
xxx
kelas pun selesai.
Setelah pulang kuliah, Sultan langsung menuju rumah Michela tanpa harus menunggu Michela untuk membawanya pulang bersama.
Sesampainya di sana Sultan pun mengetuk pintu rumah Michela.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi," ucap Sultan dari balik pintu.
"Ya sebentar," jawab suara perempuan dari dalam rumah lalu membukanya.
"Ada apa?" tanya perempuan itu, sepertinya ia pembantu di rumah itu.
"Tuan Ada di rumah?" tanya Sultan.
"Sebentar ya," ucap pembantu itu berlari menuju ruang kerja.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
"Masuk," jawab seorang pria yaitu pemilik rumah.
"Tuan, ada seseorang mencari Tuan," ucap pembantu itu.
"Oh baiklah," ucap Papa Michela membuka kaca matanya lalu keluar dari ruangannya.
"Oh kamu, ayo duduk," ucap papa Michela tersenyum.
"Terima kasih Om," jawab Sultan duduk di sofa.
"Oh ya, kita sudah lama tidak ketemu ya, bagaimana kabarmu?" tanya Papa Michela basa basi.
"Hm... iya, begini, Michela dia sangat menyukaimu, dia sangat berharap bisa bersamamu, jadi Michela minta Om untuk bertanya denganmu, kira-kira mau nggak kamu menjadi kekasihnya?" tanya Papa Michela ke inti permasalahannya.
"Hm... aku belum tahu Om, aku saat ini masih ingin sendiri dulu, apa lagi Ayahku baru saja pulang, jadi aku belum nentuin siapa yang akan aku pilih," jawab Sultan seadaanya.
"Oh begitu, tentu saja kau harus memilih, kau pria idaman yang sangat sempurna, pasti banyak yang mendekatimu dan kau dalam pilihan yang sulit dan Om mengerti, tapi jika sudah mantapkan hatimu maka bicaralah pada Om, Om sangat berharap jika kau menjadi menantu Om," ucap pria di hadapan Sultan.
"Iya Om, dan juga aku datang kesini bukan hanya karena memenuhi panggilan Om saja, tapi masalah kalung yang Om simpan itu," jawab Sultan.
"Maksudmu kalung yang dulu Om kasih padamu dan kau menolaknya itukan?" tebak Papa Michela.
__ADS_1
"Benar, organisasi hitam itu sudah hancurkan sekarang," jelas Sultan.
"Apa! Kamu serius! Jadi organisasi itu sudah hancur sekarang?" tanya papa Michela kaget.
"Ya, sudah hancur sekarang bahkan markas besarnya di negara B juga hancur, lebih tepatnya aku yang menghacurkannya," ujar Sultan.
"Apa! Kau yang menghancurkannya?" tanya papa Michela tambah kaget.
"Ya aku menghancurkan organisasi busuk itu," jawab Sultan.
Papa Michela tak bisa berkata-kata lagi, ia juga bingung apa yang harus ia ucapkan lagi, ini sangat mendadak baginya. Ia menarik nafas panjang lalu menghempasnya dalam dalam.
"Jadi, kenapa kamu menghancurkannya?" tanya papa Michela pelan.
"Tentu saja aku harus menghancurkannya karena organisasi itu sudah banyak melakukan kejahatan, mengesprimenkan manusia menjadi mutan, memaksa ahli ilmuan bekerja untuk mereka, membunuh orang dengan sadis dan lebih parahnya ayahku di sekap dan ia malah di mati surikan oleh mereka hingga aku dari kecil tidak merasakan kasih sayang Ayahku, aku tidak bisa membiarakn begitu saja, membuat keluargaku hidup dalam penderitaan, terutama Ibuku, apakah organisasi itu layak di pertahankan?" tanya Sultan serius.
"Baiklah, mungkin mereka yang salah, tapi bagaimana keadaan salah satu saudaraku yang ikut dalam organisasi itu, apa dia juga ikut terbunuh?" tanyanya sedih.
"Aku tidak tahu siapa saudara Om, mereka terlalu ramai untuk di ingat," jawab Sultan.
Papa Michela mengangguk pelan, sepertinya dia sangat sedih.
"Seharusnya Om juga tahu, menjadi bagian dari mereka berarti juga siap mati," ucap Sultan.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih