
Lydia yang datang keperusahaan untuk membawakan bekal untuk Ryan terkejut saat melihat ada polisi yang menangkap orang-orang kepercayaan papanya. Lydia mendekati karyawan untuk menanyakan apa yang terjadi diperusahaan.
"Maaf ini ada apa ya?"kata Lydia.
"Itu mereka ternyata selama ini melakukan korupsi untung saja tuan Ryan tau kalau tidak mungkin perusahaan ini akan bangkrut/"kata karyawan.
"Oke makasih."kata Lydia.
Lydia setelah berkata begitu pergi darisana, karyawan yang diajak berbicara itu baru sadar jika Lydia yang dia ajak bicara menjadi diam sedangkan karyawan yang lain bukannya menenangkannya tapi malah menakut-nakuti membuat karyawan itu takut jika Lydia akan memecatnya karena ucapannya tadi. Lydia sendiri masuk kedalam lift untuk menuju ruangan suaminya, baru saja dia keluar dari lift dia melihat kalau temannya sedang fokus bekerja membuat Lydia punya ide untuk menjahili temannya itu. Lydia berjalan pelan sehingga Sandra tak sadar jika ada yang mendekatinya.
Dor....
Lydia tersenyum saat Sandra kaget dengan kelakuannya, Sandra mengelus dadanya lalu memandang tajam temannya itu. Walaupun Lydia atasannya tapi dia tak takut hanya Sandra saja yang bisa marah dan memperingtkan Lydia padahal yang lain gak ada yang berani.
"Kamu Ly, kalau aku jantungan bagaimana?"kata Sandra.
"Aku tau kamu gak punya penyakit jantung makanya aku berani ngagetin kamu."kata Lydia tersenyum.
"Kamu itu, mau ngapain kesini? Mau balik kerja lagi?"kata Sandra sambil tersenyum.
"Gak, aku hanya mau antarkan ini saja bekal buat suami tercinta dia ada disini gak?"kata Lydia.
"Panjang umur tu suamimu."kata Sandra sambil menunjuk kearah lift yang sedang terbuka.
Lydia memandang kearah lift ternyata benar itu suaminya dan Dayat yang baru datang, Lydia tersenyum saat Ryan memandang kearahnya. Ryan yang melihat Lydia berada disana juga ikut tersenyum dan rasa lelahnya karena masalah tadi hilang. Ryan menghampiri Lydia lalu Lydia mengangkat bekal yang dia bawa.
"Nih, makan siang buatmu kak."kata Lydia saat Ryan dan Dayat sudah berada didepannya.
"Ya sudah ayo makan diruanganku saja tapi kok bekalnya satu kamu memangnya gak makan?"kata Ryan.
"Aku hanya mau nganterin ini saja soalnya bunda mau datang kerumah."kata Lydia.
"Temani aku makan dulu baru pulang, kalau soal bunda biar aku bilang supaya dia masuk kedalam sendiri 'kan dia tau kata sandi kita. Yat, kamu makan sama Sandra saja gak papakan?"kata Ryan.
"Oke, ayo San kamu mau makan siang sama aku atau mau makan sendiri?"kata Dayat.
"Makan sama kamu saja biar ada temannya soalnya Rima makan siang sama Kevin."kata Sandra.
"Ya sudah hati-hati kalian. Kami berdua masuk dulu ya."kata Lydia.
Setelah berkata begitu Lydia mengajak Ryan masuk kedalam ruangannya. Sampai diruangannya pasangan itu duduk disofa tapi sebelum duduk Ryan mengambil laptopnya karena dia belum menyelesaikan pekerjaannya karena menyelesaikan masalah korupsi diperusahaan Lydia.
"Kok masih bawa laptop sih? Makan dulu baru nanti kerja lagi!"kata Lydia.
"Kamu siapin sayang biar aku bisa cepat selesaiin kerjanya karena tadi gak tersentuh sama sekali."kata Ryan.
"Memangnya tadi ngapain kok gak dikerjain?"kata Lydia.
"Tadi masih harus menyelesaiakan masalah diperusahaan ini agar gak berlarut-larut."kata Ryan.
"Nih makan."kata Lydia sambil menyuapi Ryan.
"Makasih sayang enak banget rasa makanan ini."kata Ryan.
"Bilang aja kalau mau dimasakin setiap hari? Tapi kalau nanti aku kembali kerja mungkin hanya pagi sama malam saja aku bisa masakin kamu kak?"kata Lydia.
"Gak papa asal masih dimasakin dan diurus sama kamu itu sudah buatku senang kok."kata Ryan.
"Dasar, memangnya benar ya apa kata orang kalau orang kepercayaan papa melakukan korupsi?"kata Lydia.
"Iya, padahal dia sudah tau kalau ada laporan gak bener gitu kok masih tanya?"kata Ryan.
