
Dan benar saja, ketika Alex dan Rendi masuk tiba-tiba lampu hidup mati.
"Alex gimana ini, aku takut," ujar Rendi memeluk Alex dengan erat.
"Ssssttt, sebentar lagi Sultan pasti datang, baru kita keluar," ujar Alex yang juga ikut merinding.
"Hihihihi...hihihihi." terdengar suara kuntilanak.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." jerit Alex dan Rendi hingga mereka ngompol dengan wajah pucat pasi dan saling berpelukan.
"Hihihihi... lebih baik kalian pulang, atau aku memakan kalian hidup-hidup." terdengar suara yang menyeramkan.
"Sultaaaaaaaaaaaaaaaaan, kalo kamu nggak datang sekarang juga, aku mati duluan sebelum di makan sama kuntilanak iniiiii," teriak Alex memberanikan diri untuk berbicara lantang.
"Sultan?" tanya si hantu.
Diam-diam dari belang Sultan mengendap-endap dan... hap langsung di tangkap.
"Hehehe... kena kau," ujar Sultan memeluk hantu tersebut. Hantu tersebut berputar-putar dengan sigap Sultan mengendongnya lalu memeluk erat lalu membuka topeng tersebut dan itu benar, ternyata penjaga kampus yang sedang menyamar.
"Sudah ku duga, ngapai Bapak jadi hantu? Udah bosan ya jadi manusia ya pak?" ledek Sultan.
"Enak saja cocotmu ngomong, Bapak itu sedang menangkap basah para mahasiswa pacaran, dan ini juga kenapa berpakaian seperti perempuan?" tanya pak penjaga kepada Rendi.
"Iya, kalo ada yang pacarankan Bapak datang, kalo nggak gitu gimana kami mau menangkap hantunya," ujar Sultan.
"Kamu emang hebat dan pemberani ya," puji pak penjaga.
"Iya donk siapa dulu, anak kampus BLW gitu lhoo," sahut Rendi.
"Siapa yang bilang kamu pemberani, lihatlah kamu aja ngompol di celana dan bau pesing," ujar pak penjaga menutup hidungnya.
"Hehehe... kami juga berjasa Pak," ujar Rendi menutup celana depannya dengan kedua tangannya.
"Ya sudah sana kalian pulang dan jangan bilang siapa-siapa saya hantunya," usir pak penjaga.
"Tapi Pak, apa boleh saya tinggal sebentar di sini?" tanya Sultan.
"Untuk apa?" pak penjaga balik bertanya.
"Ada yang mau saya kerjakan," ucap Sultan.
__ADS_1
"Tapi jangan ada yang hilang barang di sini," pesan pak penjaga.
"Aman Pak, tenang saja," ujar Sultan menyakinkan. Pak penjagapun pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Kamu nunggu apaan lagi Sultan?" tanya Rendi penasaran.
"Ada deh, kalian juga ikut nunggu apa mau pulang aja?" tanya Sultan celingak celinguk. Alex dan Rendi saling berpandangan.
"Gimana ikut nggak?" tanya Alex kepada Rendi.
"Kamu ikut nggak?" Rendi balik bertanya.
"Kamu dulu ikut apa nggak?" Alex bertanya lagi. Tiba-tiba Sultan menarik kedua sahabatnya itu bersembunyi.
"Ssssstttt," Sultan meletakkan jari telunjuk di bibirnya sambil menunjuk ke arah seorang gadis membawa kardus. Wanita itu celingak-celinguk memastikan jika tidak ada orang lain di sana. Wanita itu meletakkan kardus di sana dan berlari pergi, Sultan keluar dari persembunyiannya dan menghadang si gadis tersebut. Wanita itu pun sangat kaget.
"Kamu... kamu ngapain di sini?" tanya wanita itu.
"Seharusnya aku yang tanya, kamu ngapain di sini dan membawa kardus tersebut?" tanya Sultan mengintrogasi dan menunjuk ke arah kardus. Alex dan Rendi pun ikut keluar. Sultan menarik tangan wanita itu menuju ke arah kardus tersebut.
'"Bukannya tadi kamu bawa sesuatu? Coba buka," perintah Sultan.
"Ayo buka, jika itu sampah kamu boleh pergi," ujar Sultan.
