
Ryan mengendong Lydia keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang khawatir. Ryan menurunkan Lydia pelan-pelan diranjang terlihat sekali kalau Lydia wajahnya semakin bertambah pucat membuat Ryan semakin khawatir.
"Kak, kakak berangkat saja sekarang nanti telat lagi aku gak papa kok besok juga sembuh sendiri."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.
"Aku besok saja pulang bareng sama kamu, kamu butuh obat gak atau apa gitu kalau gak mau keRumah Sakit?"kata Ryan.
"Kak rugi dong kalau kakak gak jadi berangkat?"kata Lydia.
"Kehilangan uang gak ada masalah buatku tapi kamu sehat itu yang lebih penting."kata Ryan.
"Tapi aku yang masalah, kalau kayak gitu ayo kita berangkat saja sekarang. Sayang uangnya kak."kata Lydia.
"Aku sudah bilangkan uang masih bisa dicari kalau kamu hilang kemana aku harus cari?"kata Ryan.
"Kamu ada-ada saja, ayo siap-siap kita kebandara sekarang."kata Lydia.
"Bagaimana perutmu apa sudah sembuh? Mukamu masih terlihat pucet gitu."kata Ryan.
"Belum, tapi ayo kita berangkat sekarang nanti perutku sembuh sendiri."kata Lydia.
"Gak besok saja kembali ke Jakartanya sekarang kita istirahat saja disini."kata Ryan.
"Bagaimana kak Hendru bukannya kakak sudah berjanji untuk pulang malam ini?"kata Lydia.
"Nanti aku bilang sama Hendru kalau gak bisa pulang hari ini."kata Ryan.
"Tapi..."kata Lydia sambil meremas perutnya karena perutnya sakit lagi.
"Ly kamu gak papa?"kata Ryan yang khawatir lagi.
"Aku gak papa, kak aku bisa minta tolong gak?"kata Lydia.
"Katakan kamu mau minta tolong apa?"kata Ryan.
"Tolong ambilin aku air hanget buat minum boleh?"kata Lydia.
"Ya sudah sebentar, kamu gak mau apa-apa lagi gitu?"kata Ryan.
"Sudah gak ada itu saja."kata Lydia.
Ryan berjalan keluar dari kamarnya untuk mengambilkan air hangat buat Lydia. Saat dia turun ternyata bibi masih ada disana Ryan menghampiri bibinya untuk bertanya apa ada obat untuk sakit perutnya Lydia.
"Bi..."kata Ryan.
"Iya den ada apa?"kata bibi.
__ADS_1
"Bi, aku mau tanya apa ada obat buat sakit perut?"kata Ryan.
"Memangnya siapa yang sakit perut den?"kata bibi.
"Lydia bi, katanya dia setiap bulan sekali selalu sakit perut. Tadi dia minta air hangat saja tapi aku gak tega liat wajah pucatnya bi."kata Ryan.
"Sebentar den bibi ambilin kompres buat perut nona nanti biar reda sedikit sakitnya."kata bibi sambil berjalan mengambil alat kompres setelah itu memberikannya pada Ryan.
"Ini saja bi."kata Ryan.
"Iya den, kalau nanti minum obat takutnya kebiasaan kalau nona sedang datang tamu bulanannya."kata bibi.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku naik keatas lagi bi."kata Ryan.
"Ini makan malamnya bagaimna den?"kata bibi.
"Simpan saja bi, nanti kalau Lydia mau makan biar aku panasin sendiri. Bibi ada kunci cadangan rumah inikan?"kata Ryan.
"Ada den kemarin nona memberikannya pada bibi."kata bibi.
"Ya sudah bi, aku keatas."kata Ryan.
Ryan naik keatas meninggalkan bibi yang sedang membereskan meja makan untuk menyimpan makan malam. Saat Ryan masuk kedalam kamar Ryan berjalan cepat menghampiri Lydia yang sedang meringkuk diranjang. Ryan naik keatas ranjang dan begitu melihat Lydia menangis membuat hatinya nyeri dan merasa bersalah karena tadi dia sempat mendiamkan istrinya itu.
"Lama sekali sih kak?"kata Lydia dengan suara serak karena habis menangis.
"Maaf, tadi aku bicara sama bibi dulu. Nih minum habis ini perutnya dikasih ini agar nanti enakan."kata Ryan sambil menunjukan kompres yang dia bawa.
"Kakak tau darimana alat kompres itu?"kata Lydia.
"Tadi tanya sama si bibi, kamu mau makan atau istirahat dulu?"kata Ryan.
"Aku mau tidur bentar boleh? Kakak kalau lapar makan duluan saja."kata Lydia.
