
"Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kecelakaan Tiara yang merencanakan Shinta dan om Damar? Seandainya kamu bilang mereka gak akan aku biarkan menikmati hidup tenang."kata Anton.
"Aku pikir biarkan saja pasti Shinta akan berubah tapi nyatanya malah semakin parah, dia menikah dengan Jono hanya untuk mendapatkan dukungan."kata Ryan membuat Anton mengerutkan keningnya.
"Dukungan apa maksutmu aku gak ngerti?"kata Anton.
"Kakak ingat gak saat pernikahan Shinta dan Jono itu sengaja dilakukan supaya perusahaan kita aman saat itu ada masalahkan."kata Ryan membuat Anton menganggukan kepalanya.
"Jadi Shinta sudah sejak lama ingin menguasai perusahaan makanya kita diadu domba dulu?"kata Anton.
"Niatnya bukan untuk menguasai perusahaan tapi dia ingin supaya aku bisa jadi miliknya, aku gak mengerti bagaimana bisa dia mempunyai perasaan suka padaku."kata Ryan.
"Itu bukan rasa suka tapi opsesi, oh ya mengenai masalah perusahaan apa yang ingin kamu lakukan?"kata Anton.
"Aku gak tau soalnya aku belum tau masalah apa yang terjadi diperusahaan?"kata Ryan.
"Ini tuan bisa liat dulu masalah perusahaan milik tuan Danny."kata Zein sambil memberikan berkas pada Ryan.
Ryan menerima berkas itu lalu mempelajari berkas yang ditangannya itu, Ryan terkejut karena pengeluaran perusahaan itu lebih besar daripada pemasukan. Ryan memandang Anton lalu menyerahkan berkas itu, dia ingin menyelidiki lebih dalam lagi masalah yang terjadi dengan perusahaan ayahnya itu walaupun bukan dia yang mengerjakan.
"Ada apa?"kata Anton.
"Aku mau kakak menyelidiki lebih dalam masalah ini, aku merasa ada yang janggal. Zein, bukannya perusahaan masih bekerjasama dengan perusahaannya Jono ya?"kata Ryan yang bingung karena didalam laporan itu tak ada data mengenai kerjasama dengan perusahaan milik Jono.
"Masih tuan, tapi yang datang mewakili perusahaan itu kalau ada pertemuan bukan tuan Jono tapi saudaranya."kata Zein.
"Lalu kenapa didata kerjasama ini tak ada nama perusahaan milik Jono?"kata Ryan membuat ketiga pria itu terkejut.
Anton yang masih memegang berkas itu membuka berkas untuk melihat apa benar yang dikatakan oleh Ryan. Anton menhela nafasnya karena disana memang gak ada nama perusahaan Jono membuatnya semakin yakin jika ada yang gak benar dengan laporan itu apalagi dikertas satunya pengeluran lebih banyak dari pemasukan. Anton berlanjak dari duduknya untuk mengambil laptopna setelah itu duduk kembali ke kursinya. Anton mengotak-atik laptop itu dan benar saja disana ada aliran dana keluar yang tak tau kemana perginya.
"Nih, kamu liat Yan. Apa kamu tau rek siapa yang mendapatkan aliran dana itu?"kata Anton sambil memperlihatkan laptopnya pada Ryan.
Ryan mengambil laptop itu untuk melihat apa yang didapat oleh kakaknya disana ada dua slet yang satu pengeluaran uang ke rek tak dikenal dan perusahaan Jono masih bekerjasama dengan perusahaan ayah Danny tapi mereka memperbarui kontrak kerjasama tapi masalahnya kenapa gak tertulis didata. Dari laporan yang disana juga terlihat kalau beberapa bulan ini perusahaan mengalami perkembangan pesat tapi kenapa ayah Danny bilang kalau beberapa bulan ini ada masalah dengan perusahaan.
"Jon, coba kamu liat siapa pemilik rek ini!"kata Ryan memindahkan laptopnya ke depan Jono..
