Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Rencana pak Hardi dan Lydia


__ADS_3

"Mak bisa urut orang dewasa juga gak?"kata Lydia.


"Kamu mau mak urut? Kalau mau nanti kalau kamu gak lembur biar mak urut."kata mak Masnah.


"Masak cuma Lydia saja aku gak mak? Aku juga capek kerja."kata Dahlia.


Perkataan Dahlia itu membuat kedua perempuan yang ada disana tersenyum, lalu mak Masnah menganggukkan kepalanya. Selesai sarapan Dahlia dan Lydia berangkat menuju tempat kerja masing-masing tapi sebelum berangkat mereka berdua tadi bermain sama Raka. Apalagi Lydia memanfaatkan waktu sedikitnya itu untuk menciumi pipi gembul putranya itu yang masih berumur 2bulan. Lydia sebenarnya gak tega meninggalkan putranya bekerja tapi kalau gak bekerja bagaimana mereka akan bertahan hidup. Walaupun Lydia tau didalam rek lamanya Ryan setiap bulan selalu mengirimkan uang tapi tak pernah sedikitpun dia mengambil uang dari Ryan itu.


Saat sampai perusahaan tempat Lydia kerja dia berpapasan dengan Jono didepan pintu masuk. Alex dan juga Rara tersenyum saat melihat Lydia, mereka berjalan masuk menuju lift. Mereka bertiga juga masuk kedalam lift yang sama berdesak-desakan dengan karyawan lain. Tapi karena ada Alex mereka tak berani berdesak-desakan jadi mereka masuk secukupnya saja.


"Di, bagaimana apa proyek kalian sudah jadi?"kata Alex.


"Sudah tuan nanti saya bisa presentasikan saat meeting."kata Lydia.


"Aku tunggu, aku berharap kali ini proyek yang kamu tangani ini bisa sukses agar aku bisa merambah ke pasar Asia."kata Alex.


"Bapak terlalu berharap tinggi nanti kalau tak sesuai harapan bagaimana?"kata Lydia.


"Yang penting kita sudah berusaha hasilnya liat nanti saja saat."kata Alex.


Mereka menghentikan pembicaraan saat lift terbuka yang menandakan kalau itu adalah lantai tempat Lydia bekerja. Lydia membungkukan badannya sambil mengucap pamit pada tuan Alex kalau dia mau kembali keruangannya. Sampai diruangannya Lydia menyapa teman-temannya yang sudah datang, tapi Lydia terkejut saat melihat wajah muram Santi membuat Lydia mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa?"kata Lydia mendekati Santi.


"Eh kamu sudah datang?"kata Santi terkejut.


"Gak tau tu baru saja datang mukanya sudah masam."kata karyawan lain.


"Memangnya kamu ada masalah apa katakan?"kata Lydia.


"Aku dijodohkan sama orangtuaku."kata Santi.


"Bagus dong, dengan begitu kamu gak perlu susah-susah cari kekasih."kata Lydia.


"Ish kamu ini, aku masih ingin fokus karir dulu baru setelah aku sukses akan cari pasangan."kata Santi.


"Sukses bisa dikerjakan sama-sama 'kan?"kata Lydia.

__ADS_1


"Gak ah, malas aku palingan kalau sudah nikah gak boleh kerja."kata Santi.


Lydia tak jadi menjawab perkataan Santi karena pak Hardi datang menghampiri mereka dengan wajah kesalnya membuat karyawan lain yang melihatnya penasaran dengan apa yang terjadi.


"Pagi pak, masak pagi-pagi gini wajahnya sudah masam?"kata karyawan.


"Gimana gak masam kalau pagi-pagi sudah mendengar omongan orang yang gak ada otak itu."kata pak Hardi.


"Memangnya ada apa pak?"kata Santi.


"Itu loh aku kesal sama divisi sebelah mereka masak semakin menjadi lama-lama gak bisa dibiarkan."kata pak Hardi.


"Memangnya mereka kenapa?"kata Lydia.


"Mereka bilang kalau kamu semalam pulang sama tuan Alex apa benar?"kata pak Hardi.


"Gak aku gak pulang sama tuan Alex, aku semalam pulang sendiri."kata Lydia.


"Tapi kenapa mereka bisa mengatakan kalau kamu pulang sama tuan Alex?"kata pak Hardi.


"Mana ku tau, sudahlah pak gak usah didengarkan kita kembali kerja saja ini sudah waktunya jam kerja dimulai."kata Lydia.


