Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan bersama dengan Lydia


__ADS_3

Ryan dengan perasaan dongkolnya mengangkat panggilan dari Anton.


[Hallo kak, ada apa pagi-pagi begini menghubungiku?]


[Kamu ada dimana Yan, Shinta baru saja kecelakan dan sekarang ada diRumah Sakit?]


[Apa kak Shinta kecelakaan lalu bagaimana keadaannyya sekarang? Aku ada diBogor sekarang menemani Lydia.]


[Shinta mencari kamu terus Yan, aku bingung harus gimana? Tadi saat dia mau ke warung sama temannya ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang.]


[Maaf kak, untuk saat ini aku gak bisa meninggalkan Lydia disini sendirian. Lagian disana mbak Shinta sudah ada kalian semua sedangkan disini tak ada siapapun yang menemani Lydia.]


[Tapi apa kamu gak bisa meninggalkan Lydia atau kamu bawa Lydia kembali kesini saja,Yan?]


[Maaf kak, aku gak mau buat istriku terluka lagi, selama ini aku lebih mementingkan yang lain sampai-sampai aku mengabaikan istriku. Kakak bilang saja sama mbak Shinta kalau aku gak bisa datang atau bilang sama bunda karena bunda pasti bisa membujuk mbak Shinta.]


[Ya sudah biar aku hubungi bunda saja. Tapi Yan, aku merasa kecelakaan yang terjadi sama Shinta ini sudahh direncanakan soalnya yang aku dengar dari temannya Shinta jika perkampungan itu tak ada warga yang memiliki mobil]


[Kakak selidiki aku yakin kakak sama Jono bisa melakukannya kalau gak bisa nanti minta tolong sama Dayat saja.]


[Ya sudah kalau kayak gitu nanti aku akan menghubungi Dayat.]


[Ya sudah aku tunggu kabar darimu sekarang aku tutup dulu panggilannya, Lydia pasti menungguku untuk sarapan.]


Ryan mengacak rambutnya setelah mengakhiri panggilan dari Anton. Ryan meletakkan ponselnya dimeja setelah itu berjalan masuk ke kamar mandi untuk mandi. Saat dia selesai mandi dan keluar dari kamarnya terlihat Lydia sedang bercanda tawa dengan bu Narti. Ryan yang melihat senyuman Lydia membuat Ryan berjanji tak akan membuat senyuam istrinya itu hilang dari bibirnya. Ryan menghampiri istri dan bu Narti karena dia ingin tau apa yang dibicarakan oleh kedua perempuan itu.


"Sedang membicarakan apasih kok serius banget?"kata Ryan saat sudah berada dibelakang kedua perempuan itu membuat perempuan itu memandang kearah Ryan.


"Mau tau saja ini urusan perempuan, kakak kok lama sekali sih? Apa ada masalah diJakarta makanya kak Anton menghubungimu kak?"kata Lydia.


"Kebiasaan kalau tanya itu satu-satu bisa gak?"kata Ryan sambil mencubit hidung Lydia.


"Ish suka sekali nyubit hidungku kalau nanti hidungku habis bagaimana?"kata Lydia.


"Mana bisa habis palingan hidung ini akan mancung."kata Ryan.


"Emangnya aku anak kecil, sudah jawab pertanyaanku tadi?"kata Lydia.


"Tadi kak Anton menghubungiku, dia minta supaya aku kembali ke Jakarta karena mbak Shinta kecelakaan dan dia terus menerus mencariku."kata Ryan sambil menghela nafas.


"Kalau kakak mau kembali ke Jakarta aku gak papa kok biar aku disini saja sama bu Narti."kata Lydia sambil tersenyum.


"Disana sudah ada banyak orang yang menungguinya, aku ingin menghabiskan waktu dengan istri tercintaku syukur-syukur kalau kita dikasih kepercayaan untuk memiliki momongan."kata Ryan membuat Lydia terdiam sedangkan bu Narti hanya tersenyum.


"Sudah ayo makan aku sudah lapar ini."kata Lydia yang mau membahas soal kehamilan.


"Ya sudah yo,bu."kata Ryan mengajak bu Narti ikut makan bersama mereka.