"Eh tunggu aku hanya tau kalau laporan itu salah, aku pikir mereka hanya salah bikin laporan bukan korupsi."kata Lydia.
"Kamu ini ada-ada saja, tapi makasih karena kamu kerjaanku bisa terbantu."kata Ryan.
"Masak sih kalaupun aku gak liat kerjaan itu pasti kamu juga sadar kak, kamu 'kan lebih tau daripada aku."kata Lydia.
"Kamu itu selalu saja merendah, oh ya kamu punya pandangan gak siapa yang pantas dijadikan penganti mereka?"kata Ryan.
"Aku ikut kamu saja kak, soalnya kakak yang paling tau sifat orang kalau aku masih gampang tertipu."kata Lydia membuat Ryan menghela nafas.
Ryan tau jika Lydia memang gak ingin memikirkan masalah perusahaan makanya dia bilang begitu karena yang Ryan tau selama ini Lydia itu pandai mengenali sifat orang. Lydia juga selalu tepat dalam mengambil keputusan, saat Ryan melamun Lydia kesal karena makanan yang mau disuapin tak dimakan-makan sampai tangannya pegal.
"Kak..."kata Lydia membuat Ryan tersadar dari lamunannya.
"Ada apa sayang?"kata Ryan.
__ADS_1
"Ini masih mau disuapin gak tanganku sampai pegal kakak gak mau makan-makan."kata Lydia membuat Ryan tersenyum kecut.
"Maaf sayang, aku masih mau makan apalagi sambil disuapin kamu."kata Ryan.
"Gombal lagi gombal lagi bisa diabetes aku lama-lama digombalin sama kamu kak."kata Lydia sambil tetap menyuapi Ryan.
Lydia menyuapi Ryan dengan telaten karena Ryan menerima suapan itu sambil fokus dengan laptopnya. Ryan berjanji menyelesaikan pekerjaannya hari itu juga agar dia bisa mengantar Lydia ke Bogor besok. Kalau pekerjaan itu selesai hari ini besok dia bisa membawa pekerjaan itu diBogor. Lydia tersenyum saat Ryan sudah menghabiskan bekal yang dia makan, Lydia gak menyangka jika Ryan banyak makan soalnya kalau makan dirumah mertuanya suaminya itu makan sedikit.
"Sayang kok berhenti suapinnya?"kata Ryan yang menunggu suapan dari Lydia tapi tak disuapin oleh istrinya.
"Bekal yang aku bawa sudah habis memangnya kakak belum kenyang apa?"kata Lydia.
"Masak sih kamu tadi bawa bekal seberapa kok sudah kenyang?"kata Ryan.
"Kak tadi aku bawa nasinya penuh dikotak ini masak kamu masih lapar sih?"kata Lydia membuat Ryan terkejut.
"Kamu serius sayang? Waduh aku harus olahraga rutin ini kalau gak perutku buncit sayang."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Gak papa kalau perutmu buncit aku malah senang karena gak akan ada perempuan yang memandangmu lagi."kata Lydia.
Ryan yang mendengar perkataan Lydia menghentikan pekerjaannya lalu memandang kearah istrinya untuk mencari kebenaran apa yang diucapkan oleh istrinya itu.
"Sayang, kamu tadi bilang apa?"kata Ryan.
"Memangnya aku bilang apa kak?"kata Lydia yang pura-pura tak ingat padahal dia tau masuk yang ditanyakan oleh suaminya itu.
"Sayang, gak usah bercanda deh?"kata Ryan.
"Siapa yang bercanda seriusan memangnya tadi aku bilang apa?"kata Lydia.
"Ya sudah lupakan, kamu tadi kesini sama siapa sampai aku lupa tanya?"kata Ryan.
"Aku naik taksi, memangnya kakak ambilin mobilku yang ada dirumah mama?"kata Lydia.
"Nanti aku beliin mobil baru sekalian sama sopirnya aku gak akan biarin kamu nyetir sendirian."kata Ryan.
"Kenapa aku gak boleh nyetir mobil sendirian?"kata Lydia.
"Sekali gak boleh ya gak boleh, aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu. Kalau pakai sopirkan resikonya gak terlalu besar, kalau kamu capek pulang kerja nanti bisa istirahat gak perlu nyetir lagi sampai rumah."kata Ryan.
"Terserahmu kak, ya sudah kalau gitu aku pulang dulu kasian bunda sudah menunggu diapartemen."kata Lydia sambil membereskan kotak bekal.
"Bunda tadi mengantar mbak Shinta buat terapi, aku pulang dulu ya."kata Lydia.
"Tunggu Dayat kembali dulu, biar dia yang antar kamu pulang."kata Ryan.
"Gak usah aku naik taksi aja, biar Dayat istirahat kasian dia kalau direpotin terus."kata Lydia.
