
"Itu aku yang memberi tahunya," ujar manejer itu tiba-tiba.
"Apa maksudmu memberi tahu mereka?" tanya direktur itu menekuk alisnya.
"Aku memberi tahu mereka jika kau membawa uangnya," jawab manejer itu.
"Kenapa... kenapa kamu melakukan itu? Kau selama ini bekerja denganku, kenapa kau mengkhianatiku?" tanya pak kamil tak percaya.
"Aku memang bekerja untukmu, tapi semua itu semua untuk balas dendam!" teriaknya marah.
"Dendam? Dendam apa? Apa aku pernah menyakitimu?" tanya pak Kamil merasa heran karena selama ini ia baiknya.
"Memang kamu tidak pernah menyakitimu tapi Abangmu membuat kakakku hidup menderita!" teriaknya lagi.
"Abangku? Tapi dia sudah meninggal, aku tidak tau apa permasalahannya," ujar Pak Kamil tak mengerti.
"Justru karena dia sudah mati, makanya aku balas dendam denganmu agar ia tak tenang di dalam kubur," ujarnya berapi-api.
"Kamu jangan seperti ini, yang melakukan adalah Abangku bukan aku," ujar pak Kamil tak terima.
"Ayah," panggil anak pak Kamil yang tiba-tiba keluar mendengar suara Ayahnya.
"Sayang ada apa?" tanya sang istri heran karena mendengar suara ribut di depan rumahnya.
Mereka semua melihat ke arah istri pak kamil.
"Eh Pak manejer ayo masuk," ajak istri pak kamil tersenyum ramah.
"Itu adalah anak istri, tangkap mereka, biar dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan keluarga!" teriaknya geram.
Mereka pun menarik tangan anak dan istri pak kamil.
"Pak manejer ini maksudnya apa?" tanya istri pak kamil tak mengerti.
"Diam! Kamu tidak tau apa pun masalah ini!" bentaknya.
"Justru dia tidak tau apa-apa, jangan kau sakiti mereka," jawab Sultan tiba-tiba, ia baru saja sampai.
"Benar, jika kalian menginginkan uangnya, ini aku serahkan, tapi jangan sakiti mereka," ucap pak Kamil sedih, ia segera meletakkan uang tersebut di hadapannya.
Kawanan perampok itu mendekati Uang tersebut dan ingin mengambilnya, tapi Sultan menarik koper berisi uang tersebut.
__ADS_1
"Berikan uangnya, atau mereka tidak akan selamat!" ancam kawanan perampok itu tersebut.
"Apa yang kamu lakukan! Berikan uangnya kepada mereka atau anak dan istriku terluka!" teriaknya dengan mata berkaca.
"Kamu lebih baik cepat masuk mobil atau anak dan istrimu tidak selamat, kau ingin aku menolong merekakan? Maka cepat kamu ke mobil!" teriak Sultan.
"Tapi...."
"CEPAT!" sergah Sultan.
Pak Kamil pun berlari ke arah mobilnya dan segera naik.
Sekarang tinggal Sultan yang akan berintrogasi kepada perampok itu.
"Cepat berikan uangnya!" bentak manejer itu.
"Heh! Setelah aku lihat barulah aku menyadari jika apa yang di katakan Pak Kamil, apa yang dia lakukan selama ini hingga ia tak bisa keluar negeri itu adalah kamu biang keroknya pak manejer? Kamu yang memberi tahu semua gerak gerik Pak Kamil?" tanya Sultan tersenyum sinis.
"Kamu tidak tau apa-apa lebih baik jangan ikut campur, cepat serahkan uangnya!" bentaknya marah.
"Jika aku tidak mau, bagaimana?" ujar Sultan tersenyum mengejek.
"Bunuh mereka berdua!" perintah manejer itu.
Sebelum mereka benar-benar membunuh istri dan anak pak Kamil, Sultan melakukan serangan jarak jauh, mereka yang memegang tangan istri dan anak Pak Kamil terpental jauh.
Sultan segera menarik istri dan anak pak Kamil dan memeluk mereka melindungi dengan tubuhnya dan membawanya pergi.
Dor!
Dor!
Dor!
Kawanan perampok itu menembak ke arah Sultan, berhubungan tubuh Sultan tidak tembus peluru, akhirnya ia segera membawa mereka ke dalam mobil pak Kamil.
"Ayo kalian cepat pergi, tidak ada waktu lagi!" perintah Sultan.
"Kamu bagaimana?" tanya Pak Kamil khawatir.
"Aku tidak akan terluka, sebaiknya kalian pergi sekarang!" perintah Sultan lagi.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Pak Kamil dan langsung menancap gas mobilnya dan melaju kencang.
Melihat pak Kamil pergi, manejer itu segera menelpon bos besarnya agar ada orang yang menghabisi pak Kamil di jalan.
Sultan lalu menendang tangan manejer itu hingga ponselnya jatuh, ketika ia ingin nmengambilnya, Sultan langsung menginjak ponsel itu hingga hancur berkeping.
"Kurang ajar! beraninya kamu memecahkan ponselku!" terianya marah. "Hajar dia!" perintahnya geram.
Para kawanan perampok itu menyerang ke arah Sultan dan Sultan pun membalas balik.
Mereka menendang ke arah Sultan dan Sultan menghindarinya, Sultan juga menendang ke arahnya tapi dia juga bisa menghindarinya.
Dia menangkap tangan Sultan dan memukul perut Sultan, Sultan tak mau kalah ia memukul wajah kawanan penjahat itu dengan keras hingga ia pingsan seketika.
Temannya yang lain tak mau kalah, mereka menyerang Sultan dengan sebuah kayu dan memukul ke arah Sultan, Sultan menangkapnya lalu mematahkannya dan membuangnya.
Sultan menghantam perutnya lalu menarik kepalanya dan dan memutar dan melemparnya ke atas pagar tembok tetangga sebelah.
Dor!
Dor!
Dor!
Pak maner itu menembak Sultan beberapa kali dan ia sangat terkejut melihat Sultan baik-baik saja.
Ia memeriksa senjata apinya, mungkin senjata apinya tidak ada pelurunya, tapi ternyata masih ada, ia menembak Sultan lagi.
Dor!
Dor!
Dor!
Tapi tetap saja Sultan tidak apa-apa.
Sultan mendekati manejer itu dan mengambil senjata apinya dan mematahkannya dan melemparnya ke arah muka manejer itu.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VITE DAN HADIAH
__ADS_1
TERIMA KASIH