Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ayah mertua dan Jono datang ke apartemen


__ADS_3

Jono dan ayah Danny yang dihubungi oleh Shinta buru-buru datang ke apartemen Ryan takut kalau terjadi sesuatu dengan Shinta. Bunda Airin dan Lydia yang mendengar apa yang dikatakan oleh Shinta hanya mengelengkan kepalanya.


"Kamu ini pasti suami dan ayahmu panik saat kamu hubungi kayak gitu?"kata bunda Airin.


"Mereka gak akan panik tenang saja."kata Shinta.


"Kamu ini mana mungkin gak panik kalau kamu merintih kesakitan nanti bunda sama Lydia yang disalahkan sama mereka bagaimana?"kata bunda Airin.


Saat mereka sedang berdebat terdengar suara pintu apartemen berbunyi, Lydia meninggalkan dua orang yang sedang berdebat untuk membuka pintu. Saat Lydia membuka pintu benar saja itu ayah dan juga Jono dengan wajah yang khawatir. Lydia mau menyapa gak jadi karena Jono langsung saja masuk kedalam apartemen membuat Lydia menghela nafasnya. Ayah Danny yang masih berpikir logis tersenyum pada menantunya.


"Kamu yang sabar ya, Jono itu sedang khawatir sama istrinya."kata ayah Danny.


"Iya yah, padahal aku cuma mau bilang kalau mbak Shinta itu baik-baik saja."kata Lydia membuat ayah Danny terkejut.


"Maksutmu mbakmu baik-baik saja bagaimana?"kata ayah Danny.


"Ayah masuk saja nanti tanya sendiri sama mbak Shinta."kata Lydia.


"Ya sudah kalau kayak gitu ayah masuk dulu."kata ayah Danny.


"Iya yah silahkan."kata Lydia sambil meminggirkan badannya.


Ayah Danny masuk kedalam apartemen diikuti oleh Lydia setelah dia menutup pintu apartemennya. Ayah Danny yang datang keruang tengah terkejut karena putrinya baik-baik saja membuat ayah Danny menghela nafasnya. Dia kesal dengan putrinya karena sudah membohonginya mengatakan kalau dia sakit padahal dia gak sakit. Bunda Airin yang melihat suaminya menghela nafas hanya tersenyum.


"Ayah jangan marah, putrimu yang merencanakannya."kata bunda Airin.


"La kok aku yang disalahkan, bukannya bunda yang nyuruh aku hubungi ayah sama mas Jono?"kata Shinta yang gak mau disalahkan oleh ayahnya sedangkan Lydia hanya memperhatikan perdebatan mereka.


"Kalian memangnya ada apa kok sampai berbuat seperti itu?"kata ayah Danny.


"Kami hanya mau ayah sama mas Jono merasakan kue buatan Lydia kalau menurut kalian rasa kuenya enak gak? Kalau enak Lydia akan membantu bunda bikin kue untuk arisan lusa."kata Shinta menjelaskan.


"Walah kayak gitu to ceritanya, lalu kenapa kamu malah buat ayah sama suamimu khawatir bukannya kamu bisa bilang saja langsung baik-baik?"kata ayah Danny.


"Kalau aku bilang pasti kalian lama datangnya nunggu kalian pulang kerja."kata Shinta membuat kedua pria itu mengelengkan kepalanya.


"Kamu ini memang suka sekali ngerjain kita bagaimana nanti saat kamu sakit beneran kamu bilang begini kami gak percaya karena kamu sering ngerjain kami?"kata ayah Danny.

__ADS_1


"Benar itu dek, lain kali jangan suka jahili kami ya takutnya nanti kalau kamu hubungi kami gak percaya."kata Jono sambil mengelus rambut istrinya membuat orangtuanya dan juga Lydia yang melihat tersenyum.


"So sweet, aku juga mau digituin dong."kata Lydia.


"Kamu minta saja sama Ryan tapi aku yakin Ryan gak akan melakukan itu karena dia gak bisa romantis sejak dulu dingin banget."kata Shinta.


"Sudah kok jadi bahas kak Ryan, ayah sama kamu mau minum apa?"kata Lydia yng bingung mau panggil Jono apa membuat bunda Airin tersenyum.