"Ya sudah tunggu sebentar biar aku pesenin taksi onilne dulu."kata Ryan.
"Gak usah sayang aku sudah memesan taksi online dan sekarang taksinya sudah dibawah."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku antar ke bawah."kata Ryan.
Ryan berjalan untuk menyimpan laptopnya ke meja kerjany karena dia ingin mengantar Lydia kebawah. Suami istri itu turun kebawah saat lift terbuka dan mereka berdua jalan berdampingan banyak pasang mata yang memandang kearah mereka. Mereka semua kagum dengan keduanya yang satu cantik dan yang satu tampan menurut mereka keduanya adalah pasangan serasi. Lydia masuk kedalam taksi setelah berpamitan pada Ryan, Ryan sendiri kembali keruangannya setelah taksi yang dinaiki istrinya tak terlihat lagi. Ryan kembali fokus dengan pekerjaannya dan Lydia saat sampai diapartemennya menuju unitnya ternyata mertuanya sudah ada didalam. Bunda Airin yang mendengar pintu apartemen dibuka berbalik badannya.
"Sayang,kamu sudah pulang? Maaf ya kalau bunda makan tanpa minta izinmu soalnya bunda lapar banget tadi gak sempet makan siang."kata bunda Airin sambil nyengir.
"Gak papa bun, lagian aku juga masak banyak. Bentar ya aku ganti baju bentar habis ini aku temani bunda makan soalnya aku juga belum makan."kata Lydia.
"Baiklah."kata bunda Airin.
Lydia meninggalkan mertuanya untuk berganti pakaian, selesai berganti pakaian Lydia keluar kamar untuk menghampiri mertuanya ternyata mertuanya sedang melakukan vc sama papa mertuanya. Lydia gak mau menganggu kedua mertuanya dia mengambil piring lalu duduk disamping bunda Airin. Bunda Airin yang melihat menantunya tersenyum.
"Ayah mau kesini tapi gak bisa."kata bunda Airin.
"Lah, kenapa gak bisa datang kesini bukannya ini masih jam istirahat bun?"kata Lydia.
"Biasalah papamu hanya istirahat sebentar untuk makan setelah itu kembali kerja lagi."kata bunda Airin.
"Ya sudah kalau ayah gak sibuk kapan-kapan kesini saja yah?"kata Lydia.
[Ayah mau kesana tapi kamu masakin makanan yang enak ya? Kata bunda masakanmu enak?]
"Iya tapi ayah kesini dulu kalau ayah mau makan apa biar Lydia yang masakin tapi kalau Lydia bisa ya yah? Soalnya Lydia baru belajar masak."kata Lydia.
"Baru belajar kok masakannya rasanya enak banget kayak gini,Ly?"kata bunda Airin.
__ADS_1
[Ayah makan apa saja asal itu masakan menantu, ya sudah kalian lanjut saja ayah mau kembali kerja dulu.]
[Iya yah, hati-hati kerjanya.]
Bunda Airin mematikan panggilan vc itu lalu kembali makan makanan yang ada dipiringnya.
"Ly, beneran kamu baru belajar masak?"kata bunda Airin.
"Iya bun, memangnya ada apa ya?"kata Lydia.
"Bunda gak yakin kalau kamu baru saja belajar masak soalnya masakan ini rasanya enak banget, Ly?"kata bunda Airin mengatakan pemikirannya.
"Aku baru beberapa kali masak kalau membantu orang masak sering saat masih satu rumah sama Widya diSurabaya."kata Lydia.
"Widya istrinya Hendru, Ly?"kata bunda Airin.
"Iya bun, saat istrinya Hendru pergi meninggalkannya dulu diSurabaya aku yang tinggal dengannya."kata Lydia.
"Walah, kalau gitu bunda duluan ya soalnya bunda sudah selesai makannya."kata bunda Airin.
"Iya bun, aku sebentar lagi juga sudah selesai."kata Lydia.
Bunda Airin membawa piring bekas makanannya untuk dia cuci setelah itu dia berjalan meninggalkan Lydia dimeja makan. Lydia sendiri menghabiskan makanannya dengan cepat setelah itu menyusul mertuanya keruang tamu ternyata bunda Airin sedang sibuk dengan ponselnya.
"Bun, serius banget liatin ponsel ada apa?"kata Lydia sambil duduk disamping bunda Airin.
"Ini loh Ly, bunda sedang baca wa teman arisan mereka sedang gosipin tentang Dahlia katanya Dahlia itu hanya bisa ngomong saja tapi nyatanya gak ada bukti."kata bunda Airin.
"Sudah biarkan saja bun, beliau sejak dulukan memang kayak gitu hingga sampai akhirnya gak dapat dua-duanya."kata Lydia membuat bunda Airin mengerutkan keningnya.
