Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan menjemput Lydia


__ADS_3

"Kamu itu kenapa kok kayaknya sedang banyak pikiran gitu?"kata Rima.


"Gak ada kok, aku lagi mikirin kerjaan yang tadi aku tinggal."kata Lydia.


"Kamu itu jangan terlalu memikirkan kerjaan kenapa? Bagaimana kalau kita kapan-kapan libur bareng?"kata Rima.


"Nantikan kita muncak bareng."kata Lydia.


"Iya tapikan beda nanti kamu nginepnya pasti divilla punyamu sedangkan karyawan lagi beda Villa gak seru."kata Rima.


"Memangnya mau liburan kemana?"kata Lydia.


"Kemana saja asal liburan bareng kamu."kata Rima.


Mereka berdua berhenti berbicara saat pelayan datang membawa makanan pesanannya. Mereka berdua memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Saat mereka makan tiba-tiba Clara datang dan langsung duduk dikursi kosong.


"Enek sekali kayaknya makananya sampai-sampai aku datang gak ada yang tau."kata Clara sinis.


"Oh kamu memangnya mau Cla?"kata Rima yang kenal dengan Clara gak sengaja sebab perempuan itu mengejar-ngejar Kevin.


"Ih aku gak suka bekas orang."kata Clara membuat Lydia tersenyum.


"Kalau gak mau ya pesan sendiri kok susah."kata Lydia.


"La ini aku mau pesan."kata Clara.


"Aku bingung sama kamu bukannya kamu kerja diKarya grup kenapa bisa makan siang sampai sini?"kata Lydia.


"Terserah akulah lagian gak ada yang akan marah kalau aku telat ke perusahaan karena kekasihku pemilik perusahaan itu."kata Clara membuat Rima tersedak. Lydia memberikan air minum pada Rima.


"Makasih."kata Rima pada Lydia.


"Oke."kata Lydia.


"Kamu bilang tadi apa pemilik perusahaan Karya grup maksutmu tuan Anton?"kata Rima.


"Iya kalau bukan dia siapa memangnya?"kata Clara.


"Bukannya masih ada adiknya tuan Anton memangnya kamu gak tau? Masak sama calon adik ipar gak tau?"kata Rima.


"Aku tau kok tapi dia gak pernah datang."kata Rima.


"Sayang, aku cariin ternyata makan siang disini."kata Kevin.


"La tadi katanya mas meeting diluar?"kata Rima.


"Iya tapi sudah pulang, Ly apa kabar? Sudah lama kita gak ketemu ya?"kata Kevin.


"Baik kak kakak sendiri mau nikah kok gak bilang-bilang sih?"kata Lydia membuat Clara terkejut karena dia gak nyangka jika Lydia kenal dengan Kevin.


"Kamu sih gak ada kabar."kata Kevin membuat Lydia tersenyum.


"Bagaimana kalian bisa ketemu kalau Lydia baru saja kembali dari Surbaya?"kata Rima.


"Jadi setelah lulus kuliah kamu langsung kerja diSurabaya Ly?"kata Kevin.


"Iya kak baru kemarin saat Widya kembali ke Jakarta aku ikut kembali. Mau kembali ke Surabaya gak boleh lagi sama papa."kata Lydia.


"Ya gak bolehlah, kalau kamu kembali om Irwan gak ada yang gantiin."kata Kevin.


"Ada nu."kata Lydia sambil menunjuk ke Rima.


"Aku mengantikan sementara tapi yang berhak tetap kamu."kata Rima.


"Aku juga maunya nanti setelah menikah Rima gak usah kerja lagi biar aku saja yang kerja."kata Kevin.


"Gak, enak saja bantuin aku dulu nanti kalau aku sudah ada yang bantuin kamu boleh berhenti kerja."kata Lydia membuat Rima tersenyum dan menganggukan kepala sedangkan Kevin gak bisa berkata apa-apa lagi.


"Boleh ya mas, sampai Lydia menemukan pendampingnya saja kok."kata Rima.

__ADS_1


"Ya boleh."kata Kevin terpaksa.


Clara yang merasa diabaikan langsung pergi darisana membuat Rima dan Lydia tersenyum. Sedangkan kevin hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah kedua perempuan itu


"Ya sudah aku duluan ya, aku gak mau menganggu kalian."kata Lydia.


"Kamu gak papa sendirian kembali ke perusahaan?"kata Rima yang gak enak hati.


