
Lydia bangun dari ranjang lalu menyiapkan pakaian untuk Ryan sambil tersenyum sudah lama dia gak menyiapkan pakain buat suaminya. Ryan yang melihat Lydia tersenyum sendiri menghampiri lalu memeluk istrinya itu dari belakang membuat Lydia terkejut.
"Kakak ih ngageti saja, basah tau gak bajuku."kata Lydia yang merasa dingin dipunggungnya.
"Biarin, biar cepat mandi. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"kata Ryan.
Lydia berbalik badan sambil tersenyum tapi ada semburat merah dipipinya saat melihat dada bidang suaminya. Ryan yang tau jika Lydia memperhatikan dadanya meletakkan tangan Lydia didadanya supaya tangan istrinya itu menyentuh dadanya. Lydia yang sadar jika tangannya ada didada Ryan membuat pipinya semakin merah seperti tomat membuat Ryan tersenyum.
"Kenapa?"kata Ryan saat tangan Lydia dilepaskan dari dadanya.
"Sudah pakai pakaianmu, aku mau mandi."kata Lydia yang mau pergi darisana.
Ryan bukannya minggir dari hadapan Lydia tapi dia malah menghadang membuat suami istri itu jatuh diranjang dengan Lydia yang berada dibawa tubuh Ryan. Mereka berdua tertegun lalu tanpa mereka sadari siapa yang duluan mencium bibir mereka awalnya hanya ciuman biasa saja tapi lama kelamaan ciuman itu semakin dalam. Suami istri itu mencurahkan rasa rindunya masing-masing dengan melakukan ciuman. Mereka berdua tersadar saat pintu kamar itu diketuk dari luar, Lydia bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Ryan mengambil kemejanya untuk memakai kemeja agar badannya tertutupi karena daritadi dia hanya memakai handuk. Ryan membuka pintu kamarnya ternyata itu adalah tuan Toni membuat Ryan tersenyum.
"Ada apa tuan pagi-pagi begini datang kemari?"kata Ryan.
"Saya hanya mau tanya bagaimana semalam apakah tuan merasa puas dengan perempuan yang saya sewa?"kata tuan Toni.
Toni merasa kalau Ryan puas maka dia bisa mengancam Ryan akan menyebarkan berita kalau Ryan suka bermain perempuan supaya dia tak dipecat dari hotel dan bisa jadi orang kepercayaan Ryan. Ryan yang tau maksut dari Toni tersenyum.
"Kenapa tuan tak tanya saja ada perempuan yang anda sewa itu?"kata Ryan.
"Bukannya dia masih berada didalam? Bolehkah saya masuk ke dalam?"kata Toni.
Saat Toni mau masuk ke dalam Lydia yang sudah mandi dan memakai pakaiannya keluar untuk menanyakan siapa yang datang kenapa suaminya itu malah berdiri didepan pintu bukan mempersilahkan tamunya masuk. Lydia mendekati suaminya supaya bisa melihat siapa tamu Ryan. Toni terkejut saat melihat yang keluar Lydia karena perempuan yang dia suruh datang bukan Lydia.
"Maaf tuan perempuan yang dari semalam menemani anda itu dia?"kata Toni.
"Iya, dia memangnya kenapa ada masalah?"kata Ryan.
"Tapi tuan perempuan yang saya sewa untuk anda itu bukan dia."kata Toni membuat Ryan tersenyum.
"Masak sih tuan, dia selalu menemani saya sejak pertama kali saya berada disini."kata Ryan membuat Toni terkejut.
"Anda gak bohongkan tuan soalnya baru semalam saya menyewa perempuan?"kata Toni.
"Kak, dia siapa kenapa bilang sewa perempuan memangnya dia menganggap aku ini perempuan sewaan?"kata Lydia manja.
"Maaf sayang dia gak tau kalau aku sudah menikah."kata Ryan.
"Makanya kasih tau semua karyawan kamu kalau aku ini istrimu biar gak ada yang sewa perempuan untukmu kayak semalam kalau sampai nanti terjadi seperti semalam aku akan potong milikmu dan juga orang yang sudah membawa perempuan sewaan buatmu."kata Lydia.
