Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Berbaring diranjang yang sama


__ADS_3

Mereka masuk kedalam kamar, saat didalam kamar Lydia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia bingung masak mau tidur pakai pakaian itu atau pakai jubah mandi. Saat Lydia sedang kebingungan terdengar pintu kamar mandi itu diketuk dari luar membuat Lydia membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Nih, baju tidur kamu bisa pakai."kata Ryan sambil menyerahkan paperbag padanya.


"Kamu dapat baju ini darimana?"kata Lydia.


"Aku suruh karyawan hotel membelikan pakaian untukmu sudah kamu pakai saja habis itu istirahat."kata Ryan.


Lydia kembali menutup pintu kamar mandi sedangkan Ryan mengambil berkas yang ada diatas meja tadi. Ryan fokus dengan pekerjaannya tanpa sadar jika Lydia sudah keluar dari kamar mandi. Lydia pelan-pelan naik keatas ranjang tapi Ryan masih saja fokus dengan berkas yang ada dipangkuannya.


"Bisa gak kerja besok lagi?"kata Lydia membuat Ryan kaget lalu menoleh ke samping.


"Sudah selesai kok masih pakai jubah memangnya bisa tidur pakai itu?"kata Ryan membuat Lydia terdiam.


Lydia tak berani melepas jubahnya karena baju tidur yang dibelikan karyawan hotel itu bukan baju tidur biasa tapi lingerie yang nerwang. Jika Ryan melihatnya pasti akan terjadi sesuatu yang gak diinginkan.


"Gak papa aku dingin saja, kakak tadi suruh beli baju tidur kayak gimana?"kata Lydia membuat Ryan mengerutkan keningnya.


"Maksutmu bagaimana? Aku menyuruh perempuan itu membeli baju tidur yang dibiasa dipakai perempuan memangnya kenapa?"kata Ryan yang gak mengerti dengan pertanyaan Lydia.


"Gak papa tanya saja, lalu itu apa?"kata Lydia.


"Bajuku dan bajumu, kalau bajuku aku suruh Dayat beli tadi. Aku hanya bawa dua potong pakaianan saja yang gak menyangka jika ada masalah disini sekaligus aku bertemu kamu. Jadi rencananya berubah yang awalnya setelah menadatangani kerjasama aku langsung pulang tapi gak jadi karena aku mau menyelesaikan pekerjaan sekaligus membujuk istriku ini untuk ikut aku pulang."kata Ryan sambil memegang dagu Lydia.


"Kalau aku gak mau pulang bagaimana?"kata Lydia.


"Ya gak papa, aku akan pulang pergi Jakarta-Itali."kata Ryan membuat Lydia menghela nafasnya.


"Kenapa kamu gak mau melepaskan aku sih kak?"kata Lydia.


"Aku gak akan melakukan kesalahan lagi sudah cukup kamu dua kali meninggalkanku kali ini aku akan mengikatmu jika kamu mau kembali bersamaku."kata Ryan.


"Sudah gak usah bahas itu lagi sekarang bersih-bersih lalu tidur. Kerjaan itu besok saja dikerjakan lagi."kata Lydia.


"Baiklah tapi peluk boleh?"kata Ryan.


"Liat nanti saja, sudah sana bersih-bersih."kata Lydia.


"Aku mau mandi tadi belum sempat mandi, kalau kamu mau tidur dulu gak papa."kata Ryan sambil mencuri ciuman pipi Lydia.


Lydia terkejut sedangkan Ryan tersenyum lalu cepat-cepat masuk kamar mandi takut jika istrinya itu marah. Lydia yang tersadar dari keterkejutannya memegang pipinya pasti sekarang pipinyya itu merah untung saja Ryan tadi langsung masuk dalam kamar mandi kalau gak pasti dia akan malu dan ketahuan jika hatinya masih ada untuk Ryan.


Lydia setelah tersadar dari keterkejutannya memutuskan untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi Dahlia dan mengatakan kalau malam ini dia tak bisa pulang.