"Gak papa lagian perusahaan kita hanya tinggal nyebrang saja bukannya jalan kaki jauh."kata Lydia membuat Rima tersenyum.


"Ya sudah hati-hati."kata Rima.


Lydia keluar dari cafe itu untuk kembali keperusahaannya. Sampai diperusahan dia menuju ruang kerjanya lalu duduk dikursinya setelah itu kembali fokus dengan pekerjaannya.


Lydia sejak makan siang tadi fokus dengan pekerjaannya sampai dia gak sadar jika sudah waktunya pulang kerja. Ryan saat melihat sudah waktunya pulang kerja meminta izin dengan keluarganya untuk keluar sebentar.


"Yah, bun aku keluar sebentar ya."kata Ryan.


"Kamu mau kemana memangnya Yan?"kata bunda Arina gak habis pikir dengan putranya itu padahal mbaknya belum sadarkan diri tapi dia malah pergi.


"Aku mau jemput Lydia bun tadi aku mengantarkannya ke perusahaan gak enak tadi sudah janji mau jemput."kata Ryan membuat bunda Arina menghera nafasnya.


"Kapan kamu mau bilang kalau kami ini keluargamu ke Lydia Yan? Bunda ingin dekat menantu bunda."kata bunda Arina.


"Nanti kalau aku sudah nikah sama dia bun."kata Ryan.


"Kamu ini bagaimana bisa nikah sama Lydia kalau dia saja salah paham sama kamu?"kata Anton.


"Maksutnya salah paham gimana Ton?"kata bunda Arina mendengar perkataan Anton.


"Lydia masih menganggap kalau Ryan ada hubungan dengan Shinta ma bukan sebagai adik kakak tapi sepasang kekasih."kata Anton.


"Kamu itu bokya segera bilang agar dia gak salahpaham."kata bunda Arina.


"Memang aku sengaja bun, aku suka liat dia kesal bun."kata Ryan membuat ketiga orang itu tersenyum dan mengelengkan kepalanya saja.


"Ada deh mau tau saja. Aku berangkat jemput Lydia dulu ya."kata Ryan.


"Hati-hati bawa mobilnya jangan ajak menantu bunda mampir kemana-mana."kata bunda Arina.


"Paling aku ajak makan sebentar bun gak papakan?"kata Ryan.


Ryan melanjukan mobilnya menuju perusahaan Lydia. Baru saja Ryan sampai ternyata Lydia sedang berbicara dengan Rayyan. Ryan yang gak suka langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.


"Maaf kalau aku telat."kata Ryan membuat Lydia tersenyum dan menghampirinya.


"Gak papa kok sayang, kita pulang sekarang yuk."kata Lydia sambil menggandeng tangan Ryan.


"Ya sudah ayo."kata Ryan sambil tersenyum.


"Ly, aku sudah katakan sama kamu beberapa kalikan kalau pria ini gak pantas buatmu. Dia sudah punya kekasih."kata Rayyan membuat Ryan menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan langsung memukul wajah Rayyan membuat Lydia terkejut.


"Jaga ucapakan kamu kalau gak tau apa-apa."kata Ryan.


Rayyan bukannya jera dia malah balas memukul Ryan membuat mereka berkelahi untung saja tak lama kemudian Kevin datang. Kevin memanggil satpam dan melerai pertikaian itu.


"Yan sudah, gak malu apa diliat banyak orang?"kata Kevin.


"Dia yang mulai duluan."kata Ryan yang sudah gak bisa menahan emosinya.


Lydia yang bingung bagaimana caranya agar kedua pria itu berhenti berkelahi akhirnya memegang lengan Kevin untuk minggir setelah itu memeluk Ryan dari belakang. Ryan yang merasa ada yang memeluknya langsung terdiam dan memandang siapa yang berani-beraninya memeluk dirinya. Tapi saat melihat Lydia yang memeluknya membuat emosi Ryan pelahan-lahan mereda.


"Jangan terusin lagi aku takut."kata Lydia.


Ryan yang mendengar langsung menarik lengan Lydia agar Lydia pindah kedepannya. Ryan memeluk erat Lydia untuk menghilangkan semua emosinya. Rayyan yang melihat itu ingin memukul Ryan tapi tangannya dicekal oleh Ryan.


"Kamu sadar gak sih kamu sudah buat calon istriku ketakutan?"kata Ryan.


"Kamu yang mulai duluan bukan aku."kata Rayyan.

__ADS_1


"Iya memang aku yang mulai duluan karena kamu berkata sesuatu yang gak benar."kata Ryan.