"Aku tunggu kamu, sekarang istirahat gih."kata Ryan.
"Kalau aku tidur gak bangun bagaimana?"kata Lydia.
"Nanti kalau aku lapar aku makan sendiri, sudah tidur aku mau hubungi Hendru dulu."kata Ryan sambil mengecup kening Lydia yang kembali berbaring dan tak lupa Ryan menempelkan kompres ke perut Lydia.
Ryan berjalan menjauh untuk menghubungi Hendru mengabarkan kalau dia tak jadi pulang ke Jakarta hari ini. Setelah menghubungi Hendru, Ryan kembali ke masuk ke kamarnya dia mau mengambil laptopnya untuk memeriksa berkas yang dikirim oleh Anton yang belum sempat dia baca. Tapi Ryan mengurungkan niatnya karena melihat Lydia yang gelisah. Ryan mengambil laptopnya lalu berjalan ke ranjang meletakkan laptopnya dimeja setelah itu dia berbaring dan tangannya memeluk istrinya. Lydia yang merasa ada tangan memeluknya membuka matanya karena Ryan gak hanya memeluknya tapi juga mengelus perutnya membuat Lydia nyaman.
"Tidurlah."kata Ryan.
Lydia yang perutnya merasa nyaman akhirnya tertidur juga saat Lydia tertidur Ryan pelan-pelan melepaskan pelukannya. Ryan mengambil laptopnya lalu membuka email dari kak Anton. Saat dia sedang mempelajari berkas itu ponselnya berbunyi membuat Ryan terkejut dan memandang kearah Lydia takut istrinya itu bangun ternyata Lydia tak bangun sama sekali. Ryan mengecup kening Lydia setelah itu berjalan keluar menuju balkon, Saat Ryan pergi Lydia membuka matanya sebenarnya Lydia sudah bangun saat Ryan tadi melepas pelukannya tapi dia pura-pura tidur. Lydia penasaran siapa yang menghubungi Ryan akhirnya bangun dari ranjang dan berjalan pelan-pelan agar Ryan tak tau kalau Lydia mengintip.
__ADS_1
[Ada apa menghubungiku?]
[Yan, aku mau bicara sama kamu.]
[Bisa bicara lewat panggilankan?]
[Gak bisa Yan, aku mu bicara tentang kita.]
[Memangnya ada apa dengan kita?]
[Yan, aku ingin kembali sama kamu lagi.]
[Maaf sejak kamu tinggalkanku 8tahun yang lalu perasaanku sudah gak ada lagi untuk.]
Ryan setelah mengatakan seperti itu langsung saja mematikan panggilan itu setelah itu dia menghera nafasnya. Lydia mendengar perkataan Ryan terakhir membuat dia penasaran siapa yang menghubungi Ryan malam-malam begini. Saat Lydia mau kembali ke ranjang tak sengaja Lydia menyenggor kursi membuat Ryn terkejut. Lydia langsung berlari kembali ke kamar agar tak diketahui oleh Ryan kalau dia mengintip. Ryan yang penasaran saat mendengar suara itu langsung masuk ke kamar tapi dia melihat istrinya tertidur diranjang.
Ryan tersenyum karena posisi istrinya berubah yang menandaka tadi istrinya mendengar dia bertelponan. Ryan berjalan menuju ranjang setelah itu berbaring disamping Lydia. Dia pura-pura gak tau dia memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaannya. Saat Ryan sedang fokus dengn laptopnya Lydia membalikkan badannya lalu memeluk perut Ryan membuat Ryan terkejut tumben istrinya ini mau memeluknya.
"Ada apa?"kata Ryan membuat Lydia mendongahkan wajahnya.
"Aku lapar."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Ya sudah aku ambilin makanan dibawa dulu."kata Ryan.
"Aku mau sate ayam diujung jalan."kata Lydia.
"Ya sudah aku belikan dulu."kata Ryan.
"Aku mau ikut kita makan disana."kata Lydia.
"Perutmu sudah sembuh?"kata Ryan.
"Sudah mendingan."kata Lydia.
"Ya sudah ganti baju sana kita beli sekarang."kata Ryan.
"Aku malas ganti baju."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.
"Baiklah pakai itu saja tapi ambil jaket ya diluar dingin."kata Ryan.
"Kita jalan kaki ya?"kata Lydia.
"Naik mobil saja kamukan baru sembuh."kata Ryan.
"Biar aku sehat dan kamu gak mikirin kerja terus."kata Lydia sambil memasamkan mukanya tapi membuat Ryan mengerutkan keningnya.
__ADS_1