
"Bisa habis aku jika mereka benar-benar menghajarku," ujar Tedi menutup pintu mobil dan menguncinya.
"Ayo Sultan hajar mereka!" teriak Tedi dari dalam mobil.
Sultan menghantamnya dan menginjak perut kawan perampok tersebut, ia juga menarik tangan temannya yang lain dan membuang ke tepi jalan.
Meninju mereka satu persatu dan membenamkan wajah pria itu ke aspal. Datang pria yang lain mengibaskan pentungan kayunya, Sultan menangkap kayu tersebut lalu menariknya dan menyeret pria itu dan menginjak kepalanya.
Mereka bersama-sama menagkap Sultan, dengan entengnya Sultan memutar mereka kebelakang hingga mereka terpental jauh.
Ada juga yang langsung menyerang Sultan, Sultan menarik kakinya hingga terjatuh dan mengangkat tubuhnya dan melemparnya ke atas pohon hingga ia tersangkut.
Teman pria yang lain datang membawa besi padat dan ingin menghantam kepala Sultan, Sultan menghindarnya dan Sultan melakukan tendangan samping tepat tulang rusuknya dan patah tulang tersebut.
Kawanan prampok yang lain tak mau kalah, ia memukul ke arah Sultan, Sultan menerima pukulan tersebut, menendang perutnya mengangkat tubuhnya lalu menghempas ke aspal lalu mematahkan kakinya.
"Kalau hanya segini kemampuan kalian lrbih baik pulang dan jadi anak yang baik," celoteh Sultan.
Ia juga menangkap tangan pria yang lain membalikkannya lalu mematahkannya.
Suara tulang patahpun terdengar, ada yang patah kaki, patah tangan, patah pinggang, patah tulang rusuk, patah tulang kering, tulang basah dan lain-lain.
Mereka meringgis kesakitan sebagian ada yang pingsan.
"Cepat kalian sana pulang!" teriak Sultan, namun mereka tidak ada yang mengubris teriakan Sultan. Mereka hanya bisa mengerang kesakitan dan golek kiri golek kanan.
"Ya udah ayo pulang," ajak Sultan masuk mobil dan menabrak mobil yang menghalangi jalannya.
Duaakk...
Duaakk...
Bruuuuuuummmmmmmm....
Sultan melajukan mobilnya di jalanan.
"Halo Kakak pertama, kami di jalan kota W yang berarah kota T semua sudah terkapar habis oleh raja judi kota T, bisakah kakak pertama menolong kami, kami tak sanggup bangun lagi dan sebagian ada yang pinsan," seseorang meminta bantuan.
"Adik ketiga apa yang terjadi dengan kalian?" tanya seseorang dari telpon yang di sebut kakak pertama.
"Panjang ceritanya, lebih baik ke sini dulu, kami butuh pertolongan," ucapnya berharap.
"Baiklah jika begitu," ucap kakak ketiga membawa pasukannya untuk menolong adik ketiganya.
xxx
__ADS_1
Ting ting.
Misi level D.
Menolong seseorang yang sedang di keroyok lantaran sakit hati.
[Hadiah 40 poin]
SULTAN
(Alamat?)
SISTEM
(Jalan rambutan)
Sultan langsung menuju arah tersebut.
"Lho ini bukan jalan ke kampus Sultan?" ujar Tedi heran.
"Emang ngapai ke kampus?" tanya Sultan yang masih tetap melajukan mobilnya.
"Mobilku di sana," jawabnya.
"Haisshh... nanti aja ambilnya, ikut aku aja dulu," ucap Sultan.
"Apa aku terlambat?" tanya Sultan dalam hati sambil membuka pintu mobilnya dan petlahan-lahan turun.
"Ayo turun," ajak Sultan.
"kita kemana?" tanya Tedi heran tapi ia tetap mengikuti Sultan.
"Ikut aja," ucap Sultan menyusuri di tempat sempit itu, tak lama terdengar suara seorang pria menjerit kesakitan.
"Kenapa harus kamu yang di pilih! Jika kamu tidak ada, aku dan dia sudah bersama!" teriaknya marah.