Sarapan itu mereka lewati dengan canda tawa dan lagi Ryan memang sengaja mesilentkan ponselnya agar tak ada yang menganggunya walaupun ada yang menghubunginya dia tak tau. Hari ini memang sengaja dia habiskan seharian bersama istrinya. Selesai makan Ryan duduk diruang keluarga sedangkan Lydia membantu bu Narti untuk membersihkan alat yang mereka gunakan untuk makan. Setelah selesai bu Narti mohon pamit untuk pulang nanti siang dia akan kembali kesana untuk menyiapkan makan siang sedangkan Lydia meletakkan jajanan pasar yang dia beli tadi ke dalam piring setelah itu membawanya ke Ryan dengan kopi untuk Ryan nikmati. Ryan yang melihat istrinya membawakan kopi untuknya mengerutkan keningnya karena Lydia tumben membuatkan dia kopi padahal dari kemarin istrinya itu melarangnya minum kopi.

__ADS_1


"Kenapa melihatku kayak gitu kak?"kata Lydia bingung.


"Tumben kamu membuatkan aku kopi bukankah biasanya kamu melarangku untuk minum kopi?"kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


"Itu sebagai rasa terimakasihku karena kakak sudah mau datang kesini dan menyisihkan waktu buatku."kata Lydia sambil tersenyum sedangkan Ryan malah semakin merasa bersalah saat mendengar perkataan istrinya itu.


"Maafin aku ya kalau sejak kita menikah aku jarang punya waktu sama kamu, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan keluargaku."kata Ryan.


"Gak papa kok, tapi kak aku masih merasa gak enak sama mbak Shinta."kata Lydia sambil menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya itu.


"Gak enak kenapa? Hmmm."kata Ryan sambil mengelus rambut istrinya itu.


"Aku tau kalau kamu dekat sekali dengan mbak Shinta kalau ada apa-apa sama dia kamu orang yang pertama ada disisinya tapi kali ini kamu gak ada disisinya pasti dia sangat sedih kak."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Mbak Shinta sekarang sudah menikah seharusnya dia bercerita semua masalahnya pada suaminya bukan padaku. Takutnya jika nanti Jono salahpahamkan bisa terjadi sesuatu yang gak dinginkan dalam rumah tangga mereka."kata Ryan.


"Iya juga sih, oh ya kamu belum cerita jam berapa tadi sampai disini?"kata Lydia.


"Mungkin jam 2/3an aku gak terlalu melihat jam."kata Ryan.


"Kenapa gak masuk dalam saja?"kata Lydia.


"Aku gak mau ganggu tidurmu sayang."kata Ryan.


"Ya sudah, seharian ini kita jalan-jalan yuk aku bosan dirumah, apalagi besok aku harus terapi pasti lama selesainya dan besok aku juga mau ajak kamu buat memeriksa sesuatu."kata Lydia membuat Ryan mengerutkan keningnya.


"Ada deh kalau aku kasih tau namanya bukan kejutan dong, mau ya hari ini jalan-jalan?"kata Lydia.


"Kita keluar nanti sore saja ya sekalian makan malam diluar. Siang ini aku mau habiskan waktuku bersamamu dirumah."kata Ryan.


"Baiklah kalau kayak gitu, tapi ngapain dirumah saja bosan kak kalau diam saja?"kata Lydia.


"Aku tau caranya agar kita gak bosan dirumah."kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya.


"Memangnya mau melakukan apa kalau aku boleh tau?"kata Lydia.


"Main sesuatu yang menguras tenaga dan membuat kamu puas sayang."kata Ryan yang akhirnya membuat Lydia mengerti apa yang mau dilakukan oleh Ryan.


"Gak aku gak mau, memangnya kamu gak capek apa?"kata Lydia kesal.


"Kalau melakukan itu gak akan capek tapi malah menambah semangatku sayang. Mau ya kita lakukan sekali saja aku kangen sama kamu?"kata Ryan dengan nada memerasnya.


Lydia yang melihat wajah memeras suaminya menjadi tak tega apalagi saat mengingat jika suaminya sudah melakukan perjalanan jauh. Hingga akhirnya membuat Lydia menganggukan kepalanya, Ryan yang mendapatkan anggukan dari Lydia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ryan menggendong istrinya itu menuju kamarnya dan disaat itulah mereka mencurahkan kerinduan yang mereka pendam. Ryan janji hanya sekali tapi setelah 3ronde baru dia berhenti saat melihat istrinya sudah kelelahan.