"Maksutmu bagaimana Ly? Bunda gak paham dengan perkataanmu ini."kata bunda Airin.
"Dulu saat aku masih kuliah dan menyamar jadi orang gak punya aku sempat pacaran dengan putranya tapi beliau gak setuju dan memfitnahku karena dia ingin Rima yang jadi pasangan putranya. Waktu itukan Rima masih belum sebaik sekarang, dulu apa yang dia inginkan selalu harus dia dapat tapi sejak om Sahrul menghukumnya lama-lama dia sadar dan memutuskan untuk tak mengejar Rayyan dan akhirnya bertemu dengan kak Kevin."kata Lydia.
"Jangan bilang yang mamamu bilang calon besan yang gak jadi itu Dahlia, Ly?"kata bunda Airin.
"Iya bun, setelah beliau tau kalau aku pewaris tungga perusahaan Emirat tante Dahlia mulai mendekati mama agar mama setuju kalau aku berhubungan dengan Rayyan."kata Lydia.
"Untung saja kamu gak memilih dia lagi, kalau kamu memilih putranya Dahlia itu bunda gak akan dapat menantu secantik dan sebaik kamu."kata bunda Airin.
"Bunda bisa saja lagian dari awal mama aku kenalkan sama kak Ryan dia sudah kesengseng sama dia."kata Lydia yang mengingat bagaimana gencarnya mamanya dulu mendekatkan Lydia dengan Ryan.
"Pantas saja mamamu langsung setuju saat kami melamarmu dulu, eh gara-gara Dahlia kita sampai lupa sama ini."kata bunda Airin sambil menyerahkan testpack sama Lydia.
"Tapi bun, aku takut kalau hasilnya buat kecewa."kata Lydia mengatakan kekhawatirannya.
"Gak papa sayang kalau masih belum berhasil 'kan masih bisa coba lagi."kata bunda Airin meyakinkan menantunya.
Lydia akhirnya menerima testpack itu lalu meninggalkan mertuanya untuk masuk kedalam kamar mandi. Lydia lama dikamar mandi membuat bunda Airin kekhawatir jika menantunya itu melakukan sesuatu yang berbahaya. Bunda Airin menyusul Lydia untuk masuk ke kamar anak dan menantunya itu.
Tok tok tok
"Ly, kamu gak papakan?"kata bunda Airin.
Lydia yang mendengar panggilan dari mertuanya keluar dari kamar mandi dengan muka kebingungan membuat bunda Airin khawatir.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sudah melihat hasil testnya?"kata bunda Airin.
"Aku sudah melakukan test tapi gak berani melihatnya bun, aku takut jika nanti malah kecewa dengan hasilnya."kata Lydia membuat bunda Airin tersenyum.
"Ya sudah kalau kayak gitu biar bunda yang liat, kamu tunggu bunda sambil duduk diranjang ya!"kata bunda Airin.
Lydia hanya menganggukan kepalanya setelah itu duduk ditepi ranjang sambil menunggu bunda Airin melihat hasil test kehamilannya. Bunda Airin yang masuk kedalam kamar mandi langsung saja mengambil testpack milik Lydia. Bunda Airin tersenyum senang karena perkiraanya benar jika menantunya itu hamil. Bunda Airin keluar kamar mandi sambil tersenyum lalu memeluk menantunya dengan erat membuat Lydia bingung dengan apa yang dilakukan oleh bunda Airin apa perkiraannya benar jika Lydia belum hamil hingga membuat bunda Airin kecewa.
"Selamat sayang."kata bunda Airin sambil melepasakan pelukannya dari Lydia.
"Maksut bunda selamat buat apa?"kata Lydia bingung.
"Kamu hamil sayang untuk memastikan besok kita periksa ke Rumah Sakit bagaimana?"kata bunda Airin.
"Kayaknya kalau besok gak bisa soalnya tadi kak Ryan bilang kalau besok mau mengajak aku untuk pergi ke Bogor."kata Lydia.
"Ke Bogor mau konsultasi dengan doktermu ya?"kata bunda Airin.
"Iya bun, biar nanti sekalian aku periksa kehamilanku tapi jangan bilang sama kak Ryan dulu aku mau beri dia kejutan. Sambil memastikan dulu kehamilanku ini baru aku akan bilang sama kak Ryan."kata Lydia.
"Siap bunda akan jaga rahasia ini, kamu gak mau kasih tau kabar ini sama orangtuamu?"kata bunda Airin.
__ADS_1
"Jangan dulu deh bun, soalnya kalau sampai mama tau pasti kak Ryan akan segera tau. Bundakan tau bagaimana mama paling gak bisa kalau disuruh jaga rahasia?"kata Lydia.
"Iya kamu benar ya sudah kalau gitu kamu bisa tanya bunda apa saja tentang kehamilan akan bunda jawab."kata bunda Airin.