"Kamu kok malah tersenyum bun?"kata ayah Danny yang pennasaran kenapa istrinya tersenyum sendiri.


"Aku senyum melihat Lydia yang pasti bingung bagaimana memanggil Jono 'kan dia teman satu kampusnya."kata bunda Airin.


"Benar itu Ly kalau Jono itu teman seangkatan kamu waktu kuliah?"kata ayah Danny.


"Iya yah."kata Lydia sambil tersenyum.


"Kamu panggil Jono senyaman kamu saja sayang."kata bunda Airin.


"Memangnya aku gak papa panggil pakai nama?"kata Lydia yang gak enak.


"Gak papa lagi dek, kamu panggil senyamanmu saja"kata Shinta.


"Ayah bikinin kopi saja kamu mau apa Jon?"kata ayah Danny bertanya pada Jono.


"Aku kopi sama kayak ayah saja."kata Jono.


"Baiklah, tunggu sebentar kalau kayak gitu."kata Lydia sambil bangun untuk ke dapur membuatkan kopi untuk kedua pria itu. Saat Lydia sedang berada didapur terdengar ponselnya berbunyi.


Lydia mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Ryan membuat Lydia menerutkan keningnya tumben jam segini suaminya itu menghubunginya. Lydia mengangkat panggilan itu sambil menunggu air yang dia buat kopi mendidih.


[Hallo Asalamualikum kak...]


[Walaikumsalam, kamu ada dimana sayang?]


[Aku ada didapur ini bikin minuman untuk ayah dan Jono.]


[Mereka ada diapartemen tumben kok kamu gak kasih tau aku kalau mereka ada diapartemen?]

__ADS_1


[Tadi hanya bunda sama mbak Shinta yang datang kesini lalu saat aku bikin kue mbak Shinta menghubungi ayah sama Danny supaya mencicipi kue buatanku kalau menurut mereka berdua kue itu enak aku harus bantu bunda untuk bikin kue lusa dirumah bundakan ada arisan.]


[Oalah begitu, apa aku harus pulang?]


[Kakak memangnya gak ada kerjaan mau pulang?]


[Astaga aku sampai lupa gara-gara tau kalau mereka ada diapartemen, Sayang kamu masih lama gak buat kopinya?]


[Gak kok ini sudah mendidih airnya memangnya ada apa kak?]


[Habis menyerahkan kopi pada mereka kamu bisa masuk keruang kerjaku diatas meja ada map biru gak kalau ada kamu kasih tau aku biar Dayat mengambilnya pulang.]


[Baiklah, Apa gak sebiknya biar aku saja yang ngantar ke perusahaan kak.]


[Kamu ini lupa kalau dirumah ada bunda sama ayah.]


[Ya ampun aku lupa, aku matiin dulu panggilannya setelah aku menemukan map biru itu aku hubungi lagi.]


[Ketemu atau gak kamu hubungi aku secepatnya ya?]


[Iya, aku tutup ini.]


Lydia setelah berkata begitu menutup panggilan itu lalu membawa kopi yang dia buat. Setelah memberikannya pada ayah dan Jono Lydia pamit untuk keruangan Ryan sebentar untuk mencari sesuatu. Saat diruangan Ryan benar saja diatas meja ada berkas yang dicari oleh Ryan. Lydia buru-buru menghubungi suaminya tapi tak diangkat karena kesal Lydia memutuskan untuk menghubungi Dayat untung saja Dayat mengangkat panggilan itu kalau gak Lydia pasti akan uring-uringan.


[Hallo Asalamualikum nyonya...]


[Walaikumsalam, kamu dimana kak?]


[Ini saya sama tuan ada diperjalanan pulang keapartemen buat ambil berkas setelah itu langsung berangkat menemui klien.]


[Tapi kenapa kak Ryan gak mengangkat panggilan dariku?]


[Maaf nyah, tuan sedang tidur kayaknya kecapekan.]


[Baiklah, kalau kayak gitu aku tunggu dirumah nanti kalau sudah sampai bilang mau ambil keatas atau aku yang turun kebawah.]


[Baik nyah nanti aku tanya dulu sama tuan.]

__ADS_1


[Kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]


__ADS_2