
Beberapa hari ini Lydia sibuk dengan pekerjaannya diperusahaan karena papa Irwan pergi keluar negeri untuk melakuukn pekerjaan disana. Lydia yang sedang bingung apakah menerima kerjasama dengan perusahaan Sinta yang dia ingat adalah kekasih Ryan. Lydia memutuskan untuk pergi ke perusahaan Hendru untuk meminta pendapat kakaknya itu.
Lydia keluar dari ruangannya bertepatan dengan Rima yang mau masuk keruangan Lydia. Mereka berdua sama-sama terkejut apalagi dibelakang Rima ada Rayyan.
"Kamu ini Rim, ngagetin aku saja."kata Lydia setelah menetralkan keterkejutannya.
"Maaf, maaf kamu mau kemana kok buru-buru sekali?"kata Rima.
"Aku ada urusan diluar ada apa?"kata Lydia.
"Ada yang mau bertemu denganmu?"kata Rima yang berharap jika Lydia mau berbicara dengan Rayyan.
"Siapa yang mau bertemu denganku? Tapi maaf hari ini aku benar-benar harus pergi soalnya ada urusan diluar."kata Lydia.
"Rayyan mau bicara sama kamu,memangnya kamu gak bisa tunda sebentar pertemuanmu itu?"kata Rima.
"Maaf banget ya kak aku gak bisa bicara sama kamu soalnya aku benar-benar harus pergi ini saja aku sudah terlambat. Rim aku pergi dulu ya."kata Lydia meninggalkan mereka berdua.
Lydia sampai didalam mobilnya menghera nafasnya, mau apalagi Rayyan menemuinya bukannya kemarin saat diSurabaya dia mengejar-ngejar Widya. Lydia tak ingin berpikir macam-macam, dia memutuskan untuk menjalankan mobilnya. Rayyan yang melihat mobil Lydia memilih untuk mengikuti kemana Lydia pergi. Rayyan terdiam saat mengetahui jika Lydia pergi keperusahaan Hendru. Rayyan memutuskan untuk menunggu sampai Lydia keluar dari perusahaan itu.
Lydia sendiri langsung naik keruangan Hendru, karyawan yang mengenalnya memberikan hormat pada Lydia. Lydia sampai diruangan Hendru terkejut karena disana ada Ryan.
"Eh tumben kesini gak bilang-bilang, ada apa?"kata Hendru sambil memandang Lydia yang terlihat banyak masalah.
"Pusing aku."kata Lydia sambil menyadarkan kepalanya disofa sedangkan Hendru dan Ryan menghampiri Lydia ke sofa.
"Memangnya pusing kenapa nona?"kata Ryan yang penasaran ada apa dengan perempuan didepannya ini.
"Kalian tau perusahaan Karya grup?"kata Lydia membuat Ryan dan Hendru langsung saling pandang.
"Memangnya ada apa dengan perusahaan itu?"kata Hendru.
"Perusahaan itu mengajukan kerjasama dengan perusahaanku."kata Lydia.
"Terima saja apa masalahnya sih? Lagian kalau kamu mau bekerjasama dengan perusahaan itu bukannya malah bagus?"kata Hendru.
__ADS_1
"Aku malas sama pemiliknya."kata Lydia.
"Sama pemiliknya yang mana nona? Yang perempuan atau laki-laki?"kata Ryan.
"Laki-lakilah ngapain juga aku kesal sama yang perempuan?"kata Lydia sinis.
"Ya siapa tau saja akukan cuma nebak."kata Ryan tersenyum.
"Gak usah nebak-nebak kalau gak tau."kata Lydia semakin kesal melihat Ryan.
"Kamu itu, kamu tau gak kalau perusahaan itu ada dua laki-laki mana yang kamu kesalin?"kata Hendru.
"Ish kakak ni, aku serius ini aku gak suka sama Anton itu."kata Lydia jujur karena setiap mereka membicarakan kerjasama dia selalu curi pandang padanya. Ryan yang mendengar itu hanya menghera nafas.
"Memangnya kenapa kamu gak suka sama dia?"kata Hendru.
"Aku gak suka setiap kali mengadakan pertemuan dia selalu genit padaku."kata Lydia kesal.
"Itu berarti dia suka sama kamu, kenapa kamu gak coba pacaran saja sama pria itu?"kata Hendru.