Ternyata pengeroyokan karena teman perempuannya lebih memilih teman prianya dari pada dia, sedangkan dia amat menyukai teman peremouan tersebut.
Ini sama dengan 2 orang yang bersama tapi 1 nya tersisihkan.
"Tapi bagaimana pun, yang dia suka adalah aku," balas pria yang terluka itu.
Pria berbaju oren itu menarik rambut pria yang terluka tersebut dan mendekati wajahnya.
"Benar, itu jika kamu hidup, tapi jika kamu mati, maka dia akan menjadi milikku," ucapnya menekan.
__ADS_1
"Hary, jika Melly tahu kau melakukan kejahatan seperti ini, dia pasti amat membencimu!" teriak pria terluka itu.
"Sayangnya dia tidak tahu karena kau akan mati sekarang," ucap pria itu memegang sebilah pisau.
"Hary apa yang kau lakukan! Hey... Hary, sadarlah!" teriak pria terluka itu ketakutan.
"Sadar? Sejak aku tau dia menyukai kamu, saat itu aku menjadi putus asa, aku hilang akal dan rasanya sakit sekali, ingin rasanya aku bunuh diri dari pada melihat orang yang ku cinta malah mencintai orang lain dan itu sahabatku sendiri, aku sering melihat kalian berdua bermesraan dan itu di depanku, itu sangat sakit sekali. Kalian seolah-olah milik kalian berdua tanpa memikirkan jika aku juga ada di sana, kalian benar-benar tak punya perasaan!"Teriaknya marah.
"Jika begitu maaf," ucap pria terluka itu menundukkan kepalanya.
"Apa kamu bilang? Maaf? Emangnya maaf bisa mengobati sakit perasaanku, aku benar-benar ingin membunuhmu!" teriaknya yang ingin menancapkan pisau ke perut temannya itu.
Sultan menendang pisau tersebut hingga tertancap di sebatang kayu di dekat situ.
Mereka tampak terkejut ke datangan Sultan yang tiba-tiba.
"Haisshh... aku sungguh sampai mengantuk melihat drama cinta kalian yang menyedihkan itu, jika ingin membunuhnya lalukan cepat, atau aku akan menghajar kalian semua," ucap Sultan berdiri di hadapan pria berbaju oren tersebut dan menghalangi pria terluka agar ia tidak tersakiti lagi oleh temannta itu.
Tedi muncul dan segera mendekati pria terluka itu dan membantunya melepaskan ikatan di tangan dan di kakinya.
"Kamu siapa!" teriaknya menunjuk ke arah Sultan.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang numpang lewat saja," jawab Dultan melipat tangannya.
"Numpang lewat apanya? Jelas-jelas dia buru-buru kesini," omel Tedi membantu pria terluka itu berdiri yang tubuhnya penuh luka sayatan.
"Kamu orang luar jangan ikut campur!" teriaknya.
"Haish... aku sering di katakan orang luar, kapan aku jado orang dalam," ujar Sultan manyun.
"Ayo hajar dia!" teriak Hary, mereka bersamaan memukul Sultan, namun Sultan menghindar dan menendangnya hingga terpental.
Sultan menarik 2 orang lainnya dan membanting ke tembok tua dan Sultan menarik kepala pria yang lain dan menghempasnya ke tanah dan pria yang lain lagi, Sultan menarik jerah bajunya dan melemparnya hingga nyangkut di tembok tersebut.
Ketika Hary mau meninju Sultan, Sultan menagkap tangannya dan memutarnya kebelakang dan ingin mengangkat tangan ingin meninju wajah Hary.
"Berhenti!" teriak pria terluka itu. Seketika tanga Sultan terhenti yang tinggal 1 cm dari wajah Hary.
Sultan melihat ke arah pria terluka itu heran. "Kenapa?" tanya Sultan yang masih belum memindahkan tangannya.
"Lepaskan saja dia, mau bagaimana pun dia adalah tetap temanku, tapi aku ingin berbicara dengannya," ucap pria itu berjalan tertatih-tatih mendekati pria yang di anggap temannya itu.
"Dia sudah melukaimu sedemi kian rupa, apa dia pantas di anggap teman?" tanya Tedi kesal.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH
TERIMA KASIH