
Ryan yang selesai mandi mengajak Lydia untuk langsung pulang ke rumahnya. Ryan terkejut saat melihat semua berkas yang ada diatas mejanya dimasukkan semua oleh Lydia kedalam map yang mau dia bawa begitu juga tablet.
"Kenapa kamu bawa semua berkas itu?"kata Ryan.
"Memangnya gak boleh aku bawa semuanya? Lagian siapa tau aku bisa membantu kamu menyelesaikan pekerjaan ini."kata Lydia.
"Kamu yakin mau membantuku? Bukannya kamu tadi bilang kalau mau bermain sama Raka?"kata Ryan.
"Main sama Raka juga 'kan bisa sekalian ngerjain ini toh dirumah bukan hanya aku yang mau main sama Raka pasti aku akan rebutan sama Dahlia."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Baiklah, ayo aku antar pulang mobilnya juga sudah ada didepan."kata Ryan.
Saat mereka berjalan keluar dari kamar itu bertepatan dengan Dayat yang juga keluar dari ruangan itu. Mereka bertiga masuk kedalam lift, saat didalam lift Ryan mengajak Dayat berbicara dan Lydia hanya mendengarkannya karena Lydia tak mau ikut campur.
"Kamu masih ingat apa yang kita rencanakan kemarin kan?"kata Ryan.
"Masih tuan apa ada perubahan?"kata Dayat.
"Iya, diperusahan kita ubah rencana."kata Ryan membuat Dayat terkejut.
"Tapi tuan kenapa diubah lagi? Apa ada masalah?"kata Dayat.
"Iya, tadi kak Anton menghubungiku nanti kalau kamu belum sampai Jakarta ada Abi yang akan bantu mereka."kata Ryan membuat Dayat bernafas lega.
"Syukurlah kalau begitu, tuan kalau boleh saya tau siapa orang yang sudah kerjasama dengan tuan Damar?"kata Dayat.
"Pak Darso."kata Ryan membuat Dayat terkejut.
Dayat merasa bersalah pada Ryan karena tak menyadari lebih awal jika Darso ada kaitannya dengan tuan Damar.
"Maafkan saya yang ceroboh."kata Dayat.
"Ini bukan salahmu lagian kamu sudah banyak mengurus masalah lain jadi gak bisa disalahkan. Tapi aku gak tau apa yang dilakukan Shinta selama mengelola perusahaan, sampai para penjahat itu bebas mengambil uang perusahaan."kata Ryan.
__ADS_1
"Bukannya kamu tau kalau dia menguasai perusahaan karena dia ingin kamu."kata Lydia membuat Ryan dan Dayat memandang kearah Lydia.
"Kenapa memandangku seperti itu benarkan apa yang aku katakan?"kata Lydia.
"Kamu punya pikiran itu darimana?"kata Ryan.
"Pikir saja sendiri."kata Lydia.
Dayat yang mendengar perkataan Lydia hanya tersenyum sedangkan Ryan malah menghela nafasnya. Dia tau apa yang dimaksut oleh Lydia, Ryan memeluk pinggang istrinya lalu tersenyum. Hanya kata "maaf" yang keluar dari mulut Ryan. Mereka mengakhiri pembicaraan saat lift sudah sampai lantai bawah dan terbuka. Mereka berbicara sebentar setelah itu Dayat pergi lebih dulu barulah Ryan dan Lydia naik kedalam mobil yang disewa oleh Ryan. Ryan mengemudi mobil itu sendiri membuat Lydia memandang kearah suaminya.
"Memangnya kakak tau daerah sini?"kata Lydia.
"Aku tau karena aku dulu pernah tinggal disini, sekarang kamu katakan dimana alamat rumahmu pasti aku dapat menemukannya?"kata Ryan.
Lydia mengatakan dimana dia tinggal dan membiarkan Ryan mencari jalan menuju rumah Lydia sendiri. Ryan tak butuh waktu lama sudah sampai dirumah Lydia membuat Lydia kaget lalu memandang kearah Ryan.
"Kenapa memandangku seperti itu?"kata Ryan.
"Kakak benar pernah tinggal disini?"kata Lydia.
"Iya, ya sudah ayo masuk katanya mau bertemu Raka?"kata Lydia.