"Makasih sayang."kata Ryan sambil mencium kening istrinya.


"Jahat banget katanya hanya sekali tadi tapi ini sampai 3kali aku capek tau gak."kata Lydia sambil memeluk Ryan erat membuat Ryan tersenyum dengan tingkah Lydia yang manja.


"Maaf sayang soalnya kamu nikmat jadi aku ketagihan untuk melakukan itu terus menerus."kata Ryan yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.

__ADS_1


"Emangnya aku makanan apa nikmat?"kata Lydia.


"Memang kamu makanan buatku setiap kali aku melihatmu selalu ingin memakanmu."kata Ryan membuat pipi Lydia bersemu merah.


"Nyebelin banget, ya ampun terus kopi kakak bagaimana pasti sudah dingin diluar?"kata Lydia yang teringat dengan kopi suaminya.


"Biarkan saja sekarang istirahat dulu nanti kopinya bisa dipanaskan lagi."kata Ryan sambil memeluk Lydia lebih erat.


Sepasang suami istri itu tidur sambil berpelukan berbeda dengan Jono yang berada diJakarta, dia bingung harus bagaimana lagi membujuk istrinya supaya tak mencari Ryan terus. Bunda Airin akhirnya datang mengunjungi putrinya diRumah Sakit membuat Jono dan Anton bernafas lega.


"Syukurlah bunda sama ayah datang."kata Anton.


"Memangnya ada apa?"kata ayah Danny.


"Biasalah putri ayah kalau sakit selalu mencari Ryan."kata Anton membuat bunda Airin menghela nafasnya.


"Lalu bagaimana dengan Ryan apa dia datang?"kata ayah Danny.


"Ryan gak bisa kami hubungi Yah."kata Jono.


"Anak itu sudah tau kakaknya sakit malah gak bisa dihubungi awas saja kalau nanti ayah ketemu."kata ayah Danny.


"Ryan ada diBogor menemani Lydia berobat, memangnya salah kalau Ryan lebih perduli sama istrinya? Yah, Shinta sudah menikah seharusnya pelan-pelan dia menghilangkan ketergantungannya pada Ryan. Shinta harus mulai belajar terbuka dengan suaminya dan kalau ada masalah dibicarakan berdua karena Jono suami Shinta bukan Ryan."kata bunda Airin yang diangguki oleh Anton sedangkan ayah Danny hanya terdiam karena perkataan istrinya itu benar adanya.


"Kapan Ryan berangkat ke Bogor?"kata ayah Danny akhirnya.


"Setelah dia menyelesaikan pekerjaan diperusahaanku yah."kata Jono membuat ayah Danny terkejut.


"Kenapa Ryan yang menyelesaikan pekerjaan diperusahaanmu bukan kamu sendiri yang menyelesaikannya?"kata ayah Danny.


"Aku meminta tolong pada Ryan untuk menyelesaikan permasalahan diperusahaanku karena aku harus menyusul Shinta berobat."kata Jono.


"Lalu siapa yang mengantar Lydia ke Bogor?"kata ayah Danny yang sebenarnya kesal dengan menantunya karena membiarkan menantunya yang lain pergi sendirian apalagi dengan keadaan Lydia yang punya trauma.


"Aziz yang mengantarkannya yah, makanya Ryan menyusul Lydia setelah selesai dengan pekerjaannya. Sekarang apa salah jika dia egois sekali saja agar dia bisa bersama istrinya?"kata bunda Airin.


"Aku kecewa sama kamu, Jon."kata ayah Danny.


"Sudah yah gak usah bicarakan masalah ini dulu, kita masuk saja kedalam untuk melihat bagaimana keadaan Shinta."kata bunda Airin.


Mereka semua masuk kedalam kamar rawat Shinta dan melihat putrinya itu sedang kesal karena adiknya gak datang untuk menjenguknya.


"Sayang..."kata bunda Airin.


"Bunda, akhirnya bunda sama ayah datang. Ryan mana bun?"kata Shinta.


"Ryan ada diBogor untuk menyusul Lydia."kata bunda Airin.


"Aku nyusahin mereka ya,bun?"kata Shinta yang sadar jika Ryan sekarang sudah ada Lydia yang harus dijaga oleh adiknya.

__ADS_1


__ADS_2