
Pagi harinya keadaan kampus benar-benar ricuh karena ada berita di web kalau banyak dari jajaran anggota direksi melakukan korupsi dan ada juga para mahasiswa yang telah menyuap para dosen agar bisa tetap lolos seleksi.
Lydia yang baru saja datang langsung saja bingung, ada apa kok pagi-pagi sudah rame. Lydia yang melihat Jono langsung menghampirinya. Dia pikir kalau itu adalah berita tentangnya tapi ternyata dugaannya salah.
"Jon, ada apa?"kata Lydia.
"Kamu buka web kampus dan liat berita yang sedang viral."kata Jono.
Lydia langsung mengambil ponselnya untuk melihat berita apa yang sedang jadi bahan omongan. Lydia langsung terkejut saat melihat berita korupsi yang dilakukan dewan kampus.
"Gila ini mah, tapi siapa yang berani menyebarkan berita kayak ginian?"kata Rani.
"Aku juga gak tau, tapi aku yakin jika orang ini pasti sangat pemberani karena dia akan dicari oleh banyak orang."kata Jono.
"Tapi yang aku dengar itu perbuatan kakak senior kita."kata Roni yang baru datang.
"Siapa?"kata Sandra yang juga penasaran.
"Tu."kata Roni sambil melihat ke arah Rima dan teman-temanya.
"Kamu yakin mereka yang melakukannya?"kata Sandra gak percaya.
"Nih liat kalau gak percaya disana juga dijelaskan tentang siapa yang telah menyebarkan berita itu."kata Roni.
"Apa dia gak takut jika dia dicari banyak orang?"kata Jono.
"Maksut kalian dicari banyak orang gimana aku gak ngerti?"kata Lydia.
"Ly dengan menyebar perbuatan ilegal kayak gini, pasti akan ada banyak orang yang akan mencarinya untuk membalas dendam karena aku yakin dewan kampus sekarang sedang dalam kekacauan dan kemungkinan besar akan terjadi perombakan besar-besaran."kata Jono.
"Jon, kamu kok tau banyak tentang semua ini?"tanya Sandra.
"Ya jelas dia tau papanya 'kan seorang pengusaha."kata Roni.
"Kamu apaan sih, gak usah bahas tentang keluragaku."kata Jono.
Saat Rima dan kedua temannya datang ke kampus ingin melihat keramaian yang terjadi, malah mereka yang diperhatikan daritadi. Membuat mereka bertiga bertanya-tanya apa yang terjadi dengan mereka semua.
"Kalian ngapain liat-liat?"kata Tiara.
"Gak papa, kami gak menyangka saja kalian berani mengungkap penggelapan yang dilakukan oleh para dewan kampus."kata salah satu mahasiswa yang mereka tanya itu.
"Apa maksut kalian?"kata Rima tak mengerti.
"Kamu buka saja web kampus nanti juga mengerti."kata mahasiswa lainnya.
__ADS_1
Mereka langsung mengambil ponselnya dan melihat apa yag sebenarnya terjadi. Mereka bertiga langsung terkejut karena berita yang rame itu bukan tentang foto-foto Lydia tapi itu ternyata tentang data-data dewan kampus yang sudah mengelapkan uang. Apalagi dibawah itu terpampang jelas nama Rima, Rima sendiri juga gak menyangka kenapa bisa berubah jadi seperti ini.
"Rim. kamu dipanggil ke ruang rektor."kata salah satu mahasiswa yang disuruh pak Budi untuk mencari Rima.
"Ada apa dia memangilku?"kata Rima.
"Mana aku tau."kata mahasiswa itu.
Rima langsung saja berjalan menuju ruang rektor, sampai didepan ruangan rektor dia langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Masuk."kata pak Budi.
"Ada apa bapak mencari saya?" kata Rima dengan nada sombongnya.
"Aku mau tanya apa kamu yang mengupload tentang pengelapan yang dilakukan oleh salah satu dewan direksi?"kata pak Budi.
"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa? Lagian bukan seharusnya kalian bersyukur ya karena aku sudah membuka kedok mereka."kata Rima dengan sombongnya.
"Beneran kamu yang menyebarkan tentang ini?"kata pak Budi.
"Iya pak, sekarang bapak mau apa?"kata Rima menantang.
"Apa kamu tau akibat dari apa yang sudah kamu lakukan ini?"kata pak Budi.
Tanpa Rima sadari jika perbuatannya itu akan membuat masalah buatnya dan keluaganya karena telah menyinggung banyak orang. Mereka pasti tak membiarkan Rima hidup tenang dan akan membalas perbuatan Rima.