Mereka berdua turun dari mobil, saat masuk kedalam rumah terdengar suara tangis Raka. Lydia meletakkan berkasnya setelah itu menarik tangan Ryan menuju kamar mandi. Awalnya Ryan bingung tapi setelah melihat Lydia cuci tangan barulah dia paham lalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Lydia. Setelah selesai mencuci tangan mereka berdua jalan keluar kamar mandi untuk menghampiri Raka dan Dahlia. Dahlia yang melihat Lydia datang langsung saja menyerahkan Raka pada mommynya. Raka setelah pindah kegendongan Lydia langsung terdiam lalu mencari dada Lydia membuat Lydia ttersenyum.
"Putranya mommy lapar ya? Tadi gak dikasih minum sama aunty ya?"kata Lydia sambil memandang Dahlia jahil.
"Enak saja..."kata Dahlia tak jadi meneruskan perkataannya karena melihat Ryan ada disebelah Lydia.
Ryan yang tau kalau Dahlia memandangnya langsung saja mengenalkan dirinya pada Dahlia dan mak Masnah jika dia suami Lydia dan juga ayah kandung Raka. Mereka berbicara tapi yang paling sering Ryan yang bertanya tentang Raka membuat Lydia setelah selesai menyusui Raka menyerahkan putranya itu pada Ryan. Ryan mengendong Raka dengan luwesnya membuat Dahlia tak percaya melihat itu dulu saja Jono pertama kali mengendong Raka ketakutan tapi saat melihat Ryan kenapa pria itu tak canggung sama sekali.
"Apa kamu sering gendong bayi?"kata Dahlia bertanya pada Ryan yang sedang bermain dengan putranya.
"Iya, aku sering gendong anak temanku."kata Ryan sambil bermain dengan Raka
__ADS_1
Raka yang berada digendongan Ryan juga tersenyum saat ayahnya mengajaknya bercanda. Lydia yang melihat itu tersenyum, Lydia tau pasti anak yang sering digendong Ryan anak kedua dari Hendru.
"Kalian sudah sarapan belum?"kata mak Masnah.
"Belum mak."kata Lydia.
"Kalau gitu biar mak masakkan buat sarapan dulu."kata mak Masnah.
"Ayo mak aku bantuin."kata Lydia.
"Kamu disini saja biar aku yang bantuin mak Masnah masak."kata Dahlia.
Sepeninggalan kedua perempuan itu ke dapur Lydia bangun untuk mengambil map yang dia bawa tadi. Ryan tersenyum karena putranya sudah hampir tertidur lagi.
"Apa gak papa jam segini dia tidur?"kata Ryan.
"Gak papa bayi seumuran dia memang perlu tidur lebih lama."kata Lydia.
"Makasih sudah mau melahirkan putraku."kata Ryan sambil memandang kearah Lydia.
"Dia juga putraku, bukan putramu saja. Ini mana yang harus diperiksa dulu?"kata Lydia sambil mengambil berkas yang ada didalam map.
"Kamu lihat bulannya agar tau mana yang lebih dulu halus dikerjakan."kata Ryan.
Lydia melihat berkas dan meneliti mana laporan keuangan itu dibulan yang lebih dulu dia periksa. Lydia lebih dulu menata berkas itu sesuai dengan bulannya agar mudah dia memerikas pekerjaan. Ryan yang melihat Lydia fokus dengan berkas itu hanya menghela nafasnya.
"Sayang, Raka sudah tidur mau ditidurkan dimana ini?"kata Ryan.
"Bentar aku ambil kasusnya."kata Lydia.
Lydia mengambil kasur Raka menatanya di sofa lalu Ryan pelan-pelan menidurkan putranya itu dikasur kecil yang disediakan oleh Lydia. Ryan mengamati putrinya itu dengan senyum, putranya itu benar-benar mirip seperti dirinya.
"Dia mirip kayak daddykan?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
__ADS_1
"Anak aku ya harus mirip aku tapi kalau soal perempuan semoga dia gak mirip aku."kata Ryan.
"Aku akan ajari putraku untuk jadi pria sejati seperti daddynya."kata Lydia membuat Ryan memandang kearah istrinya itu.