Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Menjalankan taruhannya


__ADS_3

"Aku juga ingin seperti itu tapi aku gak tau bagaimana perasaan kak Ryan apalagi kamu tau pernikahan kita terjadi karena apa."kata Lydia.


"Kita liat habis ini, kok Cindy lama banget ya cari kak Ryan saja."kata Ita.


"Iya memangnya dia kemana ya?"kata Lydia yang semakin gugup.


"Tenang aku yakin kamu bisa melakukannya, lagian aku tau siapa yang membuatmu memutuskan untuk pindah ke Surabaya secepatnya."kata Ita.


"Ta, yang lain gak taukan soal perasaanku sama kak Ryan sejak dulu?"kata Lydia takut jika Ita bercerita pada Cindy dan Dini.


"Memangnya aku Dini yang suka bercerita pada yang lain?"kata Ita membuat Lydia tersenyum.


Mereka berhenti berbicara saat terdengar hendel pintu berbunyi, Lydia semakin gugup tapi Ita menenangkannya dengan memegang tangan Lydia yang ternyata dingin banget. Cindy tersenyum saat membuka pintu beda dengan Ryan yang terpesona dengan dandanan Lydia yang natrul tapi semakin cantik tapi saat dia melihat dadanya membuat Ryan menghera nafasnya karena Ryan tak akan tahan meihat bagian tubuh Lydia lama-lama. Tapi Ryan mencoba sadar agar dia tak melakukan sesuatu pada Lydia apalagi sekarang mereka tak berdua ada dua teman Lydia juga.


"Ly..."kata Ryan membuat Lydia melepaskan tangan Ita lalu berjalan menghampiri suaminya itu.


"Kak, ada yang mau aku bicarakan."kata Lydia.


"Kamu mau bicara apa katakan?"kata Ryan sambil memandang wajah Lydia yang selalu ingin dia sentuh setiap saat tapi dia tak berani karena dia tak ingin membuat Lydia marah padanya.


"Kak sebenarnya aku...aku..."kata Lydia sambil meremas kedua tangannya.


"Kamu kenapa katakan?"kata Ryan.


"Aku cinta sama kakak sejak pertama kita bertemu dan aku menjauhi kamu karena aku gak mau merusak hubunganmu dengan Shinta. Aku tau bagaimana rasanya kehilangan kekasih karena dia lebih memilih perempuan lain, aku gak mau apa yang terjadi padaku terjadi juga dengan Shinta. Aku mencintaimu kak Ryan."kata Lydia.


"Aku juga mencintaimu maaf kalau karena aku gak peka dengan perasaanmu."kata Ryan sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat Lydia juga gak segan lagi untuk membalas pelukan itu.


Kedua pasangan itu berpelukan dengan tersenyum lega bersamaan dengan itu Cindy dan Ita juga ikut bahagia melihat temannya itu. Tapi saat mereka berpelukan tiba-tiba pintu kamar itu dibuka dari luar membuat Ryan memandang siapa yang datang ternyata yang datang Jono dan juga Roni beserta istrinya. Lydia yang mau melepas pelukan itu karena ingin tau siapa yang datang gak bisa karena Ryan memeluknya semakin erat membuat Cindy dan Ita tersenyum melihat posesifnya Ryan pada Lydia. Kali ini mereka percaya kalau Ryan bisa membuat Lydia bahagia tanpa perlu mereka minta.


"Ada orang sakit juga kalian malah pelukan."kata Jono mengoda adik iparnya sedangkan Roni ketakutan karena dia tau jika Ryan buka orang sembarangan.


"Teserahku istri-istriku sendiri kalau iri peluk sana istrimu sendiri."kata Ryan.

__ADS_1


"Kamu itu istri dirumah mana bisa aku memeluknya?"kata Jono.


"Siapa suruh gak kamu ajak kesini?"kata Ryan.


"Gak papa aku mau peluk yang ada saja."kata Jono sambil berjalan menghampiri Cindy.


"Sekali kamu sentuh dia maka tanganmu yang aku patahkan."kata Ryan dingin membuat semua orang terkejut tak terkecuali Lydia yang tak pernah mendengar yan berkata tegas seperti itu.


"Kalau kamu patahkan tanganku kasian Shinta kedinginan karena gak aku peluk."kata Jono menyeringai.


Ryan mau membalas perkataan Jono tapi ga jadi karena Lydia mengelus punggungnya membuat Ryan memandang kearah bawah dan ternyata istrinya itu sedang memandangnya sambil mengelengkan kepalanya. Ryan tersenyum lalu menganggukan kepalanya membuat Lydia semakin memeluknya erat dan membenamkan wajanya didada bidang suaminya itu.


