System Kekuatan Dan Kekayaan

System Kekuatan Dan Kekayaan
BAB 66


__ADS_3

"Saya harap kita semua bisa bekerja sama untuk membangun bersama perusahaan ini," ucap Sultan layaknya seorang yang bijak. Mereka pun bertepuk tangan bahagia karena uang yang mereka investasikan tidak jadi lenyap begitu saja.


Tak lama kemudian para wartawan berdatangan ingin mewawancarai karena ada seseorang yang menyebar kepada para reporter bahwa perusahaan ini akan bangkrut.


"Ada apa ribut-ribut di luar," tanya mereka.


"Itu pak ada wartawan yang ingin mewawancarai direktur utamanya untuk menanyakan beberapa hal katanya," ujar salah satu satpam.


"Aduh... baru saja hari pertama dan baru beberapa jam jadi direktur malah udah di wawancarai, aku kan belum siap," ujar Sultan.


Namun ia tetap keluar menghadapi para wartawan tersebut.


"Pak saya mohon, kami ingin bertemu dengan direktur utama dan ini demi kepentingan bersama," mohon salah satu reporter itu kepada satpam yang lain.


"Saya direktur utamanya," ucap Sultan berdiri membusungkan dada. Tapi para reporter tersebut malah melewatinya dan langsung menuju ke arah pak Hadi.


"Pak saya mendengarkan desas desus jika perusahaan Bapak akan bangkrut, apa itu benar terjadi?" tanya reporter itu yang langsung ke poin utamanya.


"Sebelumnya saya minta maaf, kami baru saja mengangkat direktur utama yang sudah berjasa di perusahaan kami karena uang investasinya, akhirnya perusahaan kami tidak jadi bangkrut, rencana peresmiannya direktur utama tersebut akan di selenggarakan minggu depan," jawab Pak Hadi.


"Siapa direktur utamanya pak?"


"Itu orangnya," tunjuk pak Hadi ke arah Sultan.


Mereka pun melihatnya, ternyata adalah orang yang mereka lewati tadi, karena mereka berpikir jika Sultan hanya main-main.


Mereka pun berpindah mengerumuni Sultan.


"Bagaimana Anda menyelamatkan perusahaan ini Pak Direktur?" tanya reporternya.


"Tentu saja saya menginvestasikan sejumlah uang, karena setiap perusahaan pasti membutuhkan uang untuk mengoperasikan perusahaannya," jawab Sultan dengan lihai.


"Maafkan kami tadi pak, karena wajah Anda tidak menyakinkan jika Anda seorang direktur karena Anda sangat muda, kira-kira berapa umur Anda?"


"Saya tahun ini berumur 21 tahun," jawab Sultan tersenyum.


"Wah Anda sangat muda sekali, Anda termasuk salah satu Direktur termuda di kota ini, orang seperti Anda sangatlah menjanjikan," puji reporter itu membuat Sultan terbang.


Sultan mengangguk-agguk tersenyum.


"Berapa uang yang Anda investasikan?" tanya reporter itu lagi.


"27 miliyar,"


"Wah... itu uang yang sangat banyak sekali, di mana Anda mendapatkan uang tersebut?" tanya reporter mulai ngelantur.


"Itu... Oh ya, saya harus segera pulang karena Ibu saya menyuruh saya cepat pulang, dan ingin memberikan kabar gembira ini," ucap Sultan berlari keluar dari kerumunan para wartawan tersebut, berlari ke arah mobilnya dan segera masuk dengan cepat.


Para wartawan mengendor-gedor pintu mobil Sultan, bahkan ada yang nekat berdiri di depan mobil Sultan.

__ADS_1


Untungnya di belakang tidak ada orang, Sultan memundurkan mobilnya dan memutar balik lalu melajukan mobilnya sehingga para wartawan itu hanya bisa berdiri pasrah.


"Tidak menyangka, aku jadi direktur utama secepat ini sedangkan aku masih mahasiswa semester 3, keberuntungan yang tidak di sangka-sangka," ujar Sultan menyunggingkan senyumnya.


Tiiit...


Tiiit...


Tiiit...


"Halo," jawab Sultan.


"Kamu di mana?" tanya Tedi.


"Mau pulang kerumah, kenapa?" Sultan balik bertanya.


"Aku minta bantuan donk, mobilku tiba-tiba mogok, nggak tau kenapa, dan bengkel masih jauh," pintanya.