"Tidak mau," tolaknya berusaha melepaskan tangannya dari gengaman tangan Sultan, tapi Sultan mengengamnya erat.
"Alex, Rendi buka kardusnya," psrintah Sultan. Mereka berdua pun membukanya dan ternyata isinya adalah bayi.
"Astaga!!" ucap Alex dan Rendi terkejut.
"Ya ampun!... kamu bawa bayi ke sini untuk apa?" tanya Rendi kepada wanita itu. wanita itu mulai dengan mata berkaca-kaca.
"Ini bayi kamukan?" tanya Sultan memastikan. wanita itu berjongkok sambil menundukkan kepalanya dan menangis.
"Aku tidak mau bayi itu, aku benci," teriaknya menagis.
"Dia tidak bersalah, kau yang salah sudah melahirkannya ke dunia atas perbuatanmu, kenapa kau malah membuangnya, kenapa kau tidak membuang dirimu sendiri karena sudah berbuat yang salah," ujar Sultan tajam.
"Jika saja pacarku mau bertanggung jawab, aku mau membesarkannya, tapi bajingan itu malah tidak mau bertanggung jawab," teriaknya murka.
"Itu kesalahanmu, kenapa kau percaya dengan pria hidung belang, jika dia memang mencintaimu dia tidak akan menyentuhmu," ujar Sultan mencibir.
__ADS_1
"Karena aku sangat mencintainya," ujarnya menagis tersedu-sedu.
"Ya dan inilah hasil buah cinta kalian, rawatlah dia, banyak di dunia ini sebuah keluarga ingin punya anak tapi tidak di karuniai, kau bersyukur kau bisa mempunyai anak, nasib seseorang siapa yang tau, anak ini kau buang dan kau menikah lagi tapi kau tidak punya anak lagi bagaimana? Siapa yang merawatmu tua nanti dan lihatlah wajah bayi yang tak berdosa itu, jika dia bisa ngomong mungkin dia sudah memakimu dan memarahimu karena dia adalah korban perbuatanmu. Rawatlah dia, aku tau hati kecilmu menyanyangi dia, harimau saja menyayangi anaknya, apa lagi kita yang manusia punya hati nurani," nasehat Sultan. Wanita itu menangis sembari menutup wajahnya menangis terisak-isak. Bayi tersebutpun ikut menangis.
"Lihatlah, dia tau kesedihanmu, dia juga ikut menangis, itulah bayi yang sudah satu batin dengan ibunya, apa kau tak kasihan?" tanya Sultan.
Wanita itu menangis sambil menatap bayi tersebut yang sedang menagis, karena iba ia mengambil bayi tersebut dan memeluknya. Ia pun menagis lagi.
"Maafkan mama Nak, tidak seharusnya mama buat kamu begini, ini kesalahan mama, malah kamu yang kena imbasnya, maafkan mama," ujarnya menangis terisak-isak.
"Terima kasih sudah memberiku nasehat, sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan," ucapnya menundukkan kepala dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
Ting ting
Misi selesai.
Anda mendapatkan 40 poin.
Poin Anda menjadi 300 poin.
"Semoga saja dia tidak berubah pikiran," ujar Sultan menatap kepergian wanita itu.
"Wah kamu emang hebat ya, kenapa kamu nggak jadi panasehat kepala negara saja," ujar Rendi.
"Aku nggak mau jadi penasehat kepala negara, aku maunya menjadi kepala negara," ucap Sultan.
"Ya dan aku penasehatnya," celetuk Alex sambil merangkul pundak Sultan.
"Udah ayo pulang, ini sudah jam 10 lewat," ajak Sultan.
"Ayo ayo ayo," ujar Rendi. Mereka pun naik mobil dan Sultan melajukan mobilnya. Setelah mengantar kedua temannya pulang kerumah, Sultan juga pulang ke rumahnya.
"Ibu aku pulang," panggil Sultan. Namun tidak ada sahutan.
"Apa ibu sudah tidur?" tanya Sultan kepada dirinya ia membuka kunci rumahnya dengan kunci cadangan dan kemudian masuk. Ia mengintip di balik kamar ibunya ternyata ibu sudah tidur. Sultan pun menuju kamarnya dan ia juga tertidur.
BSRSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH
TERIMA KASIH
__ADS_1