"Wah aku tau sekarang kelemahan seorang Ryan."kata Jono tersenyum sinis.


"Mau apa kamu memangnya aku gak bisa balas kamu juga, aku juga tau kelemahanmu."kata Ryan tersenyum menyeringai.


"Jangan Yan, aku bercanda aku beneran gak bisa hidup sama tanpa Shinta apalagi kita berdua ini sama-sama masih pengantin baru. Masak kamu gak kasian sama aku kalau pusakaku gak bisa masuk kesarangnya?"kata Jono yang langsung dilempar kaleng yang dipegang oleh Ryan untung saja Jono bisa menghindar kalau gak bisa benjol kepalanya..


"Yan..."kata Jono kesal.


"Wah kamu teman siapa sih sebenarnya kok bela Ryan."kata Jono.


"Aku gak bela siapa-siapa disini, tapi perkatanmu itu seharusnya lebih dijaga lagi."kata Roni.


Saat Jono mau berbicara Dion dan Aziz masuk ke dalam ruangan itu mereka tak menyangka kalau didalam sangatlah rame padahal ini sudah hampir tengah malam. Ryan memberikan kode pada Dion untuk melepas jaketnya, Dion yang mengerti langsung melepas jaket nya lalu memberikannya pada Ryan.


"Nih pakai, biar gak kelihatan asetku."kata Ryan.


"Apaan sih."kata Lydia sambil mencubit pinggang suaminya membuat Ryan tersenyum.


Lydia memakai jaket itu lalu melihat siapa yang diajak berdebat oleh Ryan ternyata itu Jono membuat Lydia geleng-geleng kepala. Tapi saat melihat Rani, Lydia tersenyum lalu memeluk perempuan itu sambil tersenyum terlihat sekali kalau sekarang Rani bahagia banget karena mendapatkan suaminya sangat menyayanginya.


"Ish aku kangen sama kalian semua tau gak."kata Ran yang mulai terlihat sifat aslinya.

__ADS_1


"Kami juga kangen, kita sudah punya keponakan berapa sekarang nih?"kata Ita sambil tersenyum.


"Kalian mendapatkan 4 keponakan."kata Rani membuat ketiga perempuan itu terkjut.


"Eh empat tapi bagaimana bisa?"kata Lydia.


"Ya bisalah sekali lahiran kembar."kataa Rani.


"Perempuan apa pria keponakan kami?"kata Cindy..


"Laki-laki semua."kata Rani sambil tersenyum.


"Wah mamanya cantik sendiri dong kalau kayak gitu?"kata Ita.


"Iya kalian harus cepat nyusul buat nikah dan kamu Ly cepat gas buat anak. Punya anak itu enak tau gak apalagi saat melihat mereka tertidur pulas rasanya beban kita hilang."kata Rani.


"Kalau soal itu doain saja ya."kata Lydia.


"Amiin."kata ketiga perempuan itu.


"Lah, aku sama istriku gak didoain juga?"kata Jono yang mengacau suasana sedangkan keempat pria yang lain sedang asik membicarakan bisnis mereka masing-masing.


"Mengapa kamu ikut nimbrung sama kami seharusnya kamu gabung sama mereka tu."kata Lydia menunjuk kearah keempat perempuan itu.


"Aku malas mereka hanya membahas soal bisnis gak ada yang lain."kata Jono membuat Lydia tersenyum, Lydia ingin menjahili Jono.


"Kak..."kata Lydia membuat ketiga pria itu memandang kearahnya membuat Lydia nyengir.


'Maksutku kak Ryan..."kata Lydia membuat Aziz dan Dion tersenyum.


"Kayaknya kamu harus ganti panggilan sama suamimu dek? Kalau kamu panggil dia kakak nanti kita ngira kamu panggil kami."kata Aziz..


"Nanti aku ganti panggilan sama kak Ryan sekarang aku pikirkan dulu panggilan apa yang cocok buat kak Ryan."kata Lydia.

__ADS_1


"Kamu ada apa memanggilku?"kata Ryan akhirnya.


"Nih Jono nih, katanya bosan sama kalian sebab kalian hanya bahas soal kerjaan."kata Lydia membuat keempat pria itu memandang kearah Jono sedangkan Jono sendiri hanya nyengir melihat tatapan membunuh keempat pria itu.


__ADS_2