
"Ish apaan sih sudah ayo kita keluar."kata Lydia.
"Baik nyonya Ryan."kata Ryan membuat Lydia menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Tadi kamu bilang apa coba kamu katakan lagi?"kata Naya.
"Nyonya Ryan."kata Ryan sambil mendekat kearah Lydia.
"Memangnya aku ini istri kamu apa?"kata Lydia.
"Kalau kamu mau kita bisa menikah saat ini juga"kata Ryan.
"Ih ogah aku gak mau menikah sama pria yang sudah punya hubungan dengan perempuan lain tapi masih saja gatal."kata Lydia.
"Memangnya siapa kekasihku kalau aku boleh tau?"kata Ryan.
"Siapa lagi kalau bukan putri satu-satunya dari perusahaan Karya grup."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Kenapa kamu cemburu kalau aku dekat dengannya?"kata Ryan.
"Gak buat apa aku cemburu sama dia, lagian kamu siapa Rayyan lebih tanpa daripada kamu?"kata Lydia yang membuat Ryan mengeparkan tangannya.
"Aku akan pastikan kamu akan menjadi milikku bukan Rayyan itu."kata Ryan setelah berkata begitu dia mninggalkan Lydia yang masih tertegun sendirian disana.
Lydia tersadar dari keterkejutannya saat Ryan berteriak ditangga agar Lydia menyusulnya. Lydia berjalan cepat untuk menyusul Ryan. Sampai dibawah orangtua Lydia tersenyum-senyum melihat Ryan dan Lydia datang kesana.
"Mama sama papa ngapain senyum-senyum kayak gitu?"kata Lydia sambil duduk didepan mamanya.
"Memangnya kami gak boleh senyum apa?"kata mama Intan.
"Gak karena senyum kalian itu bukan senyum tulus tapi mengejek."kata Lydia.
"Ya ampun tega banget kamu fitnah kami didepan Ryan."kata mama Intan dengan muka memerasanya.
"Siapa yang fitnah memang itu kenyataannya."kata Lydia gak mau kalah.
"Sudah sudah ayo makan kasin nak Ryan melihat perdebatan kalian memangnya kalian gak malu apa?"kata papa Irwan.
"Gak papa kok om, saya malah senang karena jarang sekali saya melihat mama sama putrinya berdebat biasanya mereka akan berbagi barang satu sama lain bukan berdebat kayak gini. Ini pemandangan yang sangat langka bagi saya."kata Ryan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
"Tu dengar pa, Ryan saja bilang kalau aku sama mama aneh gak kayak anak sama mamanya."kata Lydia.
"Kamu ini Ryan bilang gitu malah senang, lagian benar sih apa kata Ryan kalau kita itu gak kayak mama sama anak."kata mama Intan.
"Hahaha baiklah baiklah kalau kayak gitu mari kita makan dulu."kata papa Irwan.
Mereka berempat makan malam sambil bercanda membuat suasana rumah itu menjadi rame gak kayak biasanya karena biasanya yang makan dimeja makan hanya mama Intan jika Lydia dan papa Irwan sibuk kerja. Mereka selesai makan malam berlanjut bercandanya diruang keluarga.
__ADS_1
"Yan, kamu masih betah bekerja diperusahaan Hendru?"kata papa Irwan berharap jika nanti Ryan menikah Ryan bisa membantu Lydia untuk mengelola perusahaannya.
"Masih om memangnya kenapa kok om tanya begitu?"kata Ryan.
"Om, mau kamu bekerja diperusahaan om bantuin Lydia buat ngelola perusahaan. Om mau pensiun menikmati waktu berdua sama tantemu."kata papa Irwan.
"Pa, aku bisa kok ngelola perusahaan itu sendiri kalau papa mau pensiun."kata Lydia.
"Papa tau kamu bisa sayang tapi kalau ada Ryan papa lebih tenang apalagi dia pasti sudah berpengalaman."kata papa Irwan.
"Orang dia gak mau buat apa juga dipaksa."kata Lydia membuat Ryan mengelengkan kepalanya karena Lydia cepat sekali mengartikan sesuatu.
"Memangnya tadi aku bilang gak mau apa?"kata Ryan.
"Orang kamu gak jawab itu tandanya kamu gak mau."kata Lydia membuat Ryan malah mencubit hidung Lydia.
"Ih sakit tau gak."kata Lydia.
"Orang dipegang aja bukannya dicubit beneran masak sakit?"kata Ryan.
"Yan pura-pura itu padahal dalam hatinya sudah berbunga-bunga."kata mama Intan.
"Ish mama tu kalau ngomong suka seenaknya sendiri."kata Lydia.