Jono mengambil laptop itu lalu menyalin no rek itu setelah itu entah apa yang dilakukan oleh Dayat yang cepat sekali mengetahui siapa pemilik rek itu. Dayat setelah mendapatkan apa yang dicari oleh kedua tuannya lalu memperlihatkan apa yang dia dapat pada mereka. Zein yang melihat cara kerja Dayat semakin kagum dengan asisten pribadi Ryan dia akan belajar dari Dayat.
"Kamu yakin ini gak salah?"kata Anton memastikan lagi pada Dayat.
"Memang itu pemilik rek yang kalian cari."kata Dayat.
"Kenapa apa tuan tau siapa pemilik rek itu?"kata Zein bertanya pada Anton.
"Kami mengenal dengan baik pemilik rek ini tapi kami gak tau kalau beliau memiliki rek ini yang kami tau beliau selalu mengunakan rek suaminya."kata Ryan.
"Memangnya orang itu siapa kalau saya boleh tau tuan?"kata Zein.
"Dia tanteku istri dari adiknya mama?"kata Anton.
"Tapi kenapa dia bisa sejahat itu melebih om Damar tuan?"kata Dayat yang juga mengira kalau itu adalah istrinya om Damar ternyata bukan.
"Aku juga gak tau, aku akan mencari alasannya kenapa dia melakukan semua ini."kata Anton.
"Kakak caritau dulu apa motifnya setelah itu kita akan memikirkan bagaimana kita selesaikan masalah ini."kata Ryan.
"Baiklah, aku akan secepatnya menyelidikinya."kata Anton.
"Kakak sudah jarang pulang kerumah sekarang?"kata Ryan.
"Aku malas apalagi liat Shinta yang sekarang."kata Anton sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Maaf tuan kalau saya lancang, mungkin nona Shinta seperti ini karena kurang kasih sayang."kata Dayat.
"Dia gak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian dari kami Yat. Dia saja yang gak bersyukur dan parahnya lagi malah nikah dengan adiknya sendiri."kata Anton sambil menghela nafas kecewa.
"Sudahlah kakak toh aku bisa menerimanya."kata Ryan menenangkan Anton.
"Menerima bagaimana? Memangnya aku gak tau kalau kalian beda kamar dan parahnya lagi kamu juga jarang pulang."kata Anton membuat Ryan tersenyum.
"Kakak tau tentang ini juga ternyata."kata Ryan sambil tersenyum.
"Apasih yang gak aku tau tentang kalian. Yan, apa kamu akan mempertahankan pernikahan yang seperti ini?"kata Anton.
"Aku juga ingin lepas kak, tadi aku juga bilang mau menceraikannya pada Shinta dan ayah Danny tapi kakak pasti tau Shinta gak akan membiarkan itu terjadi."kata Ryan.
"Lalu bagaimana pernikahanmu dengan Lydia, kalian masih belum berceraikan? Apa kamu akan kekeh tak akan menceraikannya?"kata Anton.
"Aku gak akan pernah menceraikannya sampai kapanpun, kakak tau siapa perempuan yang sudah membuatku merasa hidup dan dihargai."kata Ryan membuat Anton semakin merasa bersalah pada Ryan.
Seandainya saja dia tau jika Shinta suka dengan Ryan dari dulu sebisa mungkin dia akan mengingatkan Shinta tapi sayangnya dia tau sudah terlambat.
"Maafin kakak ya Yan, kakak gak bisa jadi kakak yang baik buat kalian berdua."kata Anton merasa bersalah membuat Ryan menghela nafasnya.
"Ini bukan salah kakak kok, sudah gak usah salahin diri kakak sendiri. Sekarang fokus saja apa yang ada didepan kita, aku yakin suatu saat Lydia akan kembali padaku. Aku akan memperjuangkannya lagi jika dia kembali."kata Ryan sambil tersenyum.
"Makasih ya Yan. Yan, memangnya kamu gak tau dia dimana?"kata Anton lagi.
"Aku gak tau kak, sudah mencari kemana-mana tapi tak ditemukan jejaknya. Terakhir aku tau dia ada diJogja aku cari disana tapi tak ada juga."kata Ryan.