"Wah siapa pria yang beruntung itu?"kata Hendru.
"Rahasia kak aku serius ini bagaimana aku terima gak kerjasama dengan perusahaan itu?"kata Lydia.
"Terserahmu, lagian kamu yang jalani perusahaan itu. Bukannya kalau kerjasama dengan perusahaan itu bisa membuat kedua perusahaan semakin maju. Kalau masalah kamu gak suka dengan pemiliknya, kamu bisa minta tolong seseorang buat melakukan kerjasama itu tanpa kamu sendiri bertemu dengannya."kata Hendru.
"Kamu benar juga kak, baiklah kalau kayak gitu masalahku selesai. Kak, kakak iparku dirumah gak?"kata Lydia.
"Ada kayaknya memangnya kenapa?"kata Hendru.
"Aku mau kesana, aku kangen sama Dara."kata Lydia.
"Kamu itu pasti mau gosip kalau mau kesana?"kata Hendru.
"Tau saja kamu kak."kata Lydia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Awas saja kamu mengajari istriku hal-hal gak benar."kata Hendru.
"Ish, yang gak benar itu kakak bukan aku."kata Lydia.
"Mau aku antar nona?'kata Ryan yang bicara.
"Gak perlu tuan saya bawa mobil sendiri, lagian takut nanti ada yang marah sama saya. Saya masih trauma dengan masa lalu saya."kata Lydia.
"Kamu itu lupakan Rayyan, masih banyak pria yang lebih baik dari dia."kata Hendru yang gak suka jika Lydia masih memikirkan Rayyan.
"Kenapa kak? Oh ya aku lupa kamu pasti gak suka ya kalau Rayyan dekat sama kakak ipar?"kata Lydia.
"Ish kamu itu ngomong apasih, sudah sana pergi katanya mau ketemu sama Widya?"kata Hendru menyuruh Lydia pergi agar dia tak membicarakan tentang Rayyan lagi.
"Oke oke aku pergi."kata Lydia yang setelah berkata begitu langsung saja keluar dari ruangan Hendru.
Ryan tanpa sepengetahuan Lydia mengikutinya secara diam-diam. Ryan menghentikan langkahnya saat melihat Lydia sedang berbicara dengan Rayyan. Saat Ryan mau pergi dia melihat jika tangan Lydia dipegang oleh Rayyan. Ryan takut terjadi sesuatu pada Lydia akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.
"Kamu sedang apa disini sayang? Katanya tadi mau ke rumah Hendru buat bertemu Dara?"kata Ryan yang datang-datang langsung melangkur pinggang Lydia. Sebenarnya Lydia risih tapi dia berusaha bersabar karena ini agar Rayyan tak menganggunya lagi. Apalagi dia dengar dari mamanya jika sekarang mama Dahlia mencoba mendekati mama Intan untuk mencoba menjodohkan dirinya dengan Rayyan.
"Iya, aku memang mau kesana, tapi kak Rayyan tadi menghadangku."kata Lydia.
"Jadi kamu Rayyan mantannya Lydia?"kata Ryan.
"Iya, aku memang mantannya tapi aku gak sepertimu yang dibelakang Lydia jalan dengan perempuan lain."kata Rayyan yang pernah melihat jika Ryan berjalan dengan Sinta.
"Kapan aku jalan dengan perempuan lain?"kata Ryan yang tak pernah merasa jika dia pernah jalan dengan perempuan.
"Aku pernah melihat kamu jalan dengan perempuan lain dimall."kata Rayyan.
"Kapan memangnya?"kata Ryan.
"Sudah, sudah aku percaya sama kamu kok mas. Sekarang aku pergi dulu ya, kasian Widya pasti sudah menungguku."kata Lydia sambil mencium tangan Ryan membuat Rayyan terkejut karena selama berhubungan dengannya tak pernah sekalipun Lydia melakukan cium tangan saat mau berpisah.
Lydia setelah mencium tangan Ryan buru-buru pergi karena dia merasa malu baru kali ini dia melakukan itu selain dengan orangtuanya. Lydia benar-benar gak tau kenapa dengan Ryan dia mau melakukan itu. Lydia menjalankan mobilnya, dalam perjalanan terus saja memikirkan apa yang telah dia lakukan pada Ryan tadi.
__ADS_1