka satu sama lain.


"Hey kalian anak-anak nakal, jangan sembarangan pencet," ujar pengawas casino tersebut.


"Kami bukan asal pencet, kami beneran mau menantang orang yang berada nomor 1 itu," jawab Alex dengan bangganya.


"Kalian anak-anak yang masih ingusan jangan main-main di sini, jika kalian buat keributan lebih baik main di luar sana," ujar Pengawas itu marah.


"Kami tidak maim-main, kami beneran mau menantangnya," sambung Tedi.


"Kalian, lebih baik keluar, di sini bukan tempat kalian seenaknya berbuat sesukanya!" bentak pengawas itu.


Akhirnya Sultan maju. "Pertemukan aku dengan pemilik casino ini, aku yang akan bicara langsung dengannya," ucap Sultan.


"Baiklah, tapi kalian tetap di sini," ucap pengawas itu pergi menemui pemilik casino.


"Wah... sepertinya emang harus orang ahlinya yang harus bicara," ucap Alex menepuk pundak Sultan dengan bangga.


"Iya bener, sekali Sultan yang ngomong dia langsung pergi," angguk Madi.


Tak lama kemudian Pengawas itu datang.


"Kamu di suruh ke sana, yang lain tunggu saja di sini," ucap pengawas itu dengan wajah seram.


"Yee... nggak serulah jika cuma Sultan yang di panggil," keluh Alex.


"Kalian di sini aja, jangan buat masalah, kau mau aku menuruti keinginanmu nggak?" ancam Sultan.


"Siap! Laksanakan," jawab Alex tegas.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAH


TERIMA KASIH


__ADS_2