"Lah tapi apa yang mama omonginkan semua benar."kata mama Intan.
"Sudah sudah kalian itu kalau berdebat pasti akan sampai besok. Bagaimana Yan apa kamu mau membantu Lydia buat mengelola perusahaan?"kata papa Irwan.
"Ly... Lydia itu nak Ryan tanya itu."kata papa Irwan.
"Iya memangnya tadi tanya apa?"kata Lydia.
"Apa kamu mau kalau nak Ryan membantumu untuk mengurus perusahaan?"kata papa Irwan.
"Silahkan saja kalau dia mau, asal dia gak bilang kalau kita menganggu waktunya."kata Lydia.
"Gak kok aku malah senang kalau bisa membantu nona yang cantik ini."kata Ryan.
"Syukur deh, kalau begitu kamu harus siap kalau aku sewaktu-waktu hubungi kamu."kata Lydia.
"Baiklah tapi kalau meeting aku gak janji untuk mengangkat panggilan itu."kata Ryan.
"Ish nyeberin sekali, kita saja gak tau kapan akan ada masalah."kata Lydia membuat Ryan dan kedua orangtua Lydia tersenyum.
"Oh ya Yan, kamu bisa gak minggu depan ikut nemenai Lydia buat menginap dipuncak?"kata papa Irwan.
"Pa,ngapain ngajak dia sih bukannya papa sama mama juga ikut ngapain minta dia ikut?"kata Lydia.
__ADS_1
"Sayang kamu ini gimana sih bukannya tadi nak Ryan bilang kalau dia mau bantu kamu diperusahaan jadi gak ada salahnya dong papa meminta Ryan ikut."kata mama Intan padahal ada sesuatu yang akan dia lakukan dengan besannya tapi Ryan dan Lydia gak ada yang tau.
"Terserah kalianlah."kata Lydia.
"Aku boleh ikut gak nih?"kata Ryan bertanya pada Lydia.
"Terserahmu kalau kamu gak sibuk ikut juga gak papa."kata Lydia.
"Aku sih sebenarnya mau ikut tapi takutnya ada orang yang gak ikhlas kalau aku ikut."kata Ryan.
"Kamu mengejekku?"kata lydia memandagn kearah Ryan dengan marah.
"Aku gak bermaksut begitu nona, aku hanya gak mau saja nanti ada yang gak suka aku ikut?"kata Ryan.
"Kalau mau ikut ikut saja gitu saja kok susah banget sih."kata Lydia.
"Baiklah saya ikut om, memangnya jam berapa nanti berangkatnya?"kata Ryan.
"Sore habis kerja kita berangkat biar nanti sampai puncak bisa langsung istirahat dan besoknya bisa melakukan kegiatan."kata papa Irwan.
"Baik om kabari saja nanti, kalau begitu saya permisi pulang dulu ini sudah malam soalnya."kata Ryan.
"Ini belum malam banget lo Yan, memangnya kamu mau kemana?"kata mama Intan.
"Saya mau langsung pulang tan ada pekerjaan yang belum saya selesaikan."kata Ryan.
"Pulang atau mau bertemu seseorang?"kata Lydia yang masih bisa didengar oleh Ryan membuat pria itu tersenyum.
"Saya permisi pulang dulu om tante."kata Ryan.
"Ly anterin nak Ryan ke depan."kata mama Intan.
"Iya."kata Lydia dengan malas dia berdiri untuk mengantar Ryan ke depan.
"Aku pulang dulu."kata Ryan.
"Iya hati-hati."kata Lydia.
"Jangan lupa beresin kamar dulu sebelum tidur. Nanti kalau aku kemari lagi gak usah dandan pakai kayak biasanya kamu dirumah udah cantik kok."kata Ryan.
"Oke."kata Lydia singkat.
"Satu lagi aku langsung pulang ke apartemenku gak kemana-mana kok."kata Ryan.
"Apa perduliku?"kata Lydia.
"Nanti sampai rumah aku hubungi kamu, aku pulang dulu."kata Ryan.
__ADS_1
"Iya sana sudah pergi daritadi bilang mau pulang gak pulang-pulang."kata Lydia.
Ryan tersenyum lalu dia masuk ke dalam mobilnnya. Lydia memegang dadanya saat Ryan sudah tak terlihat lagi. Lydia tak bisa membohongi perasaannya jika hari ini dia sangat bahagia apalagi kalau sampai Ryan benar-benar mau membantunya. Walaupun Lydia tak bisa memiliki Ryan tapi seenggaknya dia bisa dekat dengan pria itu sudah cukup kok.