[Hallo mommy ada apa? Kok mommy pakai jubah mandi habis ngapain?]


[Gak usah pikir macam-macam deh, aku gak ngapa-ngapain sama Ryan.]

__ADS_1


[Oh lalu kenapa pakai jubah kalau gak ngapa-ngapain?]


[Aku malam ini menginap disini, aku titip Raka ya.]


[Iya mommy besok bawa daddy kesini biar aku bisa main sama daddy. Eh tadi belum jawab kenapa kamu pakai jubah?]


[Aku gak berani buka jubahku.]


[Kenapa kok gitu kamu gak pakai baju tidur?]


[Pakai, tadi dibelikan sama karyawan hotel kamu tau gak apa yang dia belikan untukku?]


[Apa memangnya? Jangan bilang kalau baju dinas ya?]


[Itulah makanya aku gak berani buka jubahku.]


Dahlia yang mendengar perkataan Lydia tersenyum membuat Raka terkejut lalu menangis. Raka akhirnya diambil alih oleh mak Masnah untuk ditenangkan membuat Dahlia terdiam sedangkan Lydia memandang tajam temannya itu.


[Bisa gak kalau tertawa itu jangan kencang-kencang?]


[Maaf kelepasan tadi, lagian kenapa kamu takut toh dia masih suamimu. Gak ada masalah kalau dia meminta haknya.]


[Aku gak siap.]


[Terserahmulah, lagian kamu tau mana yang terbaik buatmu dan Raka. Sudah aku matikan panggilannya Raka nangisnya belum berhenti kasian mak Masnah. Ingat besok bawa Ryan datang biar dia bisa ketemu sama putranya.]


[Ish mengancam dia.]


Dahlia setelah berkata begitu lansgung mematikan panggilannya karena dia gak mau mendengar ceramah Lydia pasti akan membuat telinganya panas. Saat Lydia meletakkan ponselnya Ryan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja membuat Lydia terkejut lalu menutup matanya membuat Ryan mendekati istrinya lalu duduk disamping Lydia.


"Kenapa kok matanya ditutup gitu?"kata Ryan.


"Kakak kenapa keluar hanya pakai handuk saja sih?"kata Lydia.


"Memangnya kenapa bukannya kamu sudah melihat semuanya?"kata Ryan.


"Tapi itu sudah lama kak."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Sama saja sayang, lagian semua masih sama gak ada yang beda."kata Ryan sambil membuka tangan Lydia agar memandangnya.


"Apa sih kak pakai baju dulu."kata Lydia.


"Nanti aku pakai baju dulu sekarang liat aku buka matamu atau aku gak pakai baju sampai nanti saat tidur?"kata Ryan.


Lydia terpaksa membuka matanya lalu menghela nafas saat melihat dada bidang suaminya. Ryan yang melihat apa yang dipandang istrinya langsung saja meletakkan tangan Lydia ke dada Lydia. Lydia mau melepas tangannya dari gegaman Ryan tapi bukannya dilepas Ryan malah mengeratkan gegamannya. Ryan menarik tangan Lydia membuat tubuhnya menempel ke dada bidang suaminya dan mata mereka saling pandang. Ryan tersenyum simpul membuat Lydia terdiam sesaat, Ryan benar-benar terlihat tak terrawat tanpa sadar tangan Lydia memegang pipi suaminya yang ditumbui bulu harus sampai ke dagunya.


"Kenapa?"kata Ryan.


"Kenapa gak dicukur dan kenapa rambutnya gak dipotong?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.

__ADS_1


"Mau cukur bulu yang ada diwajahku?"kata Ryan.


"Gak mau malas, aku mau tidur."kata Lydia.


"Kamu suka aku berbulu atau gak?"kata Ryan.


"Terserah kakak saja mana maunya, orang sama saja dicukur atau gak pasti banyak perempuan yang mengagumimu."kata Lydia.