"Jangan-jangan dia pakai identitas lain makanya kamu gak bisa mencarinya dimana-mana?"kata Anton.
"Mungkin saja itu tuan kenapa kita kepikiran soal ini."kata Dayat yang juga setuju dengan perkataan Anton.
"Apa kamu tau siapa yang dekat dengan Lydia dan punya koneksi dengan orang imigrasi soalnya kalau orangtuanya gak mungkin mereka gak tau dimana keberadaan putrinya?"kata Anton.
"Mungkin saja mereka tau tapi memang sengaja gak ingin tuan Ryan tau. Mereka merahasiakannya karena mereka kecewa dengan tuan Ryan."kata Zein membuat ketiga pria itu mengangguk.
"Yat, kamu caritau kemana saja orangtua Lydia berpergian dan dengan siapa mereka bertemu."kata Ryan.
"Baiklah, ada lagi?"kata Dayat.
"Kalau bukan orangtuanya siapa yang membantunya menutupi identitas, apa mungkin Hendru."kata Ryan.
"Coba saja kamu tanya sama Hendru atau mungkin Aziz bukannya dia tau banyak tentang keadaan Lydia."kata Anton.
"Aku akan tanya sama mereka setelah ini, oh ya kak apa kamu menemukan bukti tentang kecelakaan Tiara dulu?"kata Ryan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, aku menemukan rekaman cctv yang dihapus itu. Ternyata yang dihukum saat itu bukan orang yang melakukan pemotongan rem tapi pria itu yang membantu Tiara tapi malah difitnah."kata Anton.
"Lalu apa yang kamu lakukan dengan pria itu? Apa kakak sudah berusaha untuk membebaskannya dan mengembalikan nama baiknya?"kata Ryan.
"Ini aku masih cari bukti agar bisa membebaskan pria itu sekalian membersihkan nama baiknya. Aku juga akan memberikan dia pekerjaan yang layak setelah keluar dari penjara."kata Anton.
"Baiklah kalau kayak gitu, tapi kakak juga harus fokus dengan perusahaan ayah itu juga lebih penting."kata Ryan.
"Kenapa gak kamu saja yang mengurusi perusahaan itu saja sih?"kata Anton.
"Aku sudah bilang sama ayah untuk gak ikut campur lagi dengan perusahaan itu. Aku pergi dulu kakak nanti kalau ada apa-apa hubungi aku saja."kata Ryan.
"Oke, nanti kalau suda ada kabar akan aku hubungi kamu."kata Anton.
Ryan dan Dayat keluar dari cafe itu untuk segera pulang, saat didalam mobil Ryan memejamkan matanya. Dia sudah gak tau lagi mau mencari Lydia kemana lagi diseluruh indonesia sudah dia ubek-ubek tapi tak dia temukan. Dayat yang melihat Ryan memejamkan matanya hanya menghela nafas sejak Lydia pergi Ryan tak pernah memperhatikan dirinya sendiri bagi Ryan kerja, kerja dan kerja itu yang dia lakukan gak ada yang lain.
__ADS_1
"Yan, kamu gak papa?"kata Dayat.
"Aku gak papa kok hanya saja kepalaku pusing mau istirahat bentar."kata Ryan.
"Bisa gak kamu jangan terlalu memforsil badanmu untuk kerja terus badanmu juga butuh istirahat."kata Dayat mengingatkan.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menepis bayangan Lydia, aku kangen dia, aku ingin memeluknya erat dan tak akan melepasnya lagi jika nanti bertemu."kata Ryan sambil menghela nafas saat mengenang kebersamaan mereka dulu.
"Aku akan menyuruh anak buah kita untuk memperluas pencarian, tapi kayaknya aku akan memfokuskan mereka keluar negeri saja. Kamu ada saran kemana kita mencari Lydia?"kata Dayat membuat Ryan membuka matanya.
