
Bagas setelah berbicara dengan papa Hans tentang kecelakaan Rayyan langsung saja mohon pamit untuk pulang.
"Om, tan, Ray aku pulang dulu besok aku kesini lagi."kata Bagas.
"Iya makasih Gas, oh ya Gas nanti tante minta tolong sama kamu untuk pergi ke kantor polisi bisa gak? Tante ingin tau apakah yang menabrak Rayyan sudah tertangkap?"kata mama Dahlia.
"Iya tan, habis dari sini saya akan langsung pergi ke kantor polisi."kata Bagas.
Rima yang mendengar itu langsung saja khawatir, dia takut jika orang suruhannya tertangkap maka mereka semua akan tau jika dialah yang membuat Rayyan tertabrak dan pastinya orangtua Rayyan akan membencinya. Bagas yang melihat wajah Rima gelisah mulai curiga dengan tingkah Rima.
"Rim, kamu kenapa kok kayak gelisah gitu?"kata Bagas.
"Aku gak papa kok, aku khawatir saja kok orangtuaku belum datang kesini padahal mereka bilang mau kesini."kata Rima berbohong.
"Oh aku pikir ada apa, kalau gitu saya pamit pulang dulu semuanya."kata Bagas yang langsung keluar dari ruangan Rayyan tapi dia curiga dengan Rima. Semoga saja bukan Rima lagi yang bikin ulah batin Bagas yang langsung menuju parkiran untuk pulang.
"Ma, mama tau dimana ponselku gak?"kata Rayyan.
"Mau apa kamu mencari ponselmu?"kata mama Dahlia.
"Aku mau tau bagaimana keadaan Lydia ma."kata Rayyan.
"Buat apa kamu ngurusin perempuan itu."kata mama Dahlia.
"Ma, dia temanku."kata Rayyan.
"Teman, teman macam apa yang meninggalkanmu begitu saja setelah kamu ditangani dokter. Padahal kalau kamu gak nyelamati dia pasti dia yang akan berada disini."kata mama Dahlia berbohong padahal dia yang sudah mengusir Lydia.
"Ma, Lydia bukan perempuan kayak gitu."kata Rayyan yang gak percaya dengan omongan mamanya.
"Kalau kamu gak percaya tanya saja pada Rima, iya 'kan Rim?"kata mama Dahlia minta bantuan.
"Iya Van, tadi aku sama tante datang kesini Lydia sudah gak ada yang ada hanya Bagas saja."kata Rima.
"Kalian berdua tu sama saja gak ada yang bisa dipercaya."kata Rayyan membuat mereka berdua terdiam sedangkan papa Hans hanya menghera nafasnya.
Saat mereka sedang berdebat orangtua Rima datang,mama Dahlia dan Rima merasa lega karena kalau ada orangtua Rima pasti Rayyan tak akan medebat mereka berdua lagi.
"Maaf kalau kami baru bisa jenguk, papanya Rima baru saja pulang maklum pekerjaan dikantor banyak."kata Tina.
__ADS_1
"Gak papa kok jeng, aku malah yang harusnya minta maaf sudah ngerepotin kalian."kata mama Dahlia.
"Ah gak merepotkan, lagian Rayyankan sebentar lagi juga jadi anak kami. Iya gak pa?"kata Tina.
"Bagaimana keadaan kamu Van?"kata Sahrul yang lebih memilih tak mau menjawab perkataan istrinya itu. Sahrul tau jika Rayyan tak menyukai putrinya makanya Sahrul tak ingin memaksakan kehendak.
"Aku baik kok om, hanya kepala saja yang agak parah bagian lainnya baik-baik saja."kata Revan sopan.
"Makasih Rul kamu sudah mau menjenguk Revan, padahal kamu pasti capek."kata papa Hans.
"Gak papa kok, aku senang kalau lihat keadaan Revan sendiri daripada dengar cerita dari orang lain pasti ditambah-tambah."kata Sahrul.
"Iya kamu benar, bagaimana pekerjaan kamu?"kata papa Hans.
"Niatku mau pelan-pelan keluar dari perusahaan Emirat, aku mau buka usaha kecil-kecilan capek ikut orang terus."kata Sahrul.
"Wah aku gak nyangka kamu ada pikiran kayak gitu, padahal posisi kamu sudah enak lo disana."kata papa Hans yang gak nyangka jika Sahrul punya pemikiran untuk lepas dari perusahaan terbesar itu.
"Aku juga gak enak dengan Irwan selalu nyusahin dia dan istri dari dulu."kata Hans.
"Kamu hebat aku saja belum berani mau mulai buka bisnis sendiri."kata papa Hans.