"Kamu 'kan bisa telpon mobil derek," ujar Sultan.


"Mana aku punya nomor ponsel mobil derek," jawabnya manyun.


"Hehehe... sama aku juga," jawab Sultan cengengesan.


"Ya udah kamu datang ke jalan Nagoya, aku baru pulang habis beli makanan untuk bibiku yang sedang ngidam," pinta.


"Baiklah, aku ke sana sekarang," jawab Sultan menutup panggilannya.


Setelah sampai di sana, Sultan segera keluar dari mobilnya dan mendapati temannya sedang duduk di pinggir jalan sambil makan tahu gejrot.


"Enak bener hidupmu," ujar Sultan mengambil makanan di tangan Tedi dan langsung menyomotnya.


"Braking News," Terdengar suara tv salah satu rumah yang di tempat Sultan dan Tedi berhenti.


"Sultan adalah salah satu direktur termuda di kota T di sebuah perusahaan, ia adalah anak muda yang sudah membantu sebuah perusahaan yang sudah hampir bangkrut, ia menyumbang 27 Miliyar ke sebuah perusahaan dan langsung di angkat menjadi direktur utama,"


"Lho itu kamu?" tanya Tedi melihat ke arah Sultan.


"Ya begitu deh," jawab Sultan mengangkat bahunya.


"Kamu kaya kok nggak ngajak-ngajak," ujar Tedi merangkul pundak Sultan.


"Itu karena mendadak aja, mana aku tahu jika hari ini aku bakalan jadi direktur," jawab Sultan mengangkat alisnya.


"Ngomong-ngomong direktur tolong derek mobil anak buahmu ini," ujar Tedi cengengesan. Sultan langsung menjitak kepala sahabatnya itu dan Tedi memegang kepalanya sambil tertawa.


"Sana kamu beli talinya," perintah Sultan.


"Tali apa?" tanya Tedi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terserah tali apa aja, asal jangan tali persahabatan, karena tali persahabatan tidak bisa di beli," ujarnya bercanda.


Ea... ea... ea...


Tedi pun nyelonong pergi ke warung jarak 3 rumah dari tempat pemberhentiannya tadi.


SISTEM


(Tuan ada wanita cantik di seberang jalan)


Sultan langsung melirik kesebelah jalan dan benar saja seorang gadis membawa keranjang buah yang di bungkus, sepertinya ia akan membawa hadiah tersebut untuk seseorang.


Sultan melirik kiri dan kanan untuk menyeberang, setelah agak sepi ia pun berlari menuju ke arah gadis tersebut.


"Aduh gimana ya biar terkesan nggak sengaja?" tanya Sultan dalam hati mencari ide.


Sultan berpura-pura main ponsel biar nanti nggak sengaja menyenggol si gadis tersebut. Ia terus melihat ponselnya.


Brakkk...


"Aduuh!" teriak Sultan. Sayangnya ia malah menabrak tiang listrik di depannya dan kepala kejedut dan malah terduduk di tanah.


Gadis itu pun melihat ke arah suara tersebut. Karena malu Sultan menutup wajahnya dengan jaketnya. Gagal deh mau perkenalan yang nggak di sengajakannya.


"Ini ponselmu," ujar suara gadis. Sultan melihatnya ternyata itu ada suara pemilik gadis yang dia incar tadi.


"Eh... terima kasih," jawab Sultan menerima ponselnya. Gadis itu tersenyum dan berdiri lalu pergi.


"Tunggu!" teriak Sultan. Gadis itu pun berhenti lalu membalikan badannya sambil mengangkat alisnya.


"Siapa namamu?" tanya Sultan yang masih terpaku berdiri tempat ia jatuh tadi.


"Qayla, Qayla Alexander," jawabnya tersenyum manis.


"Nama yang enak di dengar, punya arti yang sederhana namun sangat sempurna," seketika kata-kata mutiaranya keluar.


Gadis itu tersenyum lalu membalik badannya dan melangkahkan kaki pergi.


"Bolehkah aku minta nomor ponselmu?" tanya Sultan seakan-akan tak rela ia pergi.


"Aku tidak punya ponsel," jawabnya dengan suara halus.


"Jadi, bagaimana aku bisa bertemu denganmu lagi?" tanya Sultan tak mau kehilangan akal.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE DAN HADIAH


TERIMA KASIH

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karyaku (pendekar suci dari timur)


__ADS_2