Lydia membawa flashdisknya keluar dari ruangannya menuju ruangan pak Hardi dengan wajah tegang membuat karyawan divisinya saling pandang. Mereka yakin jika terjadi sesuatu pada Lydia tapi apa, sedangkan dilain tempat seorang perempuan tersenyum senang karena bisa membuat Lydia karang kabut. Dia yakin jika Lydia akan dipecat dari perusahaan karena proyek yang sedang ditangani Lydia kali ini sangat penting. Pak Hardi yang mendengar pintu ruangannya terbuka dari luar mengalihkan pandangannya dari melihat berkas sekarang melihat kearah pintu. Lydia masuk setelah itu mengunci pintu membuat pak Hardi mengerutkan keningnya.


"Ada apa?"kata pak Hardi.


"Nih bapak liat dulu, boleh saya pinjam laptop bapak sebentar?"kata Lydia.


"Nih, pakai saja."kata pak Hardi.


Pak Hardi memberikan laptopnya pada Lydia karena dia ingin tau apa yang dimaksut oleh Lydia. Lydia menerima laptop itu lalu menancapkan flashdisknya memperlihatkan pada pak Hardi, pak Hardi melihat itu lalu terkejut.


"Bukannya dia karyawan baru didivisi sebelah? Apa yang dia lakukan dengan komputermu?"kata pak Hardi.


"Dia menghapus folder yang berisi proyek yang kita kerjakan semalam."kata Lydia santai tapi tidak dengan pak Hardi.


Pak Hardi yang melihat Lydia santai hanya merasa heran kenapa Lydia malah santai padahal kalau sampai hilang maka pekerjaannya yang jadi taruhan.

__ADS_1


"Kamu kok malah tenang sih, Di?"kata pak Hardi membuat Lydia tersenyum.


"Bapak tutup saja rekaman itu lalu liat disana ada folder satu lagi."kata Lydia.


Pak Hardi melakukan apa yang diperintahkan, dia menutup folder lalu membuka folder satunya lagi. Ternyata itu folder proyek yang mereka kerjakan semalam tapi mengapa Lydia bilang kalau karyawan baru itu telah menghapus foldernya.


"Tadi kamu bilang kalau foldernya hilang?"kata pak Hardi.


"Dikomputer saya memang hilang pak, tapi diflashdisk masih ada. Saya minta bantuan bapak?"kata Lydia.


"Kamu mau minta bantuan apa memangnya katakan?"kata pak Hardi.


"Jangan bilang kita menyimpan folder ini bilang saja kalau folder kita hilang dengan begitu kita bisa menjebak perempuan itu."kata Lydia.


"Kamu mau menjebaknya?"kata pak Hardi.


"Iya pak, bagaimana bapak setuju apa gak?"kata Lydia.


"Aku ikut rencanamu, bagaimana dengan tuan Alex apa dia sudah tau dengan rencana kita?"kata pak Hardi.


"Belum, aku mau bikin sandiwara ini menarik kalau dia tau gak akan menarik lagi."kata Lydia membuat pak Hardi mengelengkan kepalanya.


"Kamu memang banyak akal, apalagi kalau Santi tau masalah ini pasti akan langsung gempar."kata pak Hardi membuat Lydia tersenyum.


"Memang itu yang aku mau biar semakin menarik, gimana pak masih mau membantu?"kata Lydia.


"Tentu saja aku akan membantumu, sudah lama aku tak melihat tuan Alex marah. Terakhir kali dia marah saat kamu masuk ke perusahaan, setelah kamu masuk perusahaan tuan Alex gak marah lagi."kata pak Hardi.


"Kenapa bisa begitu?"kata Lydia bingung.


"Karena pekerjaanmu bagus beda dengan saat kamu belum datang walaupun bukan kami yang pegang proyek tapi kalau ada kesalahan didivisi lain pasti kita juga kena malah. Tapi aku gak menyangka jika mereka iri sejak kamu datang bekerja disini dan selalu divisi kita yang mendapatkan proyek itu."kata pak Hardi.


"Maka dari itu hari ini aku mau membuat mereka merasakan lagi bagaimana marahnya tuan Alex, bisa kita mulai sekarang pak?"kata Lydia.


"Ayo kita lakukan sekarang."kata pak Hardi.


Pak Hardi terlebih dahulu melepas flashdisk tadi lalu memberikannya pada Lydia setelah itu mereka berdua keluar dengan wajah tegang. Semua karyawan yang melihat wajah tegang keduanya langsung meninggalkan tempat duduknya untuk menghampiri kedua orang itu.

__ADS_1


"Gawat ini benar-benar gawat."kata pak Hardi.


__ADS_2