"Coba kamu cari ke Itali, Paris atau Korea karena dulu dia pernah bilang ingin ke Korea bersama teman-temannya. Iya, kamu fokuskan ke Korea saja karena itu negara yang ingin dia datangi."kata Ryan akhirnya semangat lagi.
"Akan aku perintahkan anak buah kita kesana. Yan, kamu gak ada niat untuk pulang kerumah yang kamu persiapkan untuk Lydia?"kata Dayat.
"Buat apa aku kesana kalau disana gak ada Lydia, lagian dirumah besar itu kalau hanya aku saja aku pasti kesepian lebih baik tinggal diapartemen."kata Ryan.
"Ya sudah aku antar ke apartemen sekarang gak ada lagi yang mau dikerjakan 'kan?"kata Dayat,
"Sudah gak ada."kata Ryan.
Kedua pria itu tak lagi berbicara mereka fokus dengan kegiatan mereka sendiri-sendiri. Sedangkan diItali Lydia dan Dahlia membawa pulang Raka, mereka hanya berdua saja karena Jono sedang ada pekerjaan. Lydia heran karena jalan yang mereka lalui bukan jalan kerumahnya.
"Li, kita mau kemana ini? Ini bukan jalan kerumah kita loh?"kata Lydia.
"Kita gak akan tinggal dirumah itu lagi, kita akan tinggal dirumah baru."kata Dahlia membuat Lydia terkejut.
"Kenapa kita harus pindah rumah?"kata Lydia yang yakin jika terjadi sesuatu.
"Kita cari tempat yang nyaman buat mendidik Raka, lagian diapartemen gak terlalu nyaman. Nanti saat Raka besar pasti dia gak akan bebas dia bermain jika diapartemen."kata Dahlia.
"Memangnya kita mau dimana?"kata Lydia.
"Nanti kamu juga akan tau."kata Dahlia.
Lydia setelah itu memilih diam karena dia tau jika Dahlia tak akan memberitau kemana mereka akan pergi. Sampai disuatu rumah kecil yang disana ada halaman yang luas membuatnya Lydia tertegun dengan sekali melihat Lydia sudah suka dengan rumah itu apalagi rumah itu juga dekat dengan tempat kerjanya. Kedua perempuan itu turun dari mobil yang mereka naiki. Didepan rumah itu sudah berdiri seorang perempuan paruhbaya yang menunggu kedatangan mereka. Setelah menurunkan barangnya dari mobil taksi dan membayarnya kedua perempuan itu berjalan menuju perempuan paruhbaya.
"Selamat datang nona?"kata bi Masnah.
"Bi, aku kangen sama bibi. Aku gak menyangka jika bibi dibolehin datang kesini sama mama papa."kata Dahlia sambil memeluk erat bibi kesayangannya yang merawatnya sejak kecil.
"Iya, kata tuan sama nyonya terpaksa karena putri satu-satunya ini gak mau kembali ke Jakarta."kata bi Masnah sambil tersenyum.
"Oh ya bi, kenalin ini temanku Lydia dan ini putranya namanya Raka."kata Dahlia.
Lydia dan bi Masnah saling berkenalan, ketiga perempuan itu masuk kedalam rumah sambil berbicara satu sama lain. Apalagi Dahlia yang sangat merindukan bibinya itu.
"Bi, maaf ya gara-gara aku bibi harus datang kesini."kata Lydia yang gak enak hati.
"Memangnya nona salah apa?"kata Bi Masnah.
"Gara-gara aku nona bibi yang paling bawel ini gak mau kembali ke Jakarta."kata Lydia.
"Gak papa kok non, lagian bibi senang bisa keluar negeri gratis."kata bi Masnah.
"Bi, kami butuh bantuan bibi."kata Dahlia.
"Memangnya kalian butuh bantuan apa? Kalau soal menjaga rumah dan memasak makanan itu sudah jadi tugas bibi."kata bi Masnah.
"Kalau kami sedang kerja tolong jaga Raka,bi."kata Dahlia membuat perempuan itu tersenyum.
"Oalah kalau soal itu serahkan semuanya pada bibi."kata bi Masnah.
__ADS_1