"Kamu cemburu sama mereka?"kata Ryan sambil senyum menyeringai.


"Buat apa aku cemburu sama kamu kak, gak ada gunanya."kata Lydia.


"Yakin, kalau aku menikah lagi dengan perempuan lain bagaimana?"kata Ryan.


"Terserahmu tapi ceraikan aku dulu, aku gak mau dimadu. Lagian aku bisa hidup dengan Raka berdua saja."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Tapi aku yang gak bisa hidup tanpamu?"kata Ryan.


"Gombal banget sudah pakai baju sana memangnya gak dingin apa?"kata Lydia.


"Kamu lupa sayang kalau aku gak bisa tidur kalau pakai kaos, kamu yang aneh kenapa masih pakai jubah apa mau aku lepaskan jubahmu?"kata Ryan.


"Aku suka tidur pakai jubah, sudah kamu pakai celanamu lalu tidur."kata Lydia.


"AKu daritadi sudah pakai."kata Ryan sambil membuka handuknya yang dililit dipinggangnya.


Lydia yang mendengar itu langsung saja memukul dada suaminya itu, membuat Ryan tersenyum. Ryan meloncat kesamping Lydia membuat Lydia terkejut. Lydia memukul dada bidang Ryan membuat Ryan pura-pura kesakitan padahal baginya pukulan Lydia itu hanya seperti tubuhnya dipijat. Ryan memegang tangan Lydia lalu mengecupnya lalu memandang kearah Lydia, membuat Lydia terdiam.


"Tidur..."kata Ryan.


Lydia mengangguk, mereka berdua mulai berbaring sambil tangannya dijadikan bantal oleh istrinya itu. Ryan megelus rambut dan pipi istrinya membuat Lydia terdiam.


"Terimakasih kamu mau menginap disini malam ini?"kata Ryan sambil tersenyum.


"Aku terpaksa karena kamu mengancam."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Ly, kenapa kamu dulu langsung pergi begitu saja tak meminta penjelasanku dulu?"kata Ryan yang mulai berbicara dengan serius.


"Aku gak mau jika kamu memilih Shinta yang akan membuatku sakit karena aku yakin jika kamu akan membela Shinta."kata Lydia membuat Ryan menghela nafasnya.


"Aku minta maaf karena aku sering mengabaikanmu, aku gak bermaksut mengabaikanmu. Aku pikir setelah aku menyelesaikan pekerjaanku dan masalah Shinta aku akan menjelaskan semua padamu dan memberikan waktu yang banyak pada kita untuk berduaan tapi sayangnya kamu memilih untuk pergi. Yang aku gak mengerti kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil?"kata Ryan sambil menatap atap kamar.


"Maafkan aku itu memang salahku yang egois, aku sebenarnya mau mengatakan kalau aku sedang hamil tapi aku urungkan karena Shinta menghubungiku duluan sebelum aku mengatakan kehamilanku padamu."kata Lydia.


"Kamu gak perlu minta maaf karena disini aku yang salah, aku yang biarkan kamu sendirian melawan traumamu."kata Ryan.


"Sudahlah kak, tidur ya sudah malam."kata Lydia membuat Ryan menghela nafasnya.


Ryan tau jika Lydia belum benar-benar memaafkannya, Lydia berada disini karena terpaksa. Ryan memutuskan untuk pura-pura tidur, dia tau jika Lydia daritadi memandang Ryann yang sudah tertidur duluan. Lydia sengaja memandang lama suami yang sudah lama dia rindukan. Lydia masih ingat saat dia hamil Raka dan ingin sekali bertemu dengan Ryan terpaksa dia meminta Jono untuk mengambil video Ryan hingga sekarang Jono keterusan mengambil foto dan video lalu dikirimkan padanya. Ryan yang gak tahan ditatap Lydia lama membuka matanya membuat Lydia terkejut karena suaminya belum tertidur.

__ADS_1


__ADS_2