Toni yang mendengar perkataan Lydia merasa ngeri, dia gak akan lagi-lagi menyewa perempuan untuk Ryan. Toni pamit untuk pergi ke ruangannya setelah itu Lydia masuk ke dalam tanpa memperdulikan Ryan. Ryan menutup pintu lalu menyusul Lydia ke dalam terlihat kalau istrinya itu sedang membereskan semua pakaian miliknya dan milik Ryan membuat Ryan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kenapa pakaianku kamu bereskan?"kata Ryan.
"Memangnya kamu mau tinggal disini lalu disewakan perempuan bayaran?"kata Lydia kesal membuat Ryan tersenyum.
"Ya gak, tapi kalau aku gak tinggal disini aku tinggal dimana?"kata Ryan.
"Bukannya kamu punya rumah jadi tidur disana saja kenapa sihh?"kata Lydia.
"Terlalu besar rumah itu kalau ditempati sendirian kalau aku kembali seperti dulu suka main perempuan bagaimana?"kata Ryan mengoda Lydia.
"Aku akan bawa Raka pergi."kata Lydia.
"Aku akan mencarimu sampai ketemu walaupun sampai ujung dunia."kata Ryan.
"Tau ah, ini mau pulang ke rumah kamu atau tetap disini?"kata Lydia.
"Iya pulang ke rumah tapi kamu temani sama Raka mau kan?"kata Ryan sambil memeluk Lydia dari belakang sambil mencium bahu istrinya itu.
"Kak, bisa gak sih kalau gak cium bahu?"kata Lydia yang geri karena ulah suaminya apalagi sekarang diwajah Ryan ada kumis tipis.
"Memangnya kenapa? Aku gak boleh lagi cium bahumu ya sudahlah kalau kayak gitu ayo aku antar pulang."kata Ryan.
Ryan melepas pelukannya lalu mengambil mapnya dan memasukkan ke dalam tasnya begitu juga laptop dan tabletnya. Lydia yang tau jika Ryan marah berbalik memeluk Ryan saat Ryan ingin berjalan keluar dari kamar.
"Bukannya dulu aku sering mencium bahumu tapi gak ada masalah buatmu tapi kenapa sekarang kamu kayak gak suka gitu?"kata Ryan.
"Bukannya aku gak suka tapi geli, sekarang wajah kakak ini ada bulunya tipis itu yang buat aku geli."kata Lydia sambil membalikkan badan suaminya.
Lydia tak berani melihat Ryan karena baru kali ini selama mereka menikah Lydia membujuk Ryan supaya Ryan gak marah biasanya Ryanlah yang selalu mengalah. Lydia tau jika perbuatannya itu keterlaluan tapi dia belum siap jika harus kembali menjadi suami istri seutuhnya dengan Ryan hatinya belum yakin. Lydia takut jika dia balik lagi dengan Ryan nanti ada masalah seperti kemarin memang Lydia yang salah karena pergi bukannya malah menyelesaikan masalah tapi malah kabur. Ryan mengangkat dagu istrinya agar Lydia bisa melihat wajahnya.
"Kalau gitu boleh aku cukur bulunya agar aku bisa bebas mencium bahumu? Apalagi kalau aku diizinin cium bibir kayak tadi kayaknya aku akan lebih semangat lagi?"kata Ryan mengoda Lydia.
"Kak..."kata Lydia sambil mencubit perut istrinya.
"Sakit sayang, bolehkan kalau aku minta cium kayak tadi?"kata Ryan tersenyum.
"Gak sudah ayo sekarang antar aku pulang."kata Lydia mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, memang deritaku gak akan dimaafkan sama istri semoga saja anakku juga tak ikut marah sama aku."kata Ryan pura-pura putus asa.
"Tau ah, sudah ayo antar aku pulang. Proyeknya mau diselesaiin cepat gak? Kalau gak ya sudah biarkan saja aku juga bakalan lebih lama disini."kata Lydia keceplosan.
"Tunggu tunggu apa maksutnya lama disini? Apa kamu akan kembali ke Jakarta kalau proyek ini selesai sayang?"kata Ryan memegang bahu istrinya.
__ADS_1
"Iya, bukannya kalau kerjasama ini berhasil kalian akan kerjasama untuk membuat perusahaan diJakarta dan aku yang akan bertanggunjawab dengan perusahaan itu nanti sebelum Alex menemukan orang yang bisa dipercaya."kata Lydia.