Tina yang mendengar perkataan suaminya itu langsung kesal dalam hatinya, kalau sampai benar perkataan suaminya jika dia mau bikin usaha kecil-kecilan apa yang akan dikatakan oleh keluarga besarnya nanti. Mereka semua pasti akan menghinanya seperti dulu.
Nanti sampai rumah Tina akan berdebat dengan suaminya. Tina tak mau dipandang rendah oleh keluarga besarnya.Rima juga kesal dengan keputusan papanya itu, pasti setelah ini akan banyak orang yang akan menjauhinya.
"Oh ya jeng, mumpung kita disini bagaimana kalau kita bicarakan tentang pertunangan anak-anak."kata mama Dahlia yang gak sabar menjadikan Rima menantunya.
"Ma, aku mau fokus magang dulu."kata Rayyan menolak secara halus pertunangan itu.
"Ini hanya tunangan Van apa salahnya sih? Lagian juga gak akan ganggu sama magang kamu."kata mama Dahlia kekeh dengan pendiriannya.
"Tapi ma...."kata Rayyan.
"Gak ada tapi tapi,apa kamu mau langsung menikah dengan Rima?"kata mama Dahlia yang langsung membuat Rayyan terdiam. Buat bertunangan saja Rayyan gak mau apalagi harus nikah.
"Kita tunang saja dulu."kata Rayyan akhirnya membuat mama Dahlia senang. Apalagi Rima karena selangkah lagi dia akan mendapatkan Rayyan.
"Bagaimana jeng kamu punya usul gak kapan kita akan mengadakan acara pertunangan?"kata mama Dahlia.
__ADS_1
"Aku sih ikut saja jeng."kata Tina.
"Bagaimana kalau 2 minggu lagi, pas Rayyan juga sudah sembuh?"kata mama Dahlia.
"Aku ikut jeng."kata Tina yang senang karena putrinya bisa menikah dengan Rayyan apalagi dia akan menjadi seorang dokter pasti hidup putrinya akan terjamin.
Para perempuan itu sibuk dengan acara pertunangan beda lagi dengan para pria mereka lebih suka membahas tentang pekerjaan. Mereka benar-benar menyerahkan semuanya pada istri-istri mereka.
Dirumah sakit kedua keluarga sedang membicarakan tentang pertunangan beda lagi dengan Lydia dan Ita yang mau pulang dari mall. Mereka kesal karena bus yang mereka tunggu-tunggu tak kunjung datang.
"Ly, busnya mana sih? Tanganku sudah pegel tau bawa barang sebanyak ini."kata Ita kesal karena bus yang mau mereka naiki tak kunjung datang.
"Aku juga gak tau, sebentar aku liat jadwalnya dulu."kata Lydia yang langsung mengambil ponselnya.
Saat melihat ponselnya Lydia langsung menghera nafas,Ita yang melihat langsung saja mendekati sahabatnya itu untuk mencari tau apa yang terjadi.
"Ada apa Ly?"kata Ita.
"Kayaknya kita harus mengeluarkan uang lebih buat naik taksi."kata Lydia.
"Nih kamu baca sendiri."kata Lydia sambil menyerahkan ponselnya pada Ita.
Ita langsung menerima dan membaca artikel yang dibaca oleh Lydia tadi. Ita langsung menghera nafasnya. Saat mereka sedang bingung mencari taksi ada satu buah mobil yang berhenti didepan mereka. Mereka berdua langsung saling pandang karena mereka tak tau siapa yang ada didalam mobil itu.
"Ayo aku antar pulang."kata Aziz sambil membuka kaca mobilnya.
"Kak aku pikir siapa tadi, dasar orang kaya mobilnya ganti-ganti terus."kata Lydia.
"Ini bukan mobilku, mobilku ada dibengkel ini mobil milik temanku. Ayo aku antar kalian pulang."kata Aziz.
"Memangnya kakak gak kerja apa?"kata Lydia.
"Ini sudah jam pulang kerja jadi aku bebas nganterin kalian."kata Aziz.
"Ya sudah kalau kayak gitu, Ta kamu duduk didepan."kata Lydia yang mencoba untuk mendekatkan Ita dan Aziz.
"Kamu saja Ly, aku capek banget mau tidur dibelakang lumayankan mumpung naik mobil mewah. Bolehkan kak aku tidur dimobil?"kata Ita.
"Boleh Ta, kamu saya yang duduk didepan kalau Ita gak mau."kata Aziz.
__ADS_1
Akhirnya Lydia mengalah duduk didepan sedangkan Ita merasa lega karena tak duduk disamping Aziz. Dia gak siap jika harus berdekatan dengan Aziz.