"Terserah kamu lah Rim yang terpenting saya sudah mengingatkan jika terjadi sesuatu kami tak akan ikut campur."kata pak Budi.
"Emang apa yang akan mereka lakukan."kata Rima.
"Saya tidak tau yang terpenting saya sudah mengingatkan."kata pak Budi.
"Tidak ada yang berani menganggu saya, bapak 'kan tau siapa saya."kata Rima dengan nada sambungnya.
"Ya sudah, kamu bisa pergi."kata pak Budi.
Rima keluar dari ruangan rektor dengan kesal, Dia langsung menghubungi orang suruhannya untuk menanyakan kenapa bisa bukan foto-foto Lydia dan pria paruhbaya tapi malah data-data korupsi para anggota dewan kampus.
[Hallo ada apa?]
[Kamu gimana sih bukannya mengupload foto-foto Lydia malah yang kamu upload adalah tentang korupsi yang dilakukan oleh salah satu dewan direksi kampus.]
[Apa yang kamu maksut bukannya semalam aku upload foto-foto tentang Lydia dan pria itu?"kata orang suruhan Rima.
__ADS_1
"Coba saja kamu lihat sendiri kalau gak percaya."kata Rima.
Orang suruhannya itu langsung membuka laptop untuk melihat apa benar yang dikatakan oleh Rima. Ternayat memang benar apa yang dikatakan oleh Rima. Dia yakin kalau dibelakang perempuan yang dia buntuti kemarin adalah orang-orang yang berkuasa.
[Gimana?]
[Maaf ini terakhir kali aku membantumu setelah ini aku tak mau membantu lagi.]
[Kenapa bukannya aku sudah membayar lebih?]
[Aku gak mau jadi amukan orang yang sudah kamu singgung.]
[Apa maksut kamu?]
[Aku yakin perempuan yang mau kamu singgung ini pasti memiliki latar belakang yang luar biasa.]
[Gak mungkinlah dia hanya seorang gadis miskin.]
Rima langsung mematikan panggilannya karena dia kesal dengan orang suruhannya itu. Tanpa dia sadari jika ada seseorang yang mendengar pembicaraannya. Lydia tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Rima tadi membuat dia bingung siapa yang sudah menghapus foto-foto itu dan menggantikan dengan data para dewan direksi. Tapi setelah lelah berpikir dan tak menemukan jawaban Lydia memutuskan untuk masa bodoh.
Rima kembali ketempat kedua temannya. Keduanya bingung karena mereka berdua cemas sedangkan Rima malah berjalan menghampiri mereka dengan senyuman dibibirnya.
"Rim kamu gak diapa-apainkan sama pak Budi?"kata Sisil.
"Emangnya dia bisa apa?"kata Rima.
"Maksut kamu apa?"kata Tiara yang juga bingung dengan perkataan Rima.
"Kalian tu ya selama keluarga Emirat masih berada dipihakku maka tak akan terjadi sesuatu padaku."kata Rima percaya diri.
Sedangkan diperusahaan Emirat grup, papa Irwan yang mendengar apa yang terjadi dikampus langsung saja geram. Papa Irwan tak mengerti apa yang dipikirkan oleh putri Sahrul itu. Papa Irwan langsung memanggil Sahrul agar segera datang keruangannya.
"Ada apa kamu memanggilku?"kata Sahrul.
"Aku gak tau lagi harus berbuat apa sama istri dan anak kamu, mentang-mentang aku mendukung kalian dan menganggap kalian seperti keluargaku sendiri tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya melakukan sesuatu dengan nama keluargaku. Anakku saja tak pernah melakukan sesuatu menggunakan nama keluarganya, kalian yang bukan siapa-siapa kami malah seenaknya mengunakan nama kami dan menyalah gunakan."kata Papa Irwan bicara panjang lebar.
"Maaf, aku akan memarahi mereka."kata Sahrul.
"Selalu itu yang kamu ucapkan dari dulu, aku masih menghargaimu sebagai teman tapi kalau kamu gak bisa mendidik istri dan putrimu jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas."kata papa Irwan.
"Baik."kata Sahrul.
"Aku gak mau nama baik keluargaku hancur gara-gara kalian, sekarang kamu bisa meninggalkan ruangan ini."kata papa Irwan.
"Aku pergi dulu Wan."kata Sahrul.
__ADS_1
Sahrul meninggalkan ruang kerja Irwan dengan perasaan kesal kepada istri dan anaknya yang selalu bikin ulah. Dia gak enak hati dengan Irwan temannya itu karena irwan selama ini sudah banyak membantunya. Kalau bukan karena Irwan mungkin sekarang dia tak akan bisa seperti ini, Sahrul akan tetap jadi orang yang tak punya.