"Mas, sudah aku takut. Kita pergi dari sini boleh?"kata Lydia sambil memandang ke Ryan.


"Baiklah kita pergi sekarang, Vin tolong urus lelaki ini."kata Ryan.


"Baiklah."kata Kevin sambil menyuruh satpam untuk membawa Rayyan.


Ryan mengajak Lydia kembali ke mobil tanpa melepas pelukannya. Saat sampai mobil barulah Ryan melepas pelukannya dari Lydia menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Setelah Lydia masuk ke dalam mobil, Ryan juga menyusul masuk ke dalam mobil.


"Kita mau pulang atau kemana dulu?"kata Ryan.


"Kamu ada kotak p3k gak?"kata Lydia.


"Gak tau coba kamu cari didalam situ kalau gak ada berarti gak ada."kata Ryan.


Lydia membuka tempat yang dibilang Ryan tapi saat dia obok-obok gak ada membuat Lydia menghera nafasnya.


"Kita ke apotik depan sana dulu ya?"kata Lydia.


"Buat apa ke apotik?"kata Ryan terkejut takut kalau Lydia sakit.


"Buat beli obat buat lukamu itu loh."kata Lydia sambil menunjuk wajah Ryan.


"Aku gak papa kok tenang saja."kata Ryan.


"Kamu mau bertemu dengan mamaku dengan keadaan seperti itu? Kamu mau buat beliau khawatir sama kamu?"kata Lydia.


"Bilang saja kamu takut kalau mamamu tau aku bertengkar dengan Rayyan?"kata Ryan.


"Aku gak takut kalau mamaku tau tapi kamu tau sendiri kalau mamaku itu lebih sayang kamu daripada anaknya sendiri."kata Lydia.


"Baiklah."kata Ryan yang membelokkan mobilnya menuju apotik.


"Kamu tunggu disini dulu aku mau masuk ke dalam."kata Lydia.


"Iya."kata Ryan.


Lydia masuk ke dalam apotik sedangkan Ryan keluar dari mobil untuk masuk ke dalam indomaret membeli rokok dan minum buat mereka berdua. Saat dia masuk ke dalam banyak pasang mata yang memandangnya tapi Ryan tak perduli. Dia membeli apa yang dia inginkan setelah itu pergi dari sana. Lydia yang keluar dari apotik dan tak melihat Ryan didalam menjadi kesal. Saat Ryan masuk ke dalam mobil Lydia memilih untuk mengabaikan Ryan.


"Nih minum dulu."kata Ryan membelikan minuman yang dibeli barusan.


"Kamu darimana sih? Kan aku sudah bilang sama kamu jangan pergi kemana-mana."kata Lydia dengan nada kesalnya.


"Maaf aku haus jadi aku pergi sebentar buat beli minuman."kata Ryan sambil menyimpan rokoknya.


"Ini apa? Kamu ngerokok Yan?"kata Lydia yang gak percaya dengan apa yang dia liat.


"Iya tapi gak sering, aku ngerokok kalau ada masalah saja."kata Ryan jujur.


"Kamu ada masalah apa? Oh ya pasti karena Shinta masuk Rumah Sakit ya?"kata Lydia.


"Itu salah satunya."kata Ryan yang gak sengaja dengan ucapannya membuat Lydia sedih.


"Bagaimana keadaannya?"kata Lydia.


"Tadi belum sadarkan diri, kakinya yang luka parah."kata Ryan.


"Lalu kenapa kamu malah menjemputku? Kenapa gak tunggu dia sadar?"kata Lydia yang gak enak hati dan juga kecewa ternyata Ryan memang benar ada hubungan dengan Shinta kalau gak kenapa dia sesedih itu.


"Aku sudah janji sama kamu, mulai sekarang aku akan antar jemput kamu. Aku gak mau Rayyan menganggumu."kata Ryan.


"Gak usah aku bisa jaga diri kok tenang saja. Sini biar aku obati dulu lukamu."kata Lydia.


"Gak usah diobati kalau kamu gak mau aku antar jemput."kata Ryan yang menyalakan mobilnya membuat Lydia menghera nafasnya karena Ryan benar-benar keras kepala.


"Baiklah kamu bisa antar jemput aku setiap hari. Tapi bagaimana dengan Shinta apa dia gak akan marah?"kata Lydia.


"Dia gak akan marah kok tenang saja, makasih ya kamu mau aku antar jemput."kata Ryan sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2