Ryan yang mendengar penjelasan Lydia langsung saja memeluk isrinya itu sambil mengucapkan terimakasih dan mencium ubun-ubun istrinya berkali-kali membuat Lydia geli dengan Ryan. Lydia menyesal karena memberitau Ryan soal kepulangannya ke Jakarta. Mereka setelah menjelaskan kesalahapahaman Ryan mengantar Lydia pulang ke rumah kontrakan Lydia. Sampai dirumah mereka berdua mendengar Raka menangis membuat suami istri itu berlari masuk ke dalam. Ryan mengambil alih Raka dari gendongan mak Masnah, saat digendong Ryan pelan-pela Raka mulai tenang kembali membuat Lydia menghela nafas.
"Raka kenapa mak? Kok tumben jam segini menangis?"kata Lydia bingung.
"Maafin mak gara-gara mak tinggal memanasi ASI buat Raka dia jatuh dari kasur."kata mak Masnah merasa bersalah.
Ryan yang mendengar cerita mak Masnah tersenyum begitu juga Lydia yang tak menyalahkan perempuan paruhbaya karena itu bukan murni salahnya.
"Gak papa mak, lagian Raka laki-laki harus kuat gak bolehh cengeng."kata Ryan.
"Kak, kalau aku ikut kakak pulang bisa janji sesuatu sama aku gak?"kata Lydia membuat Ryan memandang kearah Lydia.
"Janji apa memangnya kalau aku boleh tau?"kata Ryan.
"Biarkan nanti Raka bebas memilih menjadi apa, aku gak mau dia sejak kecil dibebani dengan tanggungjawab yang besar."kata Lydia.
"Kalau aku sih bisa tapi papa Irwan aku gak yakin kecuali kalau kamu mau bekerja diperusahaannya tapi aku maunya saat nanti kamu pulang fokus saja sama Raka dan aku gak usah kerja."kata Ryan sambil menghela nafas.
Lydia mendengar penjelasan Ryan paham jika suaminya itu dilema tapi Lydia akan mencari jalan keluar yang terbaik buat Raka. Lydia gak mau jika Raka harus belajar untuk menjadi seorang pengusaha sejak kecil.
"Kalian sudah datang?"kata Dahlia yang baru keluar dari kamar.
"Iya, kamu darimana Raka nangis kok gak keluar?"kata Ryan.
"Maaf tuan Ryan aku tadi berada dikamar mandi saat aku cepat-cepat pakai baju tak terdengar tangis Raka jadi aku siap-siap buat kerja."kata Dahlia.
"Ly, kamu tanya sama Dahlia sekarang saja. Jika dia setuju aku akan pindahkan barang kalian sekarang juga."kata Ryan.
"Maksutnya apa memindahkan barang? Kamu mau ninggalin aku dan tinggal sama Ryan?"kata Dahlia membuat Lydia kesal.
"Aku memang akan pindah tapi gak hanya sama Raka tapi sama kamu dan mak Masnah tadi aku sudah tanya mak Masnah ikut kamu saja. Kalau kamu ikut pindah sama kita maka mak Masnah juga akan ikut."kata Lydia.
"Memangnya mau pindah kemana?"kata Dahlia.
"Pindah ke rumah kak Ryan yang ada disini, kamu mau gak?"kata Lydia.
"Maulah asal gratis bagaimana tuan Ryan?"kata Dahlia bercanda membuat Ryan tersenyum.
"Buat kalian gratis tapi kalau untuk makannya kalian belanja sendiri atau bilang sama pelayan disana biar dibelanjakan."kata Ryan tersenyum.
"Ya tentu maulah, bisa buat kami hemat daripada disini tiap bulan harus bayar sewa."kata Dahlia.
__ADS_1
Ryan setelah mendengar perkataan Dahlia meminta anak buahnya untuk memindahkan barang-barang ketiga perempuan dan Raka. Setelah mengurus semuanya Ryan pamit untuk kembali ke hotel setelah mengirimkan alamat pada Lydia dan memberikan arahan buat anak buahnya dan menghubungi pelayannya untuk menyiapkan kamar untuk Dahlia dan mak Masnah.