Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia meminta pendapat orangtuanya


__ADS_3

Mama Intan mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya. Dia mau suaminya itu segera pulang karena putrinya sekarang berada dirumah. Sejak Lydia memutuskan untuk tinggal dikosan mereka bertiga jarang sekali bisa berkumpul. Tak butuh waktu lama papa Irwan sudah mengangkat panggilan dari istrinya itu.


[Hallo Asaamualaikum ma, ada apa tumben jam segini telepon kangen sama papa ya?]


[Walaikumsalam, ih papa nih sudah tuan juga, ini putri kamu ada dirumah. Papa sibuk gak, kalau gak sibuk pulang bisa gak?]


[Loh Lydia gak kerja ma?]


[Kalau dia kerja gak mungkin dia disini sekarang pa. Papa bisa pulang gak tadi aku ajak ke kantor dia gak mau takut ketahuan sama Rima.]


[Ya sudah papa tanya sama sekertaris papa dulu, kalau sudah gak ada yang harus dikerjakan papa akan segera pulang.]


[Ya sudah aku tunggu kabar baik dari papa.]


[Papa tutup dulu panggilannya.]


Lydia yang gak sabar apa papanya bisa apa pulang langsung bertanya pada mamanya saat beliau mengakhiri panggilannya. Dia benar-benar merindukan kebersamaan mereka bertiga, dulu mereka akan selalu meluangkan waktu untuk duduk bersama walau hanya sebentar untuk menanyakan kabar dan kegiatan mereka masing-masing.


"Ma, bagaimana papa bisa pulangkan?"kata Lydia bertanya pada mamanya.


"Papa kamu masih mau tanya sama sekertarisnya apa bisa dia ada pekerjaan lagi apa gak?"kata mama Intan.


"Ih, papa tu pemilik perusahaan tapi mau pulang aja harus tanya dulu sama sekertarisnya."kata Lydia.


"Kamu 'kan tau sendiri pekerjaan papa kamu banyak apalagi tak ada yang bisa membantunya."kata mama Intan.


"Tu om Sahrul memang gak bisa bantu, masak mau enaknya saja?"kata Lydia yang hanya dijawab heraan nafas oleh mama Intan.


"Papa kamu dulu pernah memberikan kepercayaannya sama om Sahrul tapi bukannya membantu tapi malah bikin masalah. Apalagi sikap istri dan putrinya itu kamu tau sendirikan?"kata mama Intan.


"Ma, kenapa orang kayak gitu masih dipertahankan oleh papa?"kata Lydia.


"Karena om Sahrul yang selalu menemaninya disaat dia dalam keadaan susah hingga perusahaan papa kamu semakin berkembang dengan kata lain papa kamu berhutang budi padanya."kata mama Intan.


"Tapi aku liat om Sahrul menghormati papa tapi kenapa istri dan anaknya bikin masalah sih ma?"kata Lydia yang tak mengerti kenapa Rima bisa seenaknya memakai nama besar keluarganya untuk mendapatkan perhatian dan rasa segan dari orang lain.


"Kamu tau Ly, dulu tante Tina itu adalah anak orang yang tak punya mungkin karena itu dia yang menjadi kaya setelah menikah dengan om Sahrul langsung bersikap seperti itu."kata mama Intan.


"Tapi kok mama gak seperti itu?"kata Lydia yang tau jika mamanya dulu juga berasal dari anak orang tak punya.


"Mama sudah terbiasa hidup susah."kata mama Intan.

__ADS_1


Saat mereka mau berbicara lagi terdengar pintu kamar dibuka, mereka berdua langsung saling pandang. Lydia yang tau kalau itu papanya langsung saja berlari untuk memeluk papanya.


"Pa, aku kangen papa."kata Lydia yang sudah berada dalam pelukan papanya.


"Kalau kangen kenapa baru sekarang pulang?"kata papa Irwan.


"Papa tau sendiri kalau aku sibuk kerja dan kuliah."kata Lydia.


"Masak papa rasa kamu malah sibuk pacaran."kata papa Irwan.


"Siapa yang pacaran sih pa, lagian dia sibuk diRumah Sakit sekarang."kata Lydia.


"Oh jadi karena dia sibuk maka kamu pulang kesini?"kata papa Irwan.


"Bukan itu pa, dia pulang karena mau minta pendapat kita."kata mama Intan.


"Memang mau minta pendapat apa?"kata papa Irwan.


"Sudah sini duduk dulu."kata mama Intan.


"Katakan mau minta pendapat apa? Jangan bikin papa penasaran?"kata papa Irwan.


"Beneran itu sayang? Bukannya itu bagus berarti Rayyan serius sama kamu, lalu apa yang jadi masalahnya?"kata papa Irwan yang senang karena Rayyan serius dengan putrinya.


"Dia mau mengaku tentang identitasnya."kata mama Intan.


"Gak papa gak akan papa izinin, kamu membuka identitas kamu."kata papa Irwan.


"Memangnya kenapa pa?"kata Lydia bingung.


"Papa mau tau bagaimana sikap calon mertua kamu, jika mereka bisa terima kamu apa adanya barulah kamu bisa membuka identitas kamu."kata papa Irwan.


"Papa kamu benar, mama gak mau kalau punya besan yang hanya memandang dari kekayaan saja."kata mama Intan.


"Baiklah aku akan turuti apa kata kalian."kata Lydia.


"Kapan Rayyan akan mengajakmu ketemu orangtuanya?"kata papa Irwan.


"Aku belum tau pa, tadi Rayyan akan kasih kabar lagi setelah bicara dengan orangtuanya."kata Lydia.


Mereka bertiga seharian ini berbicara satu sama lain meluahkan kerinduan mereka yang sudah lama tak bertemu. Walaupun papa Irwan selalu menyuruh orang untuk mengawasi putrinya tapi tetap saja dia merasa khawatir karena orang suruhannya itu tak bisa terus mengawasi putrinya jika berada didalam hanya saat Lydia diluar saja anak buahnya bisa mengawasi.

__ADS_1


Lydia hari ini pulang malam dan didepan kosannya ternyata Sandra sedang duduk menunggunya. Lydia langsung menghampiri Sandra yang sedang terdiam menunggunya.


"Kamu gak kerja San?"tanya Lydia yang sudah berada didepan Sandra.


"Aku sedang menunggu kamu lama sekali, kamu kemana sih?"kata Sandra.


"Tadi aku bertemu dengan kak Rayyan sebentar setelah itu pergi ke rumah tanteku, kami lama mengobrol hingga tak ingat waktu."kata Lydia.


"Ngapain kamu bertemu dengan kak Rayyan?"kata Sandra.


"Dia bilang mau mengenalkanku pada orangtuanya."kata Lydia membuat Sandra terkejut.


"Kamu yakin? Kapan dia akan mengenalkkanmu pada mereka?"kata Sandra yang gak percaya jika kak Rayyan benar-benar serius.


Saat Lydia mau menjawab pertanyaan dari Sandra, ponselnya Lydia berbunyi. Dia langsung saja mengambil ponsel itu takutnya yang menghubunginya adalah mamanya karena tadi Lydia berjanji akan menghubungi setelah sampai kosan. Ternyata itu bukan mamanya tapi kak Rayyan, Lydia langsung mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualikum kak]


Sandra yang mendengar kalau Lydia memanggil kak, dia tau kalau yag menelponnya adalah Rayyan. Sandra memutuskan untuk diam tapi tetap mengikuti Lydia masuk ke dalam kamar Lydia. Sandra membawa makanan yang dia bawa dari cafe. Sejak mereka kenal dengan Azizi setiap kali Aziz berkunjung atau makan disitu dia akan selalu memesankan makanan untuk mereka bertiga tadi yang satu bungkus sudah dia berikan ke Ita saat dia pulang mampir dulu ke tempat kerjanya.


[Walaikumsalam kamu sudah tidur?]


[Belum kak, ini aku sedang berbicara dengan Sandra dikamar ada apa?]


[Aku cuma kasih tau kamu kalau malam minggu depan, aku akan jemput kamu untuk makan malam dirumahku.]


[Kak kok cepat sekali.]


[Kan masih ada waktu berapa hari buat kamu mempersiapkan diri.]


[Iya kak, kamu sudah pulang kak? Kok bisa telepon?]


[Aku masih diRumah Sakit ini sedang istirahat, makanya bisa mengabari kamu?]


[Ya sudah kakak lanjut istirahat saja, aku mau bicara sama Sandra kasian dia aku cuekin terus.]


[Ya sudah kalau kayak gitu, salam buat Sandra. Jangan tidur terlalu malam besok kuliahkan?]


[Iya kak, kakak juga harus jaga diri baik-baik.]


Lydia setelah mematikan panggilan dengan Rayyan langsung saja berbicara dengan Sandra. Mereka berdua setelah bercerita langsung makan makanan yang dibawa oleh Sandra pemberian dari Aziz. Setelah makan makanan itu Sandra kembali ke kamar kosnya sedangkan Lydia